Showing posts with label Buku Menarik. Show all posts
Showing posts with label Buku Menarik. Show all posts

Saturday, December 29, 2007

RAHASIA DNA

DNA: BANK DATA KEHIDUPAN


Perkembangan sains memperjelas bahwa makhluk hidup memiliki struktur yang luar biasa kompleks dan suatu keteraturan yang terlalu sempurna untuk muncul melalui peristiwa kebetulan. Ini membuktikan fakta bahwa makhluk hidup diciptakan oleh Pencipta yang Mahakuasa yang memiliki pengetahuan tanpa banding. Baru-baru ini, misalnya, dengan tersingkapnya struktur sempurna dalam gen manusia yang menjadi isu yang menonjol karena Projek Genom, penciptaan yang unik dari Tuhan telah terungkap sekali lagi untuk kita semua.
Dari AS hingga Cina, ilmuwan dari seluruh penjuru dunia telah memberikan upaya terbaik mereka untuk menguraikan 3 miliar huruf kimiawi di dalam DNA dan menentukan urutannya. Sebagai hasilnya, 85% dari data yang terkandung dalam DNA manusia dapat diurutkan dengan tepat. Walaupun ini merupakan perkembangan yang sangat menarik dan penting, sebagaimana dinyatakan Dr. Francis Collins, pimpinan Projek Genom Manusia, sebegitu jauh ini baru langkah pertama dalam upaya menguraikan informasi di dalam DNA.
Agar dapat memahami mengapa penguraian informasi ini berjalan begitu lama, kita harus memahami sifat dari informasi yang tersimpan di dalam DNA.


Dunia DNA yang Penuh Rahasia

Dalam pembuatan atau pengelolaan produk atau pabrik teknologi, sarana yang paling banyak digunakan adalah pengalaman dan akumulasi pengetahuan yang diperoleh manusia selama berabad-abad. Pengetahuan dan pengalaman penting yang dibutuhkan untuk membangun tubuh manusia, ‘pabrik’ paling maju dan canggih di muka bumi, tersimpan di dalam DNA. Poin penting untuk diperhatikan di sini adalah bahwa DNA telah senantiasa ada semenjak manusia pertama dengan semua kesempurnaan dan kompleksitasnya. Sebagaimana dapat dibaca pada baris-baris di bawah, Anda juga akan melihat dengan jelas betapa tidak masuk akalnya untuk mengklaim, sebagaimana para evolusionis, bahwa molekul seperti itu, dengan semua struktur dan sifatnya yang menakjubkan, berasal mula dari peristiwa kebetulan.
DNA terlindung dengan baiknya di dalam nukleus (inti sel) yang berada di pusat sel. Jika diingat bahwa sel-sel manusia – terhitung lebih dari 100 miliar – memiliki diameter rata-rata 10 mikron (satu mikron adalah 10-6 m.), kecilnya wilayah yang dibicarakan akan dipahami lebih baik. Molekul yang menakjubkan ini merupakan bukti nyata dari kesempurnaan dan sifat luar biasa dari seni penciptaan oleh Allah. Begitu luar biasanya sehingga suatu cabang sains khusus dibuat untuk mendalami rahasia molekul ini., yang masih banyak tersembunyi. Nama cabang sains ini adalah “Genetika”. Dikenal sebagai sains abad ke-21, genetika masih dalam fase merangkak, sejauh berbicara tentang menyelesaikan misteri DNA, walaupun semua sarana teknologi telah digunakan.


Kehidupan di Dalam Nukleus

Jika kita membandingkan tubuh manusia dengan sebuah bangunan, perencanaan dan projek lengkapnya hingga ke detail terhalus ada di DNA, yang terletak di inti setiap sel. Semua tahap perkembangan manusia dalam rahim ibu dan setelah kelahiran berlangsung dalam kerangka program yang telah ditentukan sebelumnya. Penataan sempurna dalam perkembangan manusia ini dinyatakan sebagai berikut dalam Al Quran:
“Apakah .. (QS. Al Qiyamah, 36-38)
Tepat pada fase di mana sel telur yang baru saja dibuahi di dalam rahim ibu, semua karakteristik yang akan kita miliki di kemudian hari telah ditentukan dalam takdir tertentu dan dikodekan di dalam DNA kita dalam suatu bentuk yang teratur. Semua ciri kita, seperti tinggi badan, warna kulit, golongan darah, bentuk wajah yang akan kita miliki ketika berumur tiga puluhan dikodekan di dalam inti sel awal kita tiga puluh tahun dan sembilan bulan sebelumnya, sejak saat pembuahan.
Bentuk informasi di dalam DNA tidak hanya menentukan oleh sifat-sifat fisik yang di atas; ia juga mengendalikan ribuan operasi dan sistem lainnya yang berjalan di dalam sel dan tubuh. Misalnya, bahkan tinggi rendah atau normalnya tekanan darah seseorang tergantung pada informasi yang tersimpan di dalam DNA.


Ensiklopedia yang Amat Besar di Dalam Sel Manusia

Informasi yang tersimpan di dalam DNA sedikit pun tidak boleh dianggap enteng. Walaupun sukar untuk dipercaya, dalam sebuah molekul DNA tunggal milik manusia, terdapat cukup informasi untuk mengisi tepat sejuta halaman ensiklopedia. Coba pikirkan; tepat 1000.000 halaman ensiklopedia…. inti dari setiap sel mengandung sebanyak itu informasi, yang digunakan untuk mengendalikan fungsi tubuh manusia. Sebagai analogi, kita dapat katakan bahwa bahkan Ensiklopedia Britannica yang banyaknya 23 jilid, salah satu ensiklopedia terbesar di dunia, memiliki 25.000 halaman. Jadi, di hadapan kita terbentang sebuah fakta yang menakjubkan. Di dalam sebuah molekul yang ditemukan di dalam inti sel, yang jauh lebih kecil dari sel berukuran mikroskopis tempatnya berada, terdapat gudang penyimpanan data yang 40 kali lebih besar daripada ensiklopedia terbesar di dunia yang menyimpang jutaan pokok informasi. Ini sama dengan 920 jilid ensiklopedia besar yang unik dan tidak ada bandingannya di dunia. Riset menemukan bahwa ensiklopedia besar ini diperkirakan mengandung 5 miliar potongan informasi yang berbeda. Jika satu potong informasi yang ada di dalam gen manusia akan dibaca setiap detik, tanpa henti, sepanjang waktu, akan dibutuhkan 100 tahun sebelum proses selesai. Jika kita bayangkan bahwa informasi di dalam DNA dijadikan bentuk buku, lalu buku-buku ini ditumpuk, maka tingginya akan mencapai 70 meter.
Mari kita ulangi kembali dua kata yang barusan disebutkan di atas; ‘menyimpan informasi’….
Kita harus berhenti di sini dan memikirkan dua kata yang kita ucapkan dengan begitu mudahnya. Mudah untuk mengatakan bahwa sebuah sel mengandung miliaran potongan informasi. Namun, ini sama sekali bukan detail yang dapat begitu saja di disingkirkan sebagai sebuah ucapan. Ini karena yang kita bicarakan di sini bukanlah sebuah komputer atau perpustakaan, tetapi hanya sebuah kubus yang 100 kali lebih kecil dari satu millimeter, yang hanya terbuat dari protein, lemak, dan molekul air. Merupakan keajaiban yang luar biasa mencengangkan bagi sepotong teramat kecil daging untuk mengandung dan menyimpan sekeping saja – apalagi jutaan – informasi.
Di era modern, manusia menggunakan komputer untuk menyimpan informasi. Teknologi komputer dewasa ini dianggap sebagai teknologi tercanggih yang membuka jalan menuju semua teknologi lainnya. Jumlah informasi yang 20 tahun silam mungkin disimpan dalam sebuah komputer seukuran kamar, hari ini dapat disimpan dalam “mikrocip” kecil, namun begitu teknologi mutakhir yang dihasilkan oleh kecerdasan manusia setelah berabad-abad akumulasi teknologi dan bertahun-tahun kerja keras masih jauh dari mencapai kapasitas penyimpanan informasi milik sebuah inti sel. Kami kira, perbandingan berikut akan memadai untuk memberi gambaran kecilnya DNA, yang memiliki kapasitas yang demikian hebat.
Informasi yang dibutuhkan untuk menspesifikasi desain dari semua spesies organisme yang pernah ada di planet ini, jumlah yang menurut G.G. Simpson adalah sekitar satu miliar, dapat disimpan dalam satu sendok the dan masih akan cukup tempat bagi semua informasi dalam seluruh buku yang pernah ditulis.1
Bagaimana sebuah rantai yang kasat mata, terbuat dari atom-atom yang tersusun bersisian, dengan diameter seukuran sepersemiliar millimeter, memiliki memori dan kapasitas informasi sedemikian? Dan juga menambahkan hal berikut kepada pertanyaan: Kalau masing-masing dari 100 miliar sel di dalam tubuh Anda hapal sejuta halaman informasi, berapa halaman ensiklopedia yang Anda dapat ingat, sebagai seorang manusia yang cerdas dan berkesadaran, sepanjang hidup anda?


Kearifan Dalam Sel

Dalam hal ini, Anda harus mengakui bahwa sel mana pun pada lambung atau telinga anda jauh lebih terpelajar dari Anda, dan karena sel itu menggunakan informasi ini dengan cara yang paling benar dan sempurna, ia lebih arif dari Anda.
Lalu, apa yang menjadi sumber dari kearifan ini? Bagaimana mungkin setiap dari 100 miliar sel dalam tubuh anda dapat memiliki kearifan yang begitu luar biasa? Mereka semua, bagaimanapun, adalah tumpukan atom, dan tidak berkesadaran. Ambillah atom-atom dari semua unsur, gabungkan mereka dalam bentuk dan jumlah yang berbeda, hasilkan molekul-molekul yang berbeda, tetap, Anda tidak akan pernah bisa menghasilkan kearifan. Tidak masalah apakah molekul-molekul ini kecil atau besar, sederhana atau kompleks. Anda tidak akan pernah bisa menghasilkan sebuah pikiran yang secara sadar akan mengorganisir suatu proses dan menyelesaikannya.
Lalu bagaimana mungkin DNA, yang terbangun dari susunan sejumlah tertentu atom-atom yang tak berkesadaran dalam rangkaian tertentu, dan enzim-enzim, yang bekerja secara harmonis, mampu menyelesaikan banyak pekerjaan dan mengorganisir operasi yang rumit dan bermacam-macam di dalam sel secara sempurna dan lengkap? Jawabannya sangat sederhana; kearifan tidak berada di dalam molekul-molekul ini atau di dalam sel yang memuatnya, tetapi pada Diri yang telah mencipta molekul-molekul ini, dengan memrogram mereka untuk berfungsi sedemikian.
Pendeknya, kearifan hadir tidak pada karya itu sendiri, tetapi pada pencipta karya tersebut. Bahkan komputer yang paling maju merupakan hasil dari suatu kearifan dan kecerdasan yang telah menuliskan dan memasang program-program untuk mengoperasikannya, dan kemudian menggunakannya. Begitu pula, sel, DNA dan RNA di dalamnya, dan manusia yang terbuat dari sel-sel ini tidak lain dari karya Dia yang menciptakan mereka dan apa yang mereka lakukan. Betapa pun sempurna, lengkap dan memesona karya tersebut, kebijaksanaan selalu ada pada sang pemilik karya.
Suatu hari, jika Anda menemukan sebuah disket di atas meja di laboratorium komputer, dan setelah memeriksanya, mendapatinya mengandung miliaran informasi tentang anda, pertanyaan pertama yang akan melintas di pikiran Anda tentunya siapa yang telah menuliskan potongan-potongan informasi ini dan mengapa.
Jadi, mengapa kita tidak ajukan pertanyaan yang sama tentang sel? Jika informasi di dalam disket ditulis oleh seseorang, lalu dengannya DNA, yang memiliki teknologi yang jauh lebih unggul dan maju, dirancang dengan cara yang amat sempurna, diciptakan, dan ditempatkan di dalam sel yang sangat kecil itu, yang juga merupakan keajaiban lain. Di samping dia tidak kehilangan sifatnya yang mana pun selama ribuan tahun sampai hari ini. (Ingatlah bahwa otak manusia yang membuat disket dan menyimpan data di dalamnya, juga terbuat dari sel-sel ini.) Apa lagi yang lebih penting bagi Anda daripada pertanyaan: oleh siapa dan mengapa sel-sel ini – yang berfungsi tanpa henti bagi Anda untuk membaca baris-baris tulisan ini, melihat, bernapas, berpikir, singkatnya, untuk ada dan bertahan hidup – diciptakan?
Tidakkah jawaban atas pertanyaan ini yang mestinya, dalam kehidupan, paling banyak anda pikirkan?


Beberapa Contoh Lagi

Ini adalah metoda yang dikenal luas: Mereka yang melakukan perjalanan, lalu terdampar di suatu tempat yang terisolir karena pesawatnya jatuh, menggambar sebuah ‘X’ besar untuk menunjukkan lokasi mereka kepada tim penolong yang mencari mereka dari udara. Dengan menggunakan barang-barang mereka, atau benda-benda yang mereka kumpulkan, mereka membuat tanda besar berbentuk silang. Dengan cara ini, tim penolong yang berusaha mencari dari udara, melihat tanda ini, yang merupakan “produk kebijaksanaan” dan mengerti bahwa di sana ada makhluk hidup yang berkesadaran, yakni, ada manusia di tempat itu.
Saat berkendara di jalan raya luar kota, anda kadangkala melihat tulisan yang terbuat dari batu-batu putih di lereng bukit, semisal: “Teguh Beriman”. Bagaimana tulisan ini terbentuk di bukit itu sangat jelas. Umumnya, ada unit pemerintah daerah di sekitar situ dan mereka membuat tulisan itu dengan batu-batu putih di bukit.
Nah, mungkinkah ada orang yang datang dan mengatakan bahwa tulisan-tulisan itu tidak dibuat oleh pikiran sadar, dalam hal ini para tentara, dan alih-alih terbentuk secara kebetulan? Mungkinkah ada orang yang mengatakan bahwa “Batu-batu itu tersusun bersisian secara kebetulan saat bergulingan dari bukit dan menyusun kalimat ‘Teguh Beriman’.”?
Atau jika seorang ‘ilmuwan’ datang dan berkata “Terdapat miliaran batu di dunia ini dan mereka bergulingan selama jutaan tahun, jadi mungkin saja sebagian dari batu-batu tersebut bergabung bersama secara kebetulan membuat kalimat yang bermakna”, tidakkah ia akan ditertawakan bahkan oleh anak-anak sekalipun? Sebagai tambahan, jika dia menggunakan gaya ilmiah, membuat sejumlah penjelasan ilmiah dan mengemukakan beberapa perhitungan probabilitas, masihkah setiap orang akan meragukan kewarasannya lebih jauh?
Ide utama yang ingin diberikan dengan contoh ini adalah: jika terdapat tanda sedikit saja dari sesuatu yang direncanakan di suatu tempat, sudah tentu ada jejak dari pemilik kebijaksanaan di sana. Tidak ada produk dari kebijaksanaan terbentuk secara kebetulan. Jika Anda menggulingkan batu-batu putih ke bawah gunung miliaran kali, Anda tidak akan pernah menghasilkan sekadar huruf ‘T’ yang memadai, jangankan sebuah frasa seperti “Teguh Beriman”. Jika terdapat sebuah huruf di mana pun, setiap orang setuju bahwa huruf itu ditulis oleh seseorang. Tidak ada huruf tanpa penulis.
Tubuh manusia miliaran kali lebih kompleks dari frasa “Teguh Beriman”, dan nyata-nyata mustahil bagi struktur kompleks ini untuk terbentuk dengan sendirinya, atau oleh “kebetulan” semata, Karenanya, terdapat Pencipta yang telah merencanakan dan merancang baik manusia dan selnya dan DNA-nya secara brilian dan sempurna. Mengklaim sebaliknya adalah tindakan yang sangat tidak bijaksana, dan lebih jauh lagi, merupakan ketidaktulusan dan kesombongan yang terbesar. Hal ini merupakan penghinaan terhadap pemilik kebijaksanaan dan kekuasaan itu.
Namun bagaimanapun, banyak orang, yang siap sedia mengatakan bahwa mustahil batu-batu tersusun sendiri dan membentuk walau hanya tiga kata dasar, akan mendengarkan tanpa protes kebohongan bahwa “peristiwa kebetulan” telah membuat miliaran atom bergabung satu demi satu dalam urutan yang terencana dan membentuk molekul seperti DNA, yang melaksanakan tugas yang begitu super-kompleks. Ini bagaikan seorang yang dihipnotis hingga tunduk dan menerima begitu saja perkataan penghipnotisnya bahwa ia adalah sebuah pintu, pohon, atau seekor cicak….


Bahasa Ensiklopedia DNA

Kehidupan masyarakat didasarkan atas alur informasi, dan komunikasi. Alat yang paling penting dalam alur informasi antarindividu dan generasi adalah bahasa. Bahasa diwakili oleh kode-kode tertentu, yakni huruf-huruf. Bahasa Inggris adalah bahasa yang tersusun dari 26 huruf atau dapat kita katakan, 26 kode. Kode-kode ini membentuk kata-kata dan kata-kata kemudian membentuk kalimat-kalimat. Alur dan penyimpanan informasi diwujudkan dengan kode-kode ini.
Bahasa di dalam sel serupa dengan ini. Semua sifat fisik manusia disimpan di dalam inti sel dengan dikodekan oleh bahasa ini, dan dapat digunakan oleh sel kembali dengan bahasa ini. Bahasa ini dimiliki molekul utama, yang disebut DNA. Bahasa DNA tersusun dari 4 huruf; A, T, G, dan C. Setiap huruf mewakili satu dari empat basa khusus yang disebut ‘nukleotida’. Jutaan basa ini berbaris dalam sebuah rangkaian yang bermakna dan membentuk molekul DNA.
Begitulah informasi di dalam bank data pada molekul disimpan. Sementara kita menguraikan sistem pengkodean dalam gudang data ini, kita akan terus menggunakan analogi huruf ini untuk molekul asam nukleat yang membentuk DNA. Huruf-huruf ini bersesuaian dua-dua membentuk sebuah pasangan basa. Pasangan basa ini bertumpuk di atas pasangan lainnya membentuk gen. Masing-masing gen, yang terdiri dari satu bagian molekul DNA, menentukan sifat tertentu dari tubuh manusia. Tak terhitung banyaknya ciri seperti tinggi badan, warna mata, materi dan bentuk hidung, mata, dan tengkorak dibentuk oleh perintah gen yang terkait. Kita dapat membandingkan setiap gen ini dengan halaman sebuah buku. Pada halaman itu terdapat naskah yang tersusun dari huruf A – T – G – C.
Terdapat kurang lebih 200.000 gen di dalam DNA sel manusia. Setiap gen tersusun dari rangkaian nukleotida khusus, jumlah yang berkisar antara 1000 dan 186.000 sesuai tipe protein yang berhubungan. Gen-gen ini menyimpan kode dari hampir 200.000 protein yang berfungsi di dalam tubuh manusia dan mengendalikan produksi protein-protein ini.
Informasi yang tersimpan di dalam 200.000 gen ini baru merupakan 3% dari keseluruhan informasi di dalam DNA. Sisanya yang 97% masih tetap menyimpan misterinya hingga kini. Kajian terakhir menunjukkan bahwa 97% bagian tak dikenal ini termasuk informasi vital tentang kelangsungan hidup sel dan mekanisme yang mengendalikan aktivitas teramat kompleks di dalam tubuh. Namun perjalanan masih teramat panjang.
Gen-gen berada di dalam kromosom. Ada 46 kromosom di dalam inti setiap sel manusia (kecuali pada sel-sel reproduksi). Jika kita bandingkan setiap kromosom dengan sebuah jilid buku yang terdiri dari hlaman-halaman gen, kita dapat katakan bahwa di dalam sel terdapat “ensiklopedia sel” sebanyak 46 jilid, yang meliputi seluruh karakteristik manusia. Dengan mengingat contoh ensiklopedia barusan, ensiklopedia sel ini sebanding dengan pengetahuan yang terkandung dalam 920 jilid ‘Ensiklopedia Britannica’.
Urutan huruf-huruf di dalam DNA setiap manusia berbeda. Inilah alasan mendasar mengapa miliaran orang yang pernah hidup di muka bumi tampak berbeda satu sama lain. Struktur dan fungsi dasar organ-organ sama pada setiap orang. Namun, setiap orang diciptakan begitu mendetail dan khusus dengan perbedaan yang demikian halus sehingga walau semua orang diciptakan dari pembelahan sebuah sel tunggal dan memiliki struktur dasar yang sama, miliaran manusia yang berbeda telah muncul.
Semua organ di dalam tubuh dibangun dengan sebuah perencanaan yang digariskan oleh gen kita. Sebagai contoh, menurut peta gen yang dirampungkan oleh para ilmuwan, di dalam tubuh manusia, kulit dikendalikan oleh 2.559 gen, otak oleh 29.930 gen, mata oleh 1.794 gen, kelenjar ludah oleh 186 gen, jantung oleh 6.216 gen, dada oleh 4.001 gen, paru-paru oleh 11.581 gen, hati oleh 2.309 gen, usus oleh 3.838 gen, otot kerangka oleh 1.911 gen, dan sel-sel darah oleh 22.902 gen.
Urutan huruf di dalam DNA menentukan struktur seorang manusia hingga bagian terkecil. Selain ciri seperti tinggi badan, mata, rambut, dan warna kulit, sebuah sel tunggal DNA juga mengandung rancangan dari 206 tulang, 600 otot, jaringan 10.000 otot pendengaran, jaringan 2 juta saraf penglihatan, 100 miliar sel saraf, dan 100 triliun sel di dalam tubuh.
Sekarang mari kita berpikir dengan informasi di atas: Karena tak sebuah huruf pun dapat terbentuk tanpa ada penulisnya, bagaimana miliaran huruf di dalam sel manusia berasal mula? Bagaimana huruf-huruf ini berbaris dalam rangkaian yang bermakna sehingga membentuk perencanaan unik seperti tubuh yang sempurna dan kompleks? Jika terjadi kerusakan pada urutan huruf-huruf ini Anda mungkin akan mempunyai telinga di perut atau mata di tumit. Anda mungkin akan lahir dengan tangan menempel di punggung, dan hidup sebagai makhluk aneh. Rahasia kehidupan Anda sekarang ini sebagai manusia sepantasnya terletak pada rangkaian ‘sempurna’ dari miliaran huruf pada ensiklopedia 46 jilid di dalam DNA Anda.


DNA Menentang Peristiwa Kebetulan

Saat ini matematika telah membuktikan bahwa peristiwa kebetulan tidak dapat berperan pada pembentukan informasi yang dikodekan di dalam DNA, jangankan pada molekul DNA yang terbuat dari jutaan pasangan basa. Probabilitas pembentukan secara kebetulan satu gen saja dari 200.000 gen yang menyusun DNA adalah begitu rendahnya, sehingga disebut mustahil pun masih terlalu lemah. Frank Salisbury, seorang ahli biologi evolusionis, mengemukakan pernyataan berikut tentang “kemustahilan” ini:
Sebuah protein berukuran sedang dapat terdiri dari sekitar 300 asam amino. Gen DNA yang mengatur protein ini bisa memiliki 1000 nukleotida pada rantainya. Karena ada empat jenis nukleotida dalam sebuah rantai DNA, satu rantai dengan 1000 nukleotida dapat tersusun dalam 41000 bentuk. Dengan menggunakan sedikit ilmu aljabar (logaritma), kita dapat melihat bahwa 41000 = 10600. Sepuluh dikali sepuluh sebanyak 600 kali menghasilkan angka 1 yang diikuti 600 angka nol! Suatu angka di luar kemampuan pemahaman kita.
Dengan kata lain, bahkan jika kita asumsikan bahwa semua nukleotida yang dibutuhkan ada pada sebuah medium, dan bahwa semua molekul kompleks dan enzim untuk menggabungkan mereka tersedia, kemungkinan bagi nukleotida ini tersusun dalam urutan yang diinginkan adalah 1 banding 41000, atau 1 banding 10600. Singkatnya, probabilitas dari pembentukan secara kebetulan dari kode sebuah protein rata-rata dalam tubuh manusia pada DNA dengan sendirinya adalah 1 banding 1 diikuti oleh 600 angka nol. Ini bahkan berada di luar bilangan astronomis, yang pada praktiknya berarti probabilitas ‘nol’. Artinya, urutan sedemikian pastilah berada di bawah kendali dan pengetahuan dari kekuatan yang sadar dan bijaksana. Probabilitas hal ini terjadi melalui “kecelakaan”, “untung-untungan”, atau “peristiwa kebetulan” adalah nol.
Coba pikirkan buku yang sekarang tengah Anda baca. Bagaimana pendapat Anda tentang seseorang yang mengklaim bahwa huruf-huruf (dengan menggunakan stempel cetak untuk setiap hurufnya) berkumpul secara kebetulan dengan sendirinya untuk membentuk tulisan ini? Nyata sekali bahwa ia ditulis oleh seorang yang memiliki kecerdasan dan kesadaran. Ini tidak berbeda dengan DNA.
Francis Crick, ahli biokimia yang menemukan struktur DNA, meraih hadiah Nobel berkat risetnya dalam subjek ini. Crick, seorang evolusionis yang bersemangat, menyatakan pendapat ilmiah berikut dalam buku yang ditulisnya setelah mengakui struktur DNA yang menakjubkan: “Seorang jujur yang dibekali ilmu pengetahuan masa kini, hanya dapat menyatakan bahwa asal usul kehidupan hampir seperti suatu keajaiban.” 3 Bahkan dalam pandangan Crick, salah seorang pakar terbesar mengenai DNA, kehidupan tidak dapat bermula di dunia secara spontan.
Data di dalam DNA, yang terbentuk dari 5 juta huruf, tersusun dari rangkaian huruf A-T-G-C yang khusus dan bermakna. Namun, tidak boleh terjadi satu pun kesalahan huruf pada rangkaian ini. Kata yang salah eja atau kesalahan huruf dalam ensiklopedia mungkin saja diabaikan dan dikesampingkan. Ia bahkan tidak akan teperhatikan. Namun, satu saja kesalahan dalam pasangan basa DNA, seperti kesalahan kode huruf pada pasangan basa ke-1.719.348.632, akan berakibat amat buruk pada sel, dan karenanya pada individunya sendiri. Misalnya, hemofilia (leukemia anak) adalah akibat dari pengkodean yang keliru seperti itu.
Sebenarnya, tidak tepat jika hal ini disebut “pengkodean yang keliru”, karena seperti segala sesuatu yang ada, DNA manusia, juga diciptakan oleh Allah dan bahkan kesalahan yang jarang terjadi dikarenakan suatu sebab tersembunyi (tujuan ilahiah). Kesalahan pengkodean yang menyebabkan kanker adalah suatu penyakit yang diciptakan secara khusus. Ia diciptakan secara khusus untuk suatu sebab tersembunyi yang tertentu untuk menunjukkan kepada manusia kelemahan dan ketidakmampuannya sendiri, mengingatkannya akan berbagai keseimbangan yang halus di mana penciptaan manusia tergantung, dan kesulitan apa yang mungkin dihadapinya jika terjadi gangguan paling ringan pun terhadap keseimbangan ini.


Replikasi Diri pada DNA

Sebagaimana diketahui, sel berkembang biak dengan membelah diri. Sementara tubuh manusia asalnya terdiri dari sebuah sel tunggal, sel ini membelah dan bereproduksi dengan kelipatan 2-4-8-16-32….
Apa yang terjadi pada DNA pada akhir proses pembelahan? Hanya ada satu rantai DNA di dalam sel. Namun, nyata bahwa sel yang baru terbentuk juga membutuhkan DNA. Untuk mengisi kekosongan ini, DNA merampungkan sebuah rentetan operasi yang menarik, yang setiap tahapnya merupakan keajaiban yang berbeda. Akhirnya, segera sebelum sel membelah, DNA membuat kopi dirinya dan memindahkannya ke sel yang baru.
Pengamatan terhadap pembelahan sel menunjukkan bahwa sel harus mencapai ukuran tertentu sebelum membelah diri. Pada saat ia melewati ukuran tertentu ini, proses pembelahan otomatis dimulai. Sementara bentuk sel mulai semakin mulus sehingga memungkinkan proses pembelahan, DNA mulai mereplikasi diri seperti disebutkan sebelumnya.
Ini berarti sel ‘memutuskan’ untuk membelah sebagai keseluruhan dan bagian-bagian sel yang berbeda mulai bertindak sesuai dengan keputusan pembelahan ini. Sudah jelas sel tidak mempunyai kesadaran untuk melakukan tindakan kolektif sedemikian. Proses pembelahan dimulai dengan suatu perintah rahasia dan keseluruhan sel, terutama DNA bertindak dengan perintah ini.
Pertama, DNA membelah menjadi dua untuk mereplikasi dirinya sendiri. Peristiwa ini terjadi dengan cara yang sangat menarik. Molekul DNA yang menyerupai tangga spiral membagi menjadi dua seperti ritsleting dari tengah anak tangga. Seterusnya, DNA membelah menjadi dua bagian. Belahan yang hilang (replica) dari masing-masing bagian disempurnakan dengan bahan-bahan yang terdapat di sekitarnya. Dengan cara ini, dua molekul DNA baru diproduksi. Dalam setiap tahap operasi, protein ahli yang disebut “enzim” yang berfungsi seperti robot canggih mengambil peran. Walau ini sekilas tampak sederhana, proses-proses antara yang berlangsung selama operasi ini begitu banyak dan begitu rumit sehingga untuk menggambarkan keseluruhan peristiwa ini secara detail akan membutuhkan banyak halaman.
Molekul DNA baru yang muncul selama replikasi diperiksa berulang kali oleh enzim pemeriksa. Jika terjadi kesalahan – yang dapat menjadi sangat vital, ia akan segera diidentifikasi dan diperbaiki. Kode yang keliru dibuang dan digantikan dengan yang benar. Semua proses ini berlangsung dalam kecepatan yang sangat memesonakan sehingga saat 3000 pasangan basa diproduksi dalam satu menit, secara bersamaan semua pasangan diperiksa berulang kali oleh enzim-enzim yang bertanggung jawab dan perbaikan yang dibutuhkan dilakukan.
Dalam molekul DNA yang baru diproduksi, lebih banyak kesalahan yang dapat dilakukan lebih dari normal sebagai akibat faktor luar. Dalam hal ini, ribosom di dalam sel mulai memproduksi enzim-enzim pereparasi DNA sesuai perintah yang diberikan oleh DNA. Dengan demikian, saat DNA melindungi dirinya sendiri, ia juga menjamin kelangsungan generasi.
Sel-sel dilahirkan, mereka bereproduksi dan mati seperti halnya manusia. Namun masa hidup sel jauh lebih pendek daripada kehidupan manusia. Misalnya, kebanyakan sel yang digunakan untuk membentuk tubuh Anda enam bulan yang lalu tidak ada lagi saat ini. Namun, Anda tetap hidup karena mereka telah membelah pada waktunya untuk memberikan tempatnya bagi yang baru. Karena ini, operasi yang sangat kompleks seperti penggandaan sel dan replikasi DNA merupakan proses vital yang tidak dapat menoleransi bahkan sebuah kesalahan kecil sehubungan dengan kehidupan manusia. Namun, proses penggandaan berjalan begitu mulusnya sehingga tingkat kesalahan hanyalah satu dalam tiga miliar pasangan basa. Dan satu kesalahan ini dihapuskan oleh mekanisme kontrol yang lebih tinggi di dalam tubuh tanpa menyebabkan masalah apa pun.
Sepanjang hari, tanpa Anda sadari, begitu banyak operasi dan kontrol dilakukan, banyak pengukuran dilakukan di dalam tubuh Anda dengan cara yang luar biasa kritis dan bertanggung jawab agar Anda dapat menjalani hidup tanpa masalah apa-apa. Allah telah menganugerahkan untuk Anda tak terhitung jumlahnya atom dan molekul, dari yang terbesar hingga yang terkecil, dari yang paling sederhana hingga yang paling kompleks, sehingga Anda dapat hidup dengan baik dan sehat. Tidakkah karunia dan rahmat ini sendiri cukup bagi Anda untuk bersyukur? Atau haruskah seseorang menunggu terjadi masalah dalam sistemnya yang sempurna baru ia akan menyadarinya?
Poin paling penting adalah bahwa enzim-enzim yang membantu produksi DNA dan mengontrol komposisinya ini sebenarnya adalah protein yang diproduksi sesuai dengan informasi yang dikodekan di dalam DNA dan di bawah perintah dan kontrol DNA itu sendiri. Sebagaimana DNA harus ada agar enzim tersebut ada, begitu pula halnya enzim tersebut harus ada agar DNA ada, dan di lain pihak, agar keduanya ada sel harus ada secara lengkap, sampai ke membran dan semua organel kompleks yang dikandungnya.
Teori evolusi yang menyatakan bahwa makhluk hidup berevolusi ‘tahap demi tahap’ sebagai akibat dari ‘peristiwa-peristiwa kebetulan yang menguntungkan’ secara eksplisit disangkal oleh paradoks DNA-enzim yang disebutkan di atas. Ini karena baik DNA maupun enzim harus ada pada saat yang bersamaan. Dan ini menunjukkan keberadaan Pencipta yang sadar, yaitu Allah.
Evolusionis Tak Dapat Menjelaskan Bagaimana Informasi di dalam DNA Berasal Mula dan Bagaimana Ia Berbeda dalam Setiap Spesies.
Sementara para evolusionis tidak dapat sama sekali menjelaskan bagaimana DNA berasal mula, masih ada poin lain di mana mereka menghadapi jalan buntu. Bagaimana ikan, reptil, burung, manusia dan sebagainya dapat memiliki DNA yang berbeda dan jenis informasi yang berbeda?
Para evolusionis menjawab pertanyaan itu dengan mengatakan bahwa kandungan informasi dalam DNA berkembang dan mengalami diversifikasi perlahan-lahan melalui peristiwa-peristiwa kebetulan. Peristiwa kebetulan yang mereka rujuk adalah “mutasi”. Mutasi adalah perubahan yang berlangsung di dalam DNA sebagai akibat dari radiasi atau reaksi kimia. Kadangkala radiasi radioaktif terjadi pada rantai DNA dan merusak atau memindahkan beberapa pasangan basa di dalamnya. Menurut para evolusionis, makhluk hidup telah mencapai bentuk mereka yang sempurna sekarang sebagai hasil diversifikasi dari sebuah DNA tunggal karena mutasi-mutasi ini (yakni, kecelakaan).
Untuk menunjukkan bahwa klaim ini tidak masuk akal, mari kita bandingkan sekali lagi DNA dengan sebuah buku. Telah disebutkan sebelumnya bahwa DNA dibuat dari huruf-huruf yang berbaris menyamping seperti dalam sebuah buku. Mutasi adalah seperti kesalahan huruf yang terjadi selama penyusunan buku ini. Jika Anda mau, kita dapat melakukan percobaan mengenai subjek ini. Mari kita mencari sebuah buku tebal tentang sejarah dunia untuk disusun (di-type-setting). Selama penyusunan, mari kita campur tangan beberapa kali dan menyuruh tukang set untuk menekan satu tombol dengan mata tertutup dan secara acak. Kemudian mari kita berikan teks berisi huruf-huruf ini kepada orang lain dan menyuruhnya melakukan hal serupa sekali lagi. Dengan menggunakan metode ini, mari kita minta buku ini disusun dari awal hingga akhir beberapa kali, dengan demikian beberapa kesalahan huruf telah ditambahkan kepada buku ini secara acak beberapa kali….
Mungkinkah buku sejarah ini dikembangkan dengan metode demikian? Misalnya, akankah muncul sebuah bab tambahan berjudul “Sejarah Cina Kuno”, yang sebelumnya tidak ada?
Sudah pasti, kesalahan huruf yang telah kita tambahkan tidak akan membangun buku itu, malahan menghancurkan dan merusak artinya. Semakin banyak kita tambahkan proses penyusunan yang salah, akan semakin berantakan buku kita jadinya.
Namun, klaim teori evolusi adalah bahwa “kesalahan huruf membantu menyusun sebuah buku”. Menurut evolusi, mutasi (kesalahan) yang terjadi pada DNA telah membawa akibat yang menguntungkan dengan mengakumulasi dan melengkapi makhluk hidup dengan organ-organ yang sempurna seperti mata, telinga, sayap, tangan, dan sifat yang berhubungan dengan kesadaran seperti berpikir, belajar dan berakal budi.
Tak dipertanyakan lagi, klaim ini bahkan lebih tak masuk akal daripada contoh penambahan bab “Sejarah Cina Kuno” pada buku sejarah dunia sebagai hasil dari akumulasi kesalahan huruf yang disebutkan di atas. (Lebih jauh lagi tidak ada mekanisme di alam yang menyebabkan mutasi secara teratur seperti contoh tukang set yang membuat kesalahan secara teratur. Mutasi di alam berlangsung jauh lebih jarang daripada kesalahan huruf yang terjadi selama penyusunan sebuah buku.)
Setiap “penjelasan” yang dikemukakan oleh teori evolusi tentang asal usul kehidupan tidak masuk akal dan tidak ilmiah. Salah seorang pakar terkemuka yang membahas persoalan ini adalah ahli zoologi Prancis, Pierre Grassé, mantan ketua Akademi Sains Prancis. Meskipun ia seorang evolusionis, Grassé menyatakan terang-terangan bahwa teori Darwinis tidak dapat menjelaskan kehidupan. Dia juga mengemukakan pendapatnya tentang logika konsep “kebetulan” yang merupakan pilar utama Darwinisme:
Kemunculan mutasi-mutasi secara tepat, yang memungkinkan hewan dan tumbuh memenuhi kebutuhan, merupakan hal yang sukar dipercaya. Namun, teori Darwin menyatakan lebih dari itu: sebatang pohon atau seekor hewan memerlukan beribu-ribu peristiwa kebetulan pada saat yang tepat. Jadi, keajaiban akan berperan di sini: peristiwa-peristiwa dengan peluang mendekati nol tidak boleh gagal untuk terjadi…. Tak ada larangan untuk berkhayal, tetapi sains tidak boleh terjerumus ke dalamnya.4
Memang, teori evolusi, yang mengklaim bahwa materi tak hidup berhimpun dengan sendirinya dan membentuk makhluk hidup dengan sistem yang begitu gemilang seperti DNA, adalah skenario yang sepenuhnya bertentangan dengan sains dan akal sehat. Semua ini membawa kita kepada kesimpulan yang nyata. Karena hidup memiliki perencanaan (DNA) dan semua makhluk hidup dibentuk menurut perencanaan ini, jelaslah bahwa ada Pencipta ulung yang membuat perencanaan ini. Ini dengan mudah berarti bahwa semua makhluk hidup diciptakan oleh Allah, Yang Mahakuasa, Mahabijaksana. Allah menyatakan fakta ini di dalam Al Quran seperti berikut:
(QS. Al Hasyr, 59: 24)
Saat ini, apa yang telah dicapai manusia melalui teknologi dapat digambarkan paling jauh sebagai ‘sebuah pendekatan menuju pengertian atas sebuah fragmen kecil dari pengetahuan Allah, sebagaimana ditunjukkan pada DNA manusia’.
Di lain pihak, teori evolusi yang mencoba untuk menjelaskan asal usul kehidupan sebagai rangkaian peristiwa kebetulan, kehilangan semua keabsahannya di hadapan pertanyaan: “Lalu bagaimana DNA berasal mula?”
PERTANYAAN YANG MENGHANCURKAN TEORI EVOLUSI: BAGAIMANA DNA
BERASAL MULA?


Pertanyaan bagaimana molekul yang dirancang secara luar biasa seperti DNA berasal mula adalah salah satu dari ribuan jalan buntu yang dihadapi evolusionis. Karena berusaha keras menjelaskan kehidupan melalui “peristiwa kebetulan”, teori evolusi tidak pernah dapat menjelaskan sumber dari informasi luar biasa yang begitu sempurna dan cermat dikodekan di dalam DNA.
Lebih jauh lagi, pertanyaannya tidak hanya bagaimana rantai DNA bermula. Keberadaan dari rantai DNA itu sendiri, dengan kapasitas informasi yang luar biasa yang dimilikinya, tidak ada artinya jika sendirian. Agar dapat merujuk kepada kehidupan, enzim-enzim yang membaca rantai DNA ini, mengopi mereka dan memproduksi protein, juga harus ada. (Enzim adalah molekul raksasa yang mempunyai fungsi-fungsi tertentu dalam sel yang mereka lakukan dengan kepresisian sebuah robot.)
Gampangnya, agar dapat berbicara tentang kehidupan, baik bank data yang kita sebut DNA, maupun mesin untuk melakukan produksi dengan membaca data pada bank harus ada secara bersamaan.
Yang mengejutkan, enzim itu sendiri, yang membaca DNA dan melaksanakan produksi sesuai dengan itu, diproduksi sesuai dengan kode di dalam DNA. Artinya, ada sebuah pabrik di dalam sel yang membuat banyak jenis produk, dan juga merakit robot dan mesin yang melaksanakan produksi ini. Pertanyaan bagaimana sistem ini – yang tidak akan berguna jika ada kerusakan kecil di mekanismenya yang mana pun – bermula, itu saja sudah cukup untuk menghancurkan teori evolusi.
Evolusionis Jerman Douglas R. Hofstadler, menyatakan keputusasaannya di hadapan pertanyaan ini:
“Bagaimana Kode Genetik, juga mekanisme untuk penerjemahannya (ribosom dan molekul RNA) berawal?” Untuk saat ini, kita terpaksa harus puas dengan rasa takjub dan terpesona, dan bukan dengan sebuah jawaban. 5
Pemuka evolusionis lainnya, ahli biologi molekuler terkenal di dunia, Leslie Orgel, lebih terbuka tentang hal ini:
Sangat tidak mungkin bahwa protein dan asam nukleat, yang masing-masingnya memiliki struktur yang kompleks, muncul secara spontan pada tempat yang sama secara bersamaan. Tetapi tidak mungkin pula ada salah satu tanpa yang lainnya. Karena itu, pada sekilas pandangan pertama, SESEORANG MUNGKIN HARUS MENYATAKAN BAHWA SESUNGGUHNYA KEHIDUPAN TIDAK DAPAT BERASAL MULA SECARA KIMIAWI.6
Mengatakan bahwa “kehidupan tidak mungkin pernah berasal mula secara kimiawi” sama dengan mengatakan bahwa “kehidupan tidak pernah dapat berasal mula dengan sendirinya”. Pengakuan atas kebenaran pernyataan ini menghasilkan kesadaran bahwa kehidupan diciptakan secara sadar. Namun karena alasan-alasan ideologis, para evolusionis tidak mengakui fakta, bukti nyata yang ada di depan mata mereka ini. Untuk menghindar dari mengakui keberadaan Tuhan, mereka mempercayai skenario tidak masuk akal, yaitu kemustahilan yang juga mereka yakini.
Dalam bukunya “Evolution: A Theory in Crisis”, yang membahas ketidakabsahan teori evolusi, seorang ahli biologi molekuler terkenal, Prof. Michael Denton, mengungkapkan kepercayaan tidak masuk akal para Darwinis:
Bagi mereka yang skeptis, gagasan bahwa program genetis organisme tingkat tinggi hampir sama dengan ribuan juta bit informasi, yang ekivalen dengan urutan huruf dalam seribu jilid buku yang memuat beribu-ribu algoritma rumit dalam bentuk kode yang mengendalikan, menentukan dan mengatur pertumbuhan dan perkembangan bermiliar-miliar sel organisme kompleks, murni dihasilkan oleh sebuah proses acak, benar-benar MELECEHKAN AKAL MANUSIA. AKAN TETAPI, GAGASAN TERSEBUT DITERIMA DARWINIS TANPA SEDIKIT PUN KERAGUAN — PARADIGMA INI JUSTRU DIUTAMAKAN! 7
Memang, Darwinisme tidak lain dari kepercayaan yang sepenuhnya tidak masuk akal dan bersifat takhyul. Siapa pun yang berakal sehat akan melihat bukti dari fakta besar itu dengan memperhatikan DNA, atau bagian lain dari alam semesta. Manusia dan semua makhluk hidup diciptakan oleh Allah, Yang Mahakuasa, Rabb dari semesta alam.


“Dunia RNA”

Penemuan pada tahun 1970-an bahwa gas-gas di dalam atmosfer primitif tidak memungkinkan sintesis asam amino, adalah pukulan berat bagi teori evolusi molekuler. Kemudian diakui bahwa “eksperimen atmosfer primitif” oleh evolusionis seperti Miller, Fox dan Ponnamperuma, tidak absah. Untuk itu, pada tahun 1980-an berbagai upaya baru evolusionis diajukan. Hasilnya adalah sebuah skenario yang dinamai “Dunia RNA” yang menyatakan bahwa bukanlah protein yang pertama terbentuk, melainkan molekul RNA yang mengandung informasi tentang protein.
Skenario ini diusulkan tahun 1986 oleh Walter Gilbert, seorang ahli kimia dari Harvard. Menurutnya, miliaran tahun lalu sebuah molekul RNA, yang entah bagaimana dapat melakukan replikasi, terbentuk secara kebetulan. Kemudian, dengan diaktifkan oleh pengaruh lingkungan, RNA ini mulai memproduksi protein. Selanjutnya, informasi tersebut perlu disimpan pada molekul kedua, maka dengan suatu cara terbentuklah molekul DNA.
Karena tersusun dari rangkaian kemustahilan pada setiap tahapnya, skenario yang sukar dibayangkan ini bukannya memberikan penjelasan tentang asal usul kehidupan, malah memperbesar masalah dan menimbulkan banyak pertanyaan tak terselesaikan:
1. Jika mustahil untuk menerangkan pembentukan secara kebetulan satu saja dari banyak nukleotida yang membangun RNA, bagaimana mungkin nukleotida rekaan ini membentuk RNA dengan saling bergabung dalam urutan yang tepat? John Horgan, ahli biologi evolusionis, mengakui kemustahilan ini pembentukan RNA secara kebetulan ini sebagai berikut :
Semakin dekat para peneliti mengkaji konsep dunia RNA, semakin banyak masalah muncul. Bagaimana RNA muncul pertama kali? Di laboratorium, dalam kondisi terbaik sekalipun, RNA dan komponennya sangat sulit disintesis, apalagi dalam kondisi seadanya. 8
2. Bahkan jika kita menganggap RNA terbentuk secara kebetulan, bagaimana mungkin RNA yang hanya terdiri dari rantai nukleotida ini “memutuskan” untuk mereplikasi diri, dan mekanisme apa yang mungkin digunakannya untuk proses itu? Dari mana RNA mendapatkan nukleotida untuk replikasinya? Bahkan, ahli mikrobiologi evolusionis, Gerald Joyce dan Leslie Orgel mengungkapkan keputusasaan atas situasi ini dalam bukunya yang berjudul “In the RNA World”.
Diskusi ini..., dalam suatu artian, telah berfokus pada sebentuk mitos tentang molekul RNA yang bereplikasi diri dan muncul dari sup polinukleotida acak secara mendadak. Hal ini bukan saja tidak realistis di bawah pemahaman kita saat ini tentang kimia prebiotik, bahkan ia seharusnya menyaring kepercayaan yang terlalu mudah dari pandangan optimis tentang potensi katalitis RNA.9
3. Bahkan jika kita menganggap bahwa di bumi purba ada RNA yang dapat mereplikasi diri, seluruh asam amino siap pakai tersedia dan semua yang mustahil ini terjadi, situasi ini tidak berakhir dengan pembentukan satu molekul protein pun. Hal ini karena RNA hanya mengandung informasi mengenai struktur protein, sedangkan asam amino hanya bahan mentah. Bagaimanapun, tidak ada mekanisme untuk memproduksi protein. Anggapan bahwa kehadiran RNA sudah cukup untuk produksi protein adalah sama tidak masuk akalnya dengan mengharapkan sebuah mobil dapat merakit diri sendiri hanya dengan melemparkan secarik kertas yang berisi rancangannya ke atas tumpukan ribuan onderdil mobil. Dalam kasus ini, juga tidak ada produksi karena tidak ada pabrik atau pekerja yang terlibat dalam proses.
Protein diproduksi oleh ribosom dengan bantuan berbagai enzim, dan merupakan hasil dari berbagai proses yang sangat kompleks di dalam sel. Ribosom sendiri adalah organel sel yang kompleks dan terbuat dari protein. Jadi, situasi ini juga menimbulkan asumsi tidak masuk akal lainnya bahwa ribosom pun muncul secara kebetulan pada saat yang sama. Bahkan pemenang Hadiah Nobel, Jacques Monod, seorang pembela teori evolusi yang fanatik, menjelaskan bahwa sintesis protein tidak bisa dianggap proses remeh yang hanya bergantung pada informasi dalam asam nukleat:
Kode DNA tidak berarti jika tidak diterjemahkan. Perangkat penerjemah modern sel-sel ini terdiri dari paling sedikit lima puluh komponen makromolekuler yang juga dikode dalam DNA: kode-kode ini tidak dapat diterjemahkan kecuali oleh hasil penerjemahannya sendiri. Ini sesuai dengan ungkapan omne vivum ex ovo (ayam atau telur yang lebih dulu). Kapan dan bagaimana lingkaran ini berujung? Ini sangat sulit untuk dibayangkan.30
Bagaimana sebuah rantai RNA di bumi purba dapat mengambil keputusan seperti itu? Dan bagaimana ia merealisasikan produksi protein dengan melakukan sendiri pekerjaan 50 partikel terspesialisasi? Evolusionis tidak bisa menjawab pertanyaan ini.
Dr. Leslie Orgel, seorang rekanan Stanley Miller dan Francis Crick dari Universitas San Diego California, menggunakan istilah “skenario” untuk kemungkinan “asal usul kehidupan melalui dunia RNA”. Orgel menggambarkan sifat-sifat yang harus dimiliki RNA berikut kemustahilannya dalam artikelnya “The Origin of Life” yang dimuat dalam American Scientist pada bulan Oktober 1994 :
Jika kita amati, skenario ini mungkin saja terjadi jika RNA prebiotik memiliki dua sifat yang tidak dimilikinya sekarang: kemampuan untuk bereplikasi tanpa bantuan protein dan kemampuan untuk mengkatalisasi setiap tahap sintesis protein. 11
Cukup jelas kiranya, mengharapkan dua kemampuan yang kompleks dan luar biasa mendasar ini pada molekul seperti RNA hanya mungkin oleh daya imajinasi dan pandangan seorang evolusionis. Di lain pihak, fakta-fakta ilmiah konkret menunjukkan secara eksplisit bahwa tesis “Dunia RNA”, yang diajukan sebagai model baru pembentukan kehidupan, juga merupakan dongeng yang tidak masuk akal.


Pengakuan Para Evolusionis

Perhitungan probabilitas menunjukkan dengan jelas bahwa molekul kompleks seperti protein dan asam nukleat (RNA dan DNA) tidak pernah dapat terbentuk secara kebetulan, secara independen satu terhadap yang lain. Walaupun demikian, evolusionis harus menghadapi masalah yang lebih besar bahwa semua molekul kompleks tersebut harus muncul secara bersamaan agar kehidupan dapat muncul. Teori evolusi benar-benar dipusingkan oleh syarat tersebut. Ini adalah titik di mana sebagian evolusionis terkemuka terpaksa mengaku. Sebagai contoh, seorang kerabat dekat Stanley Miller dan Francis Crick dari University of San Diego California, evolusionis terkenal Dr. Leslie Orgel menyatakan:
Protein dan asam nukleat, masing-masing memiliki struktur yang kompleks, tidak mungkin muncul secara spontan pada tempat yang sama secara bersamaan. Tetapi tidak mungkin pula ada salah satu tanpa yang lainnya. Karena itu, pada sekilas pandangan pertama, seseorang mungkin harus menyatakan bahwa sesungguhnya kehidupan tidak dapat berasal dari senyawa kimiawi.1
Fakta yang sama diakui pula oleh ilmuwan yang lain:
DNA tidak dapat melakukan pekerjaannya, termasuk menghasilkan lebih banyak DNA, tanpa bantuan protein katalitis atau enzim. Singkatnya, protein tidak dapat terbentuk tanpa DNA, sebagaimana pula DNA tidak dapat terbentuk tanpa protein.2
Bagaimana Kode Genetis, termasuk mekanisme translasinya (ribosom dan molekul RNA), berawal? Untuk saat ini, kita terpaksa harus puas dengan keterpesonaan dan ketakjuban, dan bukan dengan sebuah jawaban. 3
Leslie E. Orgel, “The Origin of Life on Earth”, ScientificAmerican, vol.271, Oktober 1994, hlm. 78
John Horgan, “In the Beginning”, Scientific American, vol. 264, Februari 1991, hlm. 119
Douglas R. Hofstadter, Godel, Escher, Bach: An eternal Golden Braid, New York, Vintage Books, 1980, hlm. 548


Kehidupan, Konsep yang Lebih
dari Sekadar Tumpukan Molekul

Marilah sejenak kita lupakan seluruh kemustahilan dan menganggap bahwa molekul protein terbentuk dalam lingkungan yang paling tidak tepat, tidak beraturan, seperti kondisi bumi purba. Pembentukan satu protein saja tidak akan cukup. Protein ini harus sabar menunggu selama ribuan bahkan jutaan tahun dalam lingkungan yang tidak beraturan tanpa mengalami kerusakan, sampai protein lain terbentuk secara kebetulan di dekatnya dalam kondisi yang sama. Protein tersebut harus menunggu hingga jutaan protein yang tepat terbentuk di sekitarnya dalam kondisi lingkungan yang sama, seluruhnya "secara kebetulan". Protein-protein yang terbentuk lebih dulu harus cukup sabar menunggu tanpa dirusak sinar ultraviolet dan efek-efek mekanis yang keras sampai protein lain muncul di dekat mereka. Kemudian protein-protein ini dalam jumlah memadai, yang semuanya muncul pada tempat yang sama, akan bergabung menghasilkan kombinasi fungsional dan membentuk organel-organel sel. Tidak ada senyawa berlebih, molekul berbahaya atau rantai protein tak berguna yang mengganggu mereka. Kemudian, bahkan bila organel-organel tersebut bergabung secara harmonis dan sesuai dengan rancangan dan urutannya, mereka harus dilengkapi enzim-enzim penting dan menutup diri dengan sebuah membran. Ruangan dalam membran harus diisi dengan cairan istimewa untuk menyediakan lingkungan ideal bagi organel-organel tersebut. Sekarang, sekalipun semua kejadian “yang sangat tidak mungkin” ini secara kebetulan benar-benar terjadi, apakah tumpukan molekul ini akan hidup?
Jawabannya adalah “tidak”, karena penelitian telah mengungkapkan bahwa kombinasi seluruh bahan penting bagi kehidupan saja tidak cukup untuk memulai suatu kehidupan. Bahkan bila seluruh protein pen-ting bagi kehidupan dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi, usaha ini tidak akan menghasilkan satu pun sel hidup. Seluruh eksperimen mengenai hal ini telah terbukti tidak berhasil. Seluruh observasi dan eksperimen menunjukkan bahwa kehidupan hanya muncul dari kehidupan. Pernyataan bahwa kehidupan berevolusi dari benda mati atau “abiogenesis” adalah kisah yang hanya ada dalam mimpi evolusionis, dan sama sekali berbeda dengan setiap hasil eksperimen dan observasi.
Dalam hal ini, kehidupan pertama di bumi ini harus berasal dari kehidupan lain. Ini merupakan refleksi asma Allah yaitu “Al Hayyun” (Pemilik Kehidupan). Kehidupan dapat dimulai, berlanjut dan berakhir hanya dengan kehendak-Nya. Sedangkan evolusi, selain tidak mampu menjelaskan bagaimana kehidupan dimulai, juga bagaimana bahan-bahan penting bagi kehidupan dapat terbentuk dan bersatu.
Chandra Wickramasinghe menggambarkan realitas yang dihadapinya sebagai ilmuwan yang seumur hidup diajari bahwa kehidupan muncul dari peristiwa-peristiwa kebetulan:
Sejak masa pendidikan untuk menjadi seorang ilmuwan, otak saya benar-benar dicuci agar percaya bahwa ilmu pengetahuan tidak sesuai dengan pen-ciptaan yang 'disengaja'. Pemikiran tentang penciptaan ini harus disingkirkan dengan cara yang menyakitkan. Pada saat ini, saya tidak dapat menemukan argumentasi rasional untuk mengalahkan ajakan mempercayai Tuhan. Kami biasanya memiliki pikiran terbuka; dan sekarang, kami sadar bahwa satu-satunya jawaban logis atas kehidupan ini adalah penciptaan—bukan proses acak dan kebetulan. 12


Hukum II Termodinamika
Menggugurkan Teori Evolusi

Hukum II Termodinamika, yang dianggap sebagai salah satu hukum dasar ilmu fisika, menyatakan bahwa pada kondisi normal semua sistem yang dibiarkan tanpa gangguan cenderung menjadi tak teratur, terurai, dan rusak sejalan dengan waktu. Seluruh benda, hidup atau mati, akan aus, rusak, lapuk, terurai, dan hancur. Akhir seperti ini mutlak akan dihadapi semua makhluk dengan caranya masing-masing dan menurut hukum ini, proses yang tak terelakkan ini tidak dapat dibalikkan.
Kita semua mengamati hal ini. Sebagai contoh, jika Anda meninggalkan sebuah mobil di padang pasir, Anda tidak akan menemukannya dalam keadaan lebih baik ketika Anda menengoknya beberapa tahun kemudian. Sebaliknya, Anda akan melihat bannya kempes, kaca jendelanya pecah, sasisnya berkarat, dan mesinnya rusak. Proses yang sama tak terhindarkan berlaku pula pada makhluk hidup, bahkan lebih cepat.
Hukum II Termodinamika adalah cara mendefinisikan proses alam ini dengan persamaan dan perhitungan fisika.
Hukum fisika yang terkenal ini disebut juga “Hukum Entropi”. Entropi adalah selang ketidakteraturan yang terjadi dalam suatu sistem. Entropi sistem meningkat ketika sistem itu bergerak dari keadaan teratur, terorganisir, dan terencana menuju keadaan yang lebih tidak teratur, tersebar dan tidak terencana. Semakin tidak teratur suatu sistem, semakin tinggi pula entropinya. Hukum Entropi menyatakan bahwa seluruh alam semesta bergerak menuju keadaan yang semakin tidak teratur, tidak terencana, dan tidak terorganisir.
Keabsahan Hukum II Termodinamika atau Hukum Entropi ini telah terbukti, baik secara eksperimen maupun teoretis. Para ilmuwan terpenting di masa kita menyetujui fakta bahwa Hukum Entropi akan menjadi paradigma yang mendominir hingga periode sejarah mendatang. Albert Einstein, ilmuwan terbesar di masa kita ini mengakuinya sebagai “hukum utama dari semua sains”. Sir Arthur Eddington juga menyebutnya sebagai “hukum metafisika tertinggi di seluruh jagat”.1
Teori evolusi adalah klaim yang diajukan dengan sepenuhnya mengabaikan hukum fisika yang mendasar dan memiliki kebenaran universal ini. Mekanisme yang diajukan evolusi benar-benar bertentangan dengan hukum ini. Teori evolusi menyatakan bahwa atom-atom dan molekul-molekul yang tidak hidup, tidak teratur dan tersebar, sejalan dengan waktu menyatu secara spontan dalam urutan dan perencanaan tertentu membentuk molekul-molekul yang luar biasa kompleks seperti protein, DNA dan RNA. Kemudian mereka lambat laun menghasilkan jutaan spesies makhluk hidup yang berbeda, bahkan dengan struktur yang lebih kompleks lagi. Menurut teori evolusi, proses yang diperkirakan ini – yang menghasilkan struktur yang lebih terencana, lebih teratur, lebih kompleks dan lebih terorganisir – terbentuk dengan sendirinya pada tiap tahapan dalam kondisi alamiah. Hukum Entropi menegaskan bahwa apa yang disebut proses alamiah ini jelas bertentangan dengan hukum-hukum fisika.
Ilmuwan evolusionis juga menyadari fakta ini. J. H. Rush menyatakan:
Dalam perjalanan evolusinya yang kompleks, kehidupan menunjukkan perbedaan yang sangat besar dibandingkan kecenderungan yang dinyatakan Hukum II Termodinamika. Sementara Hukum II menyatakan pergerakan irreversibel ke arah entropi yang lebih tinggi dan tak teratur, kehidupan terus berevolusi ke tingkat keteraturan yang lebih tinggi.2
Dalam sebuah artikel di majalah Science, ilmuwan evolusionis, Roger Lewin, menyatakan kebuntuan evolusi secara termodinamika:
Satu masalah yang dihadapi para ahli biologi adalah pertentangan nyata oleh evolusi terhadap Hukum II Termodinamika. Semua sistem seharusnya rusak sejalan dengan waktu, semakin tidak teratur, bukan sebaliknya.3
Ilmuwan evolusionis lainnya, George Stravropoulos, menyatakan kemustahilan termodinamis dari pembentukan kehidupan secara spontan dan ketidaklayakan penjelasan adanya mekanisme-mekanisme makhluk hidup yang kompleks melalui hukum-hukum alam. Ini dinyatakannya dalam majalah evolusionis terkenal, American Scientist:
Namun sesuai dengan Hukum Termodinamika II, dalam kondisi biasa tidak ada molekul organik kompleks dapat terbentuk secara spontan, tetapi sebaliknya akan hancur. Memang, semakin kompleks sebuah molekul, semakin tidak stabil keadaannya dan semakin pasti kehancurannya, cepat atau lambat. Kendatipun melalui pembahasaan yang membingungkan atau sengaja dibuat membingungkan, fotosintesis dan semua proses kehidupan, serta kehidupan itu sendiri, tidak dapat dipahami berdasarkan ilmu termodinamika ataupun ilmu pasti lainnya.4


Mitos "Sistem Terbuka"

Dihadapkan pada semua kebenaran ini, evolusionis terpaksa berlindung dengan menyimpangkan Hukum II Termodinamika, dengan mengatakan bahwa hukum ini berlaku hanya untuk “sistem tertutup”, dan tidak dapat menjangkau “sistem terbuka”.
Suatu “sistem terbuka” merupakan sistem termodinamis di mana materi dan energi dapat keluar-masuk. Sedangkan dalam “sistem tertutup”, materi dan energi tetap konstan. Evolusionis menyatakan bahwa bumi merupakan sebuah sistem terbuka. Bumi terus menerima energi dari matahari, sehingga hukum entropi tidak berlaku pada bumi secara keseluruhan; dan makhluk hidup yang kompleks dan teratur dapat terbentuk dari struktur-struktur mati yang sederhana dan tidak teratur.
Namun ada penyimpangan nyata dalam pernyataan ini. Fakta bahwa sistem memperoleh aliran energi tidaklah cukup untuk menjadikan sistem ini teratur. Diperlukan mekanisme khusus untuk membuat energi berfungsi. Sebagai contoh, mobil memerlukan mesin, sistem transmisi, dan mekanisme kendali untuk mengubah bahan bakar menjadi energi untuk menggerakkan mobil. Tanpa sistem konversi energi seperti itu, mobil tidak dapat menggunakan energi dari bahan bakar.
Hal yang sama berlaku juga dalam kehidupan. Kehidupan memang mendapatkan energi dari matahari, namun energi matahari hanya dapat diubah menjadi energi kimia melalui sistem konversi energi yang sangat kompleks pada makhluk hidup (seperti fotosintesis pada tumbuhan dan sistem pencernaan pada manusia dan hewan). Tidak ada makhluk hidup yang dapat hidup tanpa sistem konversi energi semacam itu. Tanpa sistem konversi energi, matahari hanyalah sumber energi destruktif yang membakar, menyengat dan melelehkan.
Dapat dilihat, suatu sistem termodinamika, baik terbuka maupun tertutup, tidak menguntungkan bagi evolusi tanpa mekanisme konversi energi. Tidak ada seorang pun menyatakan bahwa mekanisme sadar dan kompleks semacam itu muncul di alam dalam kondisi bumi purba. Memang, masalah nyata yang dihadapi evolusionis adalah bagaimana mekanisme konversi energi yang kompleks ini — seperti fotosintesis tumbuhan yang tidak dapat ditiru, bahkan dengan teknologi modern — dapat muncul dengan sendirinya.
Aliran energi matahari ke bumi tidak dapat menciptakan keteraturan dengan sendirinya. Setinggi apa pun suhunya, asam-asam amino tidak akan membentuk ikatan dengan urutan teratur. Energi saja tidak cukup untuk pembentukan struktur lebih kompleks dan teratur, seperti asam amino membentuk protein atau protein membentuk struktur terorganisir yang lebih kompleks pada organel-organel sel. Sumber nyata dan penting dari keteraturan pada semua tingkat adalah rancangan sadar, dengan kata lain, penciptaan.

PENGELAKAN “TEORI KHAOS”
Menyadari bahwa Hukum II Termodinamika membuat evolusi mustahil terjadi, sejumlah ilmuwan evolusionis telah melakukan upaya spekulatif untuk menutup jurang pemisah antara keduanya sehingga memungkinkan terjadinya evolusi. Seperti biasa, ikhtiar itu malah menunjukkan bahwa teori evolusi menghadapi jalan buntu yang tak terelakkan.
Seorang yang menonjol dengan upayanya untuk mengawinkan termodinamika dengan evolusi adalah ilmuwan Belgia, Ilya Prigogine.
Dengan mengawali dari Teori Khaos, Prigogine mengajukan sebuah hipotesa di mana keteraturan terbentuk dari khaos (kekacauan). Meskipun telah mengerahkan upaya terbaiknya, Prigogine tidak mampu melakukan perkawinan itu. Ini jelas terlihat pada komentarnya:
Ada pertanyaan lain, yang telah mengganggu kita selama lebih dari satu abad: Apa signifikansi yang dimiliki evolusi makhluk hidup dalam dunia yang diuraikan oleh termodinamika, dunia dengan ketidakteraturan yang terus meningkat?6
Prigogine, yang sangat paham bahwa teori-teori pada tingkat molekuler tidak dapat dipakai pada sistem kehidupan, seperti sel hidup, menekankan masalah ini:
Masalah keteraturan biologis melibatkan peralihan dari aktivitas molekuler hingga keteraturan supermolekuler dari sel. Masalah ini jauh dari terselesaikan.7
Inilah poin paling akhir yang dicapai Teori Khaos dan spekulasi yang terkait. Tidak ada hasil konkret yang telah dicapai yang akan mendukung atau membenarkan evolusi atau menghilangkan kontradiksi antara evolusi, entropi, dan hukum-hukum fisika lainnya.
Meskipun semua fakta yang teramat jelas ini, para evolusionis mencoba untuk berlindung dengan dalih-dalih sederhana. Kebenaran ilmiah yang nyata menunjukkan bahwa makhluk-makhluk hidup dan struktur makhluk hidup yang teratur, terencana, dan kompleks tidak mungkin muncul dengan peristiwa kebetulan di bawah keadaan normal. Situasi ini memperjelas bahwa keberadaan makhluk hidup hanya dapat dijelaskan dengan campur tangan suatu kekuatan supernatural. Kekuatan supernatural itu adalah Allah, yang menciptakan seluruh alam semesta dari ketiadaan. Sains telah membuktikan bahwa evolusi masih tetap mustahil sejauh berkaitan dengan termodinamika dan keberadaan dari kehidupan tidak memiliki penjelasan lain kecuali Penciptaan.

1 Jeremy Rifkin, Entropy: A New World View, New York, Viking Press, 1980, hlm.6
2 J. H.Rush, The Dawn of Life, New York, Signet, 1962, hlm 35
3 Roger Lewin, "A Downward Slope to Greater Diversity", Science, vol. 217, 24.9.1982, hlm. 1239
4 George P. Stravropoulos, "The Frontiers and Limits of Science", American Scientist, vol. 65, November-Desember 1977, hlm.674
5 Jeremy Rifkin, Entropy: A New World View, hlm.55
6 Ilya Prigogine, Isabelle Stengers, Order Out of Chaos, New York, Bantam Books, 1984, hlm. 129
7 Ilya Prigogine, Isabelle Stengers, Order Out of Chaos, hlm. 175


TEORI INFORMASI DAN
AKHIR DARI MATERIALISME


Filsafat materialis merupakan dasar dari teori evolusi. Materialisme bersandar pada anggapan bahwa segala sesuatu yang ada adalah materi. Menurut filsafat ini, materi telah ada semenjak keabadian, akan terus ada selamanya, dan tidak ada apa pun selain materi. Untuk mendukung klaim mereka, para materialis menggunakan sebuah logika yang disebut “reduksionisme”. Reduksionisme adalah gagasan bahwa benda yang tidak teramati seperti materi juga dapat dijelaskan dengan penyebab yang bersifat materi.
Untuk menjelaskan ini, mari kita ambil contoh tentang pikiran manusia. Jelas, pikiran manusia bukanlah sesuatu yang “tersentuh oleh tangan, dan terlihat oleh mata”. Lebih jauh lagi, tidak ada “pusat pikiran” di dalam otak manusia. Situasi ini, tak terhindarkan membawa kita kepada kesimpulan bahwa pikiran adalah suatu konsep di luar materi. Oleh karena itu, makhluk yang kita panggil “aku”, yang berpikir, mencintai, merasa gugup, khawatir, merasa senang atau sakit bukanlah bentuk materi seperti sofa, meja, atau batu.
Walaupun begitu, para materialis mengklaim bahwa pikiran adalah “reduksi dari materi”. Menurut klaim materialis, pikiran, rasa cinta, kekhawatiran dan semua aktivitas mental kita tidak lain dari reaksi kimia yang berlangsung di antara atom di dalam otak kita. Rasa cinta kita kepada seseorang adalah reaksi kimia pada sejumlah sel di dalam otak kita, dan perasaan takut karena suatu peristiwa tertentu adalah reaksi kimia lainnya. Filsuf materialis terkenal, Karl Vogt menekankan logika ini dengan kata-katanya yang terkenal, “Sebagaimana hati mengeluarkan empedu, begitu pula otak kita mengeluarkan pikiran”. Namun, empedu adalah materi, sedangkan tidak ada bukti bahwa pikiran adalah materi.
Reduksionisme adalah sebuah deduksi logika. Namun, deduksi logika dapat didasarkan pada landasan yang lembut sebagaimana pada landasan yang bergoncang. Karena itu, pertanyaan yang menghadang kita sementara ini adalah: Apa hasilnya jika reduksionisme, logika dasar dari materialisme, dibandingkan dengan data ilmiah?
Ilmuwan dan pemikir materialis abad ke-19 mengira bahwa pertanyaan ini dapat dijawab dengan mudah berupa “sains membenarkan reduksionisme”. Namun, sains abad ke-20 mengungkapkan sebuah fakta yang sangat berbeda.
Fakta ini adalah “informasi”, yang terdapat di alam dan tidak akan pernah dapat direduksi menjadi materi.


Perbedaan Antara Materi dan Informasi

Sebelumnya telah disebutkan bahwa terdapat informasi yang luar biasa komprehensif di dalam DNA makhluk hidup. Di suatu tempat yang kecilnya seperseratus ribu millimeter, terdapat semacam “bank data” yang menspesifikasi semua detail fisik dari tubuh suatu makhluk hidup. Lebih dari itu, terdapat sebuah sistem di dalam tubuh makhluk hidup yang membaca informasi ini, menerjemahkannya dan “berproduksi” sesuai dengannya. Dalam semua sel hidup, informasi di dalam DNA “dibaca” oleh berbagai enzim dan protein diproduksi menurut informasi ini. Sistem ini memungkinkan produksi jutaan protein setiap detik dengan jenis yang dibutuhkan, untuk tempat yang dibutuhkan di dalam tubuh kita. Berkat sistem ini, sel-sel mata kita yang hampir mati digantikan lagi oleh sel-sel mata, dan sel-sel darah digantikan lagi oleh sel-sel darah.
Pada titik ini, mari kita pikirkan klaim materialisme: Mungkinkah informasi di dalam DNA direduksi menjadi materi seperti dikatakan para materialis? Atau, dengan kata lain, dapatkah diterima bahwa DNA hanyalah setumpuk materi dan informasi yang dikandungnya muncul sebagai interaksi materi yang acak?
Semua riset ilmiah, percobaan dan pengamatan yang dilakukan pada abad ke-20 menunjukkan bahwa pertanyaan ini pastilah harus dijawab dengan “tidak”. Direktur dari Institut Fisika dan Teknologi Federal Jerman, Prof. Dr. Werner Gitt berkomentar tentang masalah tersebut sebagai berikut:
Sistem pengkodean selalu mengekor pada proses intelektual nonmateri. Materi fisik tidak dapat menghasilkan sebuah kode informasi. Semua percobaan menunjukkan bahwa setiap potongan informasi kreatif mewakili sebentuk upaya mental dan dapat ditelusuri sampai ke individu pemberi gagasan yang menggunakan keinginan bebasnya, dan yang diberkahi dengan pikiran yang cerdas…. Tidak ada hukum alam yang diketahui, tidak ada proses yang diketahui, tidak ada rangkaian peristiwa yang diketahui yang dapat membuat informasi bermula dengan sendirinya di dalam materi….13
Komentar Werner Gitt merupakan kesimpulan dari “Teori Informasi”, yang berkembang pada 20-30 tahun terakhir dan diterima sebagai bagian dari termodinamika. Teori Informasi menyelidiki asal usul dan sifat informasi di alam semesta. Kesimpulan yang dicapai oleh para ahli teori informasi dari riset mereka yang panjang adalah bahwa “Informasi adalah sesuatu yang berbeda dari materi. Ia tidak pernah dapat direduksi menjadi materi. Asal usul informasi dan materi fisik harus diselidiki secara terpisah.”
Misalnya, mari kita pikirkan sumber dari sebuah buku. Sebuah buku terbuat dari kertas, tinta, dan informasi yang dikandungnya. Kertas dan tinta adalah unsur materi. Sumber mereka adalah juga materi. Kertas terbuat dari selulose, dan tinta terbuat dari bahan kimia tertentu. Namun, informasi di dalam buku adalah nonmateri dan tidak dapat memiliki sumber materi. Sumber informasi di dalam setiap buku, adalah pikiran dari penulis yang menulis buku itu.
Lebih dari itu, pikiran ini menentukan bagaimana kertas dan tinta akan digunakan. Sebuah buku awalnya terbentuk di dalam pikiran penulis yang menulis buku itu. Penulis membangun rangkaian logika di dalam pikirannya, dan mengurutkan kalimat-kalimat. Sebagai langkah kedua, dia mewujudkannya ke dalam bentuk materi, yang berarti menuangkan informasi di dalam pikirannya ke dalam huruf-huruf dengan menggunakan sebuah mesin tik atau komputer. Kemudian, huruf-huruf ini dicetak di percetakan dan menjadi sebentuk buku yang terbuat dari kertas dan tinta.
Oleh sebab itu, kita dapat mengakhiri dengan kesimpulan umum berikut: “Jika sebuah materi fisik mengandung informasi, maka materi itu tentu telah dirancang oleh sebuah pikiran yang memiliki informasi terkait. Pertama terdapat pikiran tersebut. Pikiran tersebut menuangkan informasi di dalamnya menjadi materi dan kemudian muncullah rancangan itu.”


Asal Usul Informasi di Alam

Ketika kita mengambil kesimpulan yang dicapai oleh sains ini ke alam, kita menemukan sebuah hasil yang sangat penting. Ini karena alam, sebagaimana dalam contoh DNA, melimpah dengan bentuk informasi yang bukan main banyaknya dan karena informasi ini tidak dapat direduksi menjadi materi, karenanya ia datang dari sumber di luar materi.
Salah satu pembela teori evolusi terkemuka, George C. Williams mengakui realitas ini, yang kebanyakan materialis dan evolusionis enggan memahaminya. Williams telah mempertahankan materialisme mati-matian selama bertahun-tahun, tetapi pada sebuah artikel yang ditulisnya pada tahun 1995, dia menyatakan ketidaktepatan pendekatan materialis (reduksionis) yang berpegang bahwa segala sesuatu adalah materi:
Ahli biologi evolusioner telah gagal untuk menyadari bahwa mereka berkerja dengan dua domain yang agak tidak dapat dibandingkan: domain informasi dan domain materi. Kedua domain ini tidak pernah bisa dihimpun bersama dalam pengertian apa pun yang biasanya diimplikasikan oleh istilah “reduksionisme”. Gen adalah suatu paket informasi, bukan suatu objek…. Di dalam biologi, jika Anda berbicara tentang hal-hal seperti gen dan genotipe dan kelompok gen, Anda berbicara tentang informasi, bukan realitas objektif fisik…. Kekurangan deskriptor-bersama ini menjadikan materi dan informasi dua domain keberadaan yang terpisah, yang harus dibicarakan secara terpisah, dalam istilah mereka sendiri-sendiri. 14
Oleh karena itu, berlawanan dengan anggapan para materialis, sumber informasi di alam tidaklah mungkin materi itu sendiri. Sumber informasi tersebut bukanlah materi tetapi suatu Kebijaksanaan luhur di luar materi. Kebijaksanaan ini ada sebelum materi. Materi mewujud dengan Dia. Materi mengambil bentuk dan menjadi terorganisir dengan-Nya. Pemilik Kebijaksanaan ini adalah Allah, Rabb sekalian alam.


KESAMAAN KERA-MANUSIA ADALAH REKAYASA


Perampungan peta gen manusia saat ini tidak memberikan hasil bahwa manusia berkerabat dengan kera. Orang tidak perlu tertipu oleh upaya para evolusionis untuk mengeksploitasi perkembangan ilmiah baru ini sebagaimana telah mereka lakukan dengan yang lain-lainnya.
Seperti diketahui, perampungan terakhir peta gen manusia sebagai bagian dari Projek Genom Manusia merupakan perkembangan ilmiah yang sangat penting. Namun, sebagian hasil dari projek ini diselewengkan oleh beberapa terbitan evolusionis. Dinyatakan bahwa gen simpanse memiliki 98% kesamaan dengan gen manusia. Ini dikemukakan sebagai bukti bagi klaim bahwa kera berhubungan dengan manusia, dan seterusnya, sebagai bukti bagi teori evolusi. Kenyataannya, ini adalah bukti “palsu” yang diajukan para evolusionis yang mengambil keuntungan dari kurangnya pengetahuan publik tentang subjek ini.


Klaim 98% Kesamaan Adalah
Propaganda yang Menyesatkan

Pertama, harus ditegaskan bahwa konsep 98% kesamaan antara DNA manusia dan simpanse yang sering dikemukakan para evolusionis bersifat memperdaya.
Agar dapat mengklaim bahwa bentuk genetis manusia dan simpanse memiliki 98% kesamaan, genom simpanse juga harus dipetakan, seperti halnya manusia. Keduanya harus dibandingkan, dan hasilnya harus didapatkan. Namun hasil semacam itu tidak tersedia, karena sejauh ini, hanya gen manusia yang telah dipetakan. Belum ada riset seperti itu dilakukan pada simpanse.
Pada kenyataannya, 98% kesamaan antara gen manusia dan simpanse, yang adakalanya memasuki agenda, adalah sebuah slogan bertujuan propaganda yang secara sengaja diciptakan beberapa tahun silam. Kesamaan ini adalah sebuah generalisasi yang dibesar-besarkan secara luar biasa dengan dilandaskan pada kesamaan dalam rangkaian asam amino dari sekitar 30-40 protein dasar yang ada pada manusia dan simpanse. Suatu analisa rangkaian telah dilakukan dengan metoda yang disebut “hibridisasi DNA” pada rangkaian DNA yang berhubungan dengan protein-protein ini dan hanya sejumlah terbatas dari protein itu yang telah dibandingkan.
Namun, sebenarnya ada sekitar seratus ribu gen, dan karenanya ada seratus ribu protein yang dikodekan oleh gen-gen ini pada manusia. Karena itu, tidak ada dasar ilmiah untuk mengklaim bahwa semua gen manusia dan kera 98% sama hanya karena kesamaan 40 dari 100.000 protein.
Di lain pihak, perbandingan DNA yang dilakukan pada 40 protein ini juga kontroversial. Perbandingan ini dibuat pada tahun 1987 oleh dua orang ahli biologi bernama Sibley dan Ahlquist, dan dipublikasikan dalam terbitan rutin bernama Journal of Molecular Evolution. 15 Namun, ilmuwan lain bernama Sarich yang menguji data yang diperoleh oleh kedua ilmuwan ini menyimpulkan bahwa tingkat kepercayaan atas metoda yang mereka gunakan kontroversial dan bahwa data tersebut telah ditafsirkan secara berlebih-lebihan.16 Dr. Don Batten, ahli biologi lainnya, juga menganalisis masalah ini pada tahun 1996 dan menyimpulkan bahwa tingkat kesamaan yang sebenarnya adalah 96,2% dan bukan 98%.17


DNA Manusia Juga Mirip dengan
Milik Cacing, Nyamuk, dan Ayam!

Lebih jauh lagi, protein-protein dasar yang disebutkan di atas adalah molekul teramat penting yang ada pada berbagai makhluk hidup lainnya. Struktur dari jenis protein yang sama, tak hanya pada simpanse, tetapi juga pada makhluk hidup yang sepenuhnya berbeda, sangat mirip dengan yang ada pada manusia.
Misalnya, analisis genetik yang dipublikasikan dalam New Scientist telah mengungkapkan 75% kesamaan antara DNA cacing nematode dan manusia.18 Ini jelas sekali tidak berarti bahwa hanya ada 25% perbedaan antara manusia dan cacing-cacing ini! Menurut rantai silsilah yang dibuat oleh para evolusionis, filum Chordata, di mana manusia tergolong, dan filum Nematoda telah berbeda satu sama lain bahkan sejak 530 juga tahun yang lalu.
Di lain pihak, dalam temuan lain yang juga muncul dalam media lokal, dinyatakan bahwa perbandingan yang dilakukan antara gen lalat buah yang berasal dari spesies Drosofila dan gen manusia menghasilkan kesamaan 60%.19
Pada kasus lain, analisis yang dilakukan terhadap sejumlah protein menunjukkan manusia sebagai berhubungan dekat dengan sejumlah makhluk hidup yang sangat berbeda. Dalam survei yang dilakukan oleh peneliti dari Universitas Cambridge, sejumlah protein dari hewan-hewan penghuni daratan dibandingkan. Yang menakjubkan, dalam hampir semua sampel, manusia dan ayam dipasangkan sebagai kerabat terdekat. Kerabat terdekat selanjutnya adalah buaya.20
Contoh lain yang digunakan oleh para evolusionis tentang “kesamaan genetis antara manusia dan kera” adalah terdapatnya 48 kromosom pada simpanse dan gorila dibandingkan dengan 46 kromosom pada manusia. Para evolusionis memandang kedekatan jumlah kromosom sebagai indikasi dari hubungan evolusioner. Namun, jika logika yang dipakai oleh para evolusionis ini sahih, maka manusia akan mempunyai kerabat yang lebih dekat daripada simpanse, yakni: “kentang”! Karena jumlah kromosom pada kentang sama dengan pada manusia: 46.
Contoh-contoh ini menegaskan bahwa konsep kesamaan genetis tidak merupakan bukti bagi teori evolusi. Ini karena kesamaan genetis tidak sejalan dengan skema evolusioner rekaan, dan sebaliknya, memberikan hasil yang sepenuhnya berlawanan.
Kesamaan Genetis Merusak “Skema Evolusi”
yang Coba untuk Diangkat

Tidak mengejutkan, ketika isu tersebut dievaluasi secara keseluruhan, tampaklah bahwa subjek “kesamaan biokimia” tidak merupakan bukti bagi evolusi, tetapi lebih meninggalkan teori tersebut dalam situasi yang sulit. Dr. Christian Schwabe, peneliti biokimia dari Fakultas Kesehatan South Carolina University, adalah seorang ilmuwan evolusionis yang telah menghabiskan waktu bertahun-tahun mencari bukti evolusi dalam domain molekuler. Khususnya ia melakukan riset atas insulin dan protein-protein tipe ralaxin dan mencoba untuk mengembangkan hubungan evolusioner antara makhluk hidup. Namun, ia harus mengakui berkali-kali bahwa ia tidak dapat menemukan bukti apa-apa bagi evolusi pada bagian mana pun dari kajiannya. Dalam sebuah artikel yang diterbitkan dalam sebuah jurnal ilmiah, ia menyebutkan:
Evolusi molekuler akan diterima sebagai metoda unggul bagi paleontologi karena penemuan hubungan evolusioner. Sebagai evolusionis molekuler saya seharusnya berbesar hati. Alih-alih tampaknya membingungkan bahwa banyak terdapat pengecualian pada progresi spesies secara berurutan sebagaimana yang ditentukan oleh homologi molekuler; begitu banyaknya sehingga sebenarnya saya pikir pengecualian, kekhususan, boleh jadi membawa pesan yang lebih penting.21
Berdasarkan temuan-temuan terbaru di bidang biologi molekuler, ahli biokimia terkenal Prof. Michael Denton berkomentar sebagai berikut:
Setiap kelas pada tingkat molekuler adalah unik, terisolasi dan tidak terhubung oleh perantara. Dengan demikian, molekul, seperti fosil, telah gagal menyediakan perantara yang tak terjelaskan yang begitu lama dicari oleh biologi evolusioner…. Pada tingkat molekuler, tidak ada organisme yang “leluhur” atau “primitif” atau “maju” dibandingkan dengan kerabatnya…. Ada sedikit keraguan bahwa jika bukti molekuler ini telah tersedia seabad yang lalu…. Ide evolusi organik mungkin tidak pernah akan diterima.22


Kesamaan Bukanlah Bukti bagi
Evolusi tetapi bagi Penciptaan

Sudah tentu alamiah bagi tubuh manusia untuk memiliki sejumlah kesamaan molekuler dengan makhluk hidup lainnya, karena mereka semua terbuat dari molekul yang sama, mereka semua menggunakan air dan atmosfer yang sama, dan mereka semua mengkonsumsi makanan yang mengandung molekul yang sama. Tentunya, metabolisme mereka dan oleh karena itu, tampilan genetiknya akan saling menyerupai. Ini, bagaimanapun, bukanlah bukti bahwa mereka berevolusi dari nenek moyang yang sama.
“Material yang sama” ini bukanlah hasil dari evolusi tetapi dari “rancangan yang sama”, yaitu, mereka diciptakan dengan perencanaan yang sama.
Hal ini dapat dijelaskan dengan sebuah contoh; semua konstruksi di dunia dilakukan dengan material yang serupa (batu bata, besi, semen, dst.). Ini, bagaimanapun, tidak berarti bahwa bangunan-bangunan ini “berevolusi” dari sesamanya. Mereka dikonstruksi secara terpisah dengan menggunakan material yang sama. Hal serupa juga terjadi pada makhluk hidup.
Kehidupan tidak berasal mula sebagai hasil dari berbagai peristiwa kebetulan yang tak disengaja sebagaimana klaim evolusi, tetapi sebagai hasil dari penciptaan oleh Allah, yang Mahakuasa, pemilik pengetahuan dan kearifan yang tidak terbatas.
Kesimpulan


Sebagai tambahan bagi semua informasi yang telah dirincikan sejauh ini, akan bermanfaat untuk menekankan fakta lain.
Di luar kesamaan luar di antara mereka, kera tidak lebih dekat kepada manusia dibandingkan binatang lain. Lebih dari itu, ketika kecerdasan digunakan sebagai poin perbandingan, lebah, yang menghasilkan keajaiban geometris pada sarangnya, atau laba-laba, yang menghasilkan keajaiban rekayasa pada jaringnya, lebih dekat kepada manusia daripada kera. Kita bahkan dapat katakan bahwa mereka lebih unggul dalam beberapa aspek.
Antara manusia dan kera, betapapun, ada sebuah jurang pemisah yang lebar, yang tak akan pernah didekatkan oleh cerita dongeng. Tetap, seekor kera adalah binatang yang tidak berbeda dari kuda atau anjing dalam hal kesadaran. Manusia, bagaimanapun, adalah makhluk yang memiliki kesadaran dan kehendak, yang dapat berpikir, berbicara, mempertimbangkan, memutuskan, dan menilai. Semua kualitas ini adalah fungsi dari “jiwa” yang dimilikinya. Perbedaan terpenting yang mengakibatkan jurang yang begitu besar antara manusia an makhluk hidup lainnya. Satu-satunya makhluk yang memiliki “jiwa” di alam adalah manusia.
Di dalam Al Quran, kualitas unggul yang dimiliki manusia ini, yang membedakannya dari makhluk hidup lainnya disebutkan sebagai berikut:
Lalu Dia membentuknya….. (QS. As-Sajdah, 21: 9)
KESALAHAN KONSEPSI MATERIALIS-DARWINIS TENTANG PROJEK
GENOM MANUSIA


Dengan pengumuman poin terakhir yang dicapai dalam Projek Genom Manusia, sejumlah badan penerbitan mulai menyampaikan pesan-pesan menyesatkan dan memberi informasi yang salah kepada publik sehingga kebuntuan teori evolusi yang ditemui tidak terungkap lebih jauh.
Sebelumnya, telah disebutkan pesan-pesan menyesatkan yang diberikan para evolusionis tentang “kesamaan genetik” dan dijelaskan bahwa hal ini adalah penafsiran subjektif yang tidak memberikan bukti apa-apa bagi teori evolusi. Subjek yang paling banyak dipromosikan dan disoroti oleh media materialis-Darwinis adalah klaim bahwa penemuan peta gen menunjukkan bahwa takdir yang ditetapkan Tuhan dapat ditantang. Ini merupakan kesalahan konsepsi dan muslihat yang diajukan oleh kalangan tertentu. Pokok berita yang muncul baru-baru ini pada media cetak dan dalam forum diskusi di program televisi memberi kesan indoktrinasi terselubung. Merupakan kesalahan besar untuk menampilkan informasi mengenai projek genom manusia disertai dengan pesan-pesan seperti “Manusia tidak lagi dikalahkan oleh takdirnya.” Padahal sebenarnya, pemetaan gen manusia tidak memiliki relevansi apa-apa dengan perjalanan nasib seseorang.


Perjalanan Nasib Tak Dapat Diubah

Takdir adalah pengetahuan sempurna milik Allah tentang semua peristiwa masa lampau atau masa depan sebagai satu momen tunggal. Kebanyakan manusia mempertanyakan bagaimana Tuhan dapat mengetahui terlebih dahulu berbagai peristiwa yang belum terjadi dan ini membuat mereka gagal memahami fakta dari takdir. Oleh karena itu, masa lalu, masa depan, dan masa sekarang sama saja bagi Tuhan; karena bagi-Nya segala sesuatu telah pada tempatnya dan selesai.
Hal ini benar bagi setiap orang dan setiap kejadian. Misalnya, Tuhan telah menciptakan setiap orang dengan masa hidup tertentu dan saat kematian setiap orang telah ditentukan, sebagaimana tempatnya, waktu dan bentuknya dalam pandangan Tuhan. Jika, di tahun-tahun mendatang, umur seseorang diperpanjang dengan intervensi tepat pada waktunya pada gen, ini tidak akan berarti bahwa kejadian ini mengalahkan takdir seseorang. Artinya sederhana: Allah memberinya hidup yang panjang dan Dia menjadikan perampungan pemetaan gen sebagai jalan bagi hidupnya yang panjang. Penemuan peta gen, bahwa seseorang hidup dalam periode tersebut dan hidupnya diperpanjang dengan sarana ilmiah adalah nasibnya. Semua ditentukan dalam pandangan Allah sebelum orang ini lahir ke dunia.
Begitu pula, seseorang yang penyakit parahnya disembuhkan melalui penemuan yang dilakukan dalam lingkup projek ini juga tidak mengubah nasibnya. Ini karena memang nasibnya untuk sembuh dari penyakitnya dengan bantuan projek ini. Maka dari itu, perampungan projek genom manusia dan fakta bahwa manusia akan sanggup campur tangan pada rancang bangun genetik, tidak berarti menentang nasib yang diciptakan Allah. Sebaliknya, dengan cara ini, kemanusiaan mengikuti perkembangan yang diciptakan Allah baginya, dan menyelidiki serta mengambil manfaat dari informasi yang diciptakan Allah. Jika seseorang hidup selama 120 tahun berkat perkembangan ilmiah ini, hal ini tentulah umur yang telah ditentukan Allah baginya, karenanya ia hidup begitu lama.
Singkatnya, ungkapan seperti “Aku menipu takdirku”, “Aku mengubah nasibku”, atau “Aku campur tangan atas nasibku” adalah konsekuensi dari pengabaian yang disebabkan oleh ketidaktahuan atas fakta tentang takdir. Di lain pihak, bahwa seseorang akan menggunakan ungkapan ini juga telah ditakdirkan sebelumnya; bagaimana, kapan, dan dalam kondisi mana dia akan membuat pernyataan ini, semua ditentukan dalam pandangan Allah.


Mengkloning Manusia atau Makhluk
Hidup Lainnya Bukanlah Menciptakan

Dalam sejumlah terbitan, diduga bahwa dengan kemajuan ilmu genetika, manusia akan dikloning dan karenanya, manusia akan menciptakan manusia. Ini juga, merupakan logika yang menyimpang dan terlalu berlebih-lebihan. Menciptakan artinya membawa sesuatu kepada keberadaan dari ketiadaan, dan perbuatan ini khusus bagi Allah semata. Pembuatan kopi identik dari makhluk hidup melalui pengkopian informasi genetik tidak berarti bahwa makhluk hidup ini diciptakan. Ketika manusia atau makhluk hidup apa pun dikloning, sel-sel suatu makhluk hidup diambil dan dikopi. Namun, tidak pernah satu pun sel hidup tunggal diciptakan dari ketiadaan oleh manusia.
Oleh karena itu, penemuan rancang bangun genetik manusia sama sekali tidak menunjukkan tantangan manusia atas takdirnya, dan tidak akan pernah bisa. Setiap peristiwa, setiap pembicaraan dan perkembangan, semuanya telah ditentukan sebelumnya dalam penglihatan Allah menurut takdir tertentu. Begitu pula perkembangan dan inovasi ilmiah yang akan mereka temukan. Allah adalah Yang Maha Mengetahui dan Maha Meliputi. Fakta bahwa segala sesuatu, besar atau kecil, berlangsung dalam pengetahuan Allah dinyatakan dalam Al Quran sebagai berikut:
(QS. Yunus, 10: 61)
TAMBAHAN: KLAIM FOSIL TERAKHIR DARI TEORI EVOLUSI JUGA
TELAH TINGGAL SEJARAH


Teori evolusi menemui kekalahan yang menghancurkan dalam paleontologi sebagaimana di dalam topik-topik biokimia seperti gen, DNA dan sistem sel. Fosil menunjukkan bahwa spesies mahkluk hidup tidak berevolusi satu sama lain, tetapi diciptakan secara terpisah dengan ciri-ciri spesifik individuil mereka.
Menurut teori evolusi, semua makhluk hidup berasal dari pendahulu. Sebuah spesies yang telah ada sebelumnya lama-kelamaan berubah menjadi spesies lain dan semua spesies muncul dengan cara seperti ini. Menurut teori tersebut, perubahan ini terjadi secara perlahan dalam periode perubahan yang panjang.
Jika demikian halnya, seharusnya banyak “spesies antara” bermunculan dan hidup dalam periode panjang perubahan yang diperkirakan.
Misalnya, mestilah pernah hidup di masa silam sejumlah makhluk separo ikan/ separo reptil yang telah memperoleh beberapa sifat reptil sebagai tambahan atas sifat ikan yang telah mereka miliki. Atau seharusnya telah terdapat sejumlah reptil-burung, yang memperoleh beberapa sifat burung sebagai tambahan atas sifat reptil yang telah mereka miliki. Karena bentuk-bentuk ini berada dalam fase transisi, mereka tentunya merupakan makhluk hidup yang cacat, lumpuh, dan tidak sempurna. Para evolusionis menyebut makhluk-makhluk khayalan ini, yang mereka percayai pernah hidup di masa lampau, sebagai “bentuk-bentuk transisi”.
Jika binatang-binatang seperti itu benar-benar pernah ada, mereka seharusnya ada jutaan dan jutaan lagi jumlah dan variasinya. Darwinisme hancur tepat pada titik ini, karena tidak ada satu pun jejak dari “bentuk transisi antara” khayalan ini.
Fakta ini telah diketahui sejak lama. Namun, para evolusionis berspekulasi pada beberapa fosil, mencoba untuk mengajukan mereka sebagai “bentuk transisi antara” dan menenangkan diri sendiri dengan berkata, “baru beberapa bentuk antara ditemukan sejauh ini, tetapi di masa mendatang semuanya akan digali”. Fosil paling penting yang diajukan sebagai bentuk antara adalah fosil burung yang telah punah 150 juta tahun yang lalu, yang dinamakan Archaeopteryx. Para evolusionis mengklaim bahwa burung ini memiliki sifat-sifat reptil. Meskipun fakta bahwa klaim mereka telah dibantah satu per satu dan telah terbukti bahwa Archaeopteryx bukanlah bentuk transisi antara namun suatu spesies burung yang terbang, mereka dengan putus asa mempertahankan fosil terakhir yang mereka punyai ini.


“Penemuan Fosil Mengancam Teori Evolusi Burung”

Akhirnya, sebuah fosil yang ditemukan beberapa waktu lalu, secara lugas mencampakkan harapan terakhir dari evolusionis ini. Sebagaimana dikutip dari sumber-sumber evolusionis, sebuah fosil ditemukan dan mengungkapkan bahwa nenek moyang burung kuno bukanlah dinosaurus atau makhluk hidup lain mana pun, melainkan seekor burung.
Berita tentang penemuan ini pertama kali muncul di media dunia pada tanggal 23 Juni 2000, dalam New York Times dengan tajuk “Penemuan Fosil Mengancam Teori Evolusi Burung”. Artikel ini tentang fosil seekor burung yang baru saja digali di Timur Tengah. Jurnal ilmiah terkemuka seperti Science dan Nature dan stasiun televisi BBC yang termasyhur di seantero dunia menyiarkan perkembangan terakhir ini sebagai berikut: “Telah ditemukan bahwa fosil yang digali di Timur Tengah dan diperkirakan telah hidup 220 juta tahun yang lalu, ditutupi oleh bulu, memiliki tulang garpu sama seperti Archaeopteryx dan burung modern, dan terdapat tangkai berongga di dalam bulunya. HAL INI MENGGUGURKAN KLAIM BAHWA ARCHAEOPTERYX ADALAH NENEK MOYANG BURUNG, karena fosil yang ditemukan 75 juta tahun lebih tua daripada Archaeopteryx. Ini berarti SEEKOR BURUNG YANG SEBENARNYA DENGAN SEMUA SIFAT KHASNYA TELAH ADA 75 JUTA TAHUN SEBELUM MAKHLUK YANG DIPERKIRAKAN SEBAGAI NENEK MOYANG BURUNG”.


Tonggak Utama dalam Sejarah Paleontologi

Pengakuan para evolusionis sendiri bahwa Archaeopteryx bukanlah “bentuk transisi antara” yang menjadi bukti bagi evolusi adalah sebuah tonggak penting dalam sejarah paleontologi. Ini karena selama sekitar 150 tahun, Archaeopteryx terus-menerus menjadi yang paling menonjol di antara sangat sedikit dari yang disebut “bentuk transisi antara” yang dapat diajukan para evolusionis. Namun, pintu pelarian ini pun telah tertutup kini, dan dunia paleontologi harus menghadapi kebenaran yang nyata, bahwa tidak ada satu pun fosil yang dapat memberikan bukti bagi evolusi.
Akibatnya jelas. New York Times juga menyetujui fakta itu dan menurunkan tajuk “Penemuan Fosil Mengancam Teori Evolusi Burung”. Ini benar. Sudah tentu, nenek moyang burung adalah burung. Nenek moyang ikan adalah ikan, nenek moyang kuda adalah kuda, nenek moyang kanguru adalah kanguru, dan nenek moyang manusia adalah manusia. Dengan kata lain, semua kelas makhluk hidup yang berbeda muncul dalam bentuk sempurna dan spesifik yang mereka miliki saat ini. Dengan kata lain, mereka diciptakan oleh Tuhan.
Perlawanan konservatif yang ditunjukkan para evolusionis terhadap fakta nyata ini sekarang telah kehilangan landasan terakhirnya.
TEKS GAMBAR: Hlm. 7: DNA, yang ditemukan di dalam nukleus dari 100 triliun sel di dalam tubuh kita, mengandung rancang bangun lengkap dari tubuh manusia. Nyatalah bahwa molekul yang begitu kompleks tidak mungkin terbentuk oleh peristiwa kebetulan secara spontan, sebagai hasil dari proses evolusi.
Hlm 10: Informasi yang dibutuhkan untuk menentukan rancangan dari semua spesies organisme yang hidup di atas planet ini, yang diperkirakan satu miliar jumlahnya, dapat disimpan di dalam sebuah sendok the dan masih terdapat cukup ruang untuk semua informasi dalam semua buku yang pernah ditulis.
Hlm. 11: sel menyerupai sebuah pabrik besar yang terdiri atas sistem pengantar, pusat penyimpanan informasi, ruangan untuk melakukan proses kimia, pembangkit daya, dan pusat pengepakan. Satu-satunya perbedaan antara sel dan sebuah pabrik adalah ukuran sel yang mikroskopis.
Hlm 14: Struktur kompleks sebuah sel hidup tidak dikenal pada masa Darwin dan pada waktu itu, menganggap kehidupan berasal dari “peristiwa-peristiwa kebetulan dan kondisi-kondisi alamiah” dianggap para evolusionis cukup meyakinkan. Namun, probabilitas pembentukan sebuah sel secara kebetulan adalah seperti kemungkinan pencetakan sebuah buku karena sebuah ledakan di percetakan. Artinya, tidak mungkin sel muncul melalui peristiwa kebetulan dan karenanya, ia tentunya telah “diciptakan”.
Hlm 17: Setiap orang di dunia adalah unik – secara biokimiawi dan fisik – berkat sebuah molekul yang menakjubkan (DNA), yang mengandung tiga miliar susunan kata perintah biokimiawi untuk membangun seorang manusia dari ketiadaan.
Hlm 19: Probabilitas pembentukan secara kebetulan dari kode pada sebuah protein rata-rata di dalam tubuh manusia di dalam DNA dengan sendirinya adalah 10600. Kita dapat menuliskan bilangan ini yang terbentuk dengan meletakkan 600 angka nol setelah angka 1 sebagai berikut:
10600 = 1.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000
hlm 21: Molekul DNA yang ditunjukkan di sini tengah dalam proses replikasi, dengan memisah di bagian tengah. Ketika untaian berpisah, masing-masing menarik pasangan-pasangan basa dengan urutan yang sama dengan rangkaian pada setengah lainnya.


NOTES


1 Michael Denton, Evolution:A Theory in Crisis, London: Burnett Books, 1985, hlm. 334.
2 Frank B. Salisbury, "Doubts about the Modern Synthetic Theory of Evolution", American Biology Teacher, September 1971, hlm. 336.
3 Francis Crick, Life Itself: It's Origin and Nature, New York, Simon & Schuster, 1981, hlm. 88.
4 Pierre-P Grassé, Evolution of Living Organisms, New York: Academic Press, 1977, hlm. 103.
5 Douglas R. Hofstadter, Gödel, Escher, Bach: An Eternal Golden Braid, New York, Vintage Books, 1980, hlm. 548
6 Leslie E. Orgel, "The Origin of Life on the Earth", Scientific American, Oktober 1994, vol. 271, hlm. 78.
7 Michael Denton, Evolution: A Theory in Crisis. London: Burnett Books, 1985, hlm. 351.
8 John Horgan, "In the Beginning", Scientific American, vol. 264, Februari 1991, hlm. 119.
9 G.F. Joyce, L. E. Orgel, "Prospects for Understanding the Origin of the RNA World", In the RNA World, New York: Cold Spring Harbor Laboratory Press, 1993, hlm. 13.
10 Jacques Monod, Chance and Necessity, New York: 1971, hlm.143.
11 Leslie E. Orgel, "The Origin of Life on the Earth", Scientific American, Oktober 1994, vol. 271, hlm. 78.
12 Chandra Wickramasinghe, Interview in London Daily Express, 14 Agustus 1981.
13 Werner Gitt, In the Beginning Was Information, CLV, Bielefeld, Jerman, hlm. 107, 141.
14 George C. Williams. The Third Culture: Beyond the Scientific Revolution, New York, Simon & Schuster, 1995, hlm. 42-43
15 Sibley and Ahlquist, Journal of Molecular Evolution, vol. 26, hlm. 99-121
16 Sarich et al. 1989. Cladistics 5:3-32
17 C. E. N. 19(1): 21-22, Desember 1996-Februari 1997
18 New Scientist, 15 Mai 1999, hlm. 27
19 Hürriyet daily, 24 Februari 2000
20 New Scientist, vol. 103, 16 August 1984, hlm. 19
21 Christian Schwabe, "On the Validity of Molecular Evolution", Trends in Biochemical Sciences, Juli 1986
22 Michael Denton, Evolution: A Theory in Crisis. London: Burnett Books, 1985, hlm. 290-291.

Kesempurnaan Penciptaan Atom

Bab 1
EPISODE PEMBENTUKAN ATOM


Alam semesta, dengan dimensi yang luasnya tak terjangkau pemahaman manusia, berfungsi pada keseimbangan yang sensitif tanpa pernah gagal. Alam semesta juga berfungsi dengan keteraturan terencana, dan sudah demikian sejak awal pembentukannya. Bagaimana alam raya yang luas ini terwujud, akan menuju ke mana, dan bagaimana hukum-hukum alam bekerja memper-tahankan keteraturan dan keseimbangan di dalamnya, selalu menjadi perhatian manusia sejak dulu sampai sekarang. Para ilmuwan telah melakukan penelitian tak terhitung banyaknya mengenai subjek ini dan menghasilkan pelbagai teori dan pendapat. Bagi para ilmuwan yang mengukur rancangan dan keteraturan alam semesta dengan menggu-nakan akal dan kesadaran mereka, tidaklah susah sama sekali untuk menjelaskan kesempurnaan ini. Ini karena Allah, Zat Mahakuasa, Penguasa seluruh jagat raya, yang menciptakan rancangan sempurna ini. Dan ini sangatlah jelas bagi semua orang yang mau berpikir dan bernalar. Allah menyebutkan kebenaran nyata ini dalam ayat Al Quran:

“Sesungguhnya dalam penciptaaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Ali ‘Imran, 3: 190) !

Akan tetapi, para ilmuwan yang tidak mengindahkan bukti penciptaan itu mengalami kesulitan besar dalam menjawab pertanyaan yang tak ada habisnya ini. Mereka tidak ragu menggunakan segala cara seperti menghasut, membuat teori-teori palsu tanpa dasar ilmiah apa pun. Bila tersudut, mereka bahkan menipu untuk mempertahankan teori-teori yang bertentangan sepenuhnya dengan kenyataan. Namun seluruh perkembangan ilmu pengetahuan yang terjadi hingga awal abad ke-21, membawa kita pada sebuah fakta tunggal; alam semesta diciptakan dari ketiadaan oleh Allah yang Mahakuasa dan Maha Mengetahui.


Penciptaan Alam Semesta

Selama berabad-abad, orang mencari jawaban untuk pertanyaan “bagaimana asal-usul alam semesta”. Beribu-ribu model alam semesta telah diajukan dan beribu-ribu teori telah dihasilkan di sepanjang sejarah. Namun tinjauan terhadap semua teori ini mengungkapkan bahwa pada intinya mereka hanya terbagi dalam dua model berbeda. Yang pertama adalah konsep alam semesta tak terbatas tanpa permulaan, yang tidak lagi memiliki dasar ilmiah apa pun. Yang kedua adalah bahwa alam semesta diciptakan dari ketiadaan, yang sekarang ini dikenal dalam masyarakat ilmiah sebagai “model standar”.
Model pertama, yang telah terbukti tak dapat bertahan, menyatakan bahwa alam semesta telah ada sejak waktu yang tak terbatas dan akan terus bertahan dalam keadaannya yang sekarang ini. Gagasan alam semesta tak terbatas ini telah berkembang sejak zaman Yunani kuno, dan telah menyebar ke dunia barat sebagai hasil filosofi materialistis dan telah dibangkitkan kembali dengan Renaisans. Inti Renaisans adalah pengkajian kembali hasil kerja para pemikir Yunani kuno. Jadi, filosofi materialis dan konsep alam semesta tak terbatas yang dididukung oleh filosofi ini dicomot dari rak sejarah yang berdebu oleh kepentingan ideologis dan filosofis, dan disampaikan pada manusia sebagai fakta-fakta ilmiah.
Penganut materialisme seperti Karl Marx dan Friedrich Engels dengan penuh semangat merangkul gagasan itu, yang jelas menyediakan dasar-dasar kuat untuk ideologi materialistis mereka. Dengan demikian keduanya memainkan peran penting dalam memperkenalkan model ini pada abad ke-20.
Menurut model “alam semesta tak terbatas”— yang sangat populer di paro pertama abad ke-20 — alam semesta tidak memiliki awal maupun akhir. Alam semesta tidak pernah diciptakan dari tidak ada menjadi ada, tidak pula akan hancur. Menurut teori ini, yang juga menjadi dasar untuk filosofi materialis, alam semesta memiliki struktur yang statis. Namun, temuan-temuan ilmiah belakangan menyatakan bahwa teori ini sama sekali salah dan tidak ilmiah. Alam semesta tidak akan ada tanpa awal; alam semesta ini bermula dan telah diciptakan dari ketiadaan.
Gagasan bahwa alam semesta ini tak terbatas, yaitu tidak berawal, selalu menjadi titik awal ateisme dan ideologi yang mengingkari Allah. Ini karena dalam pandangan mereka, bila alam semesta ini tak berawal, berarti tidak ada yang menciptakan. Namun ilmu pengetahuan segera mengungkapkan bukti pasti bahwa argumen-argumen materialis ini tidak berlaku, dan alam semesta diawali dengan sebuah ledakan dahsyat yang disebut Big Bang. Muncul dari sesuatu yang tidak ada hanya berarti satu hal: “Penciptaan”. Allah, Yang Mahakuasa, menciptakan seluruh alam semesta.
Ahli astronomi Inggris ternama, Sir Fred Hoyle, adalah salah seorang ilmuwan yang penasaran dengan fakta ini. Dengan teori “steady-state”-nya, Hoyle menerima bahwa alam semesta mengalami perluasan, tetapi tetap berkeras bahwa alam semesta tidak terbatas dalam skalanya dan tanpa awal maupun akhir. Menurut model ini, ketika alam semesta meluas, materi muncul secara spontan dan dalam kuantitas sebesar yang dibutuhan. Teori ini, yang berlandaskan pada premis-premis yang sangat tidak praktis atau sulit, dan yang diajukan dengan kepen-tingan tunggal untuk mendukung gagasan “alam semesta tak terbatas tanpa awal atau akhir”, bertolak belakang dengan teori Big Bang. Padahal teori Big Bang secara ilmiah telah terbukti dengan sejumlah besar pengamatan. Hoyle dan yang lainnya terus mengingkarinya, namun se-mua perkembangan ilmu alam menyatakan sebalik-nya.


Big Bang dan Perluasan Alam Semesta

Pada abad ke-20, terjadi lompatan besar di bidang astronomi. Pertama, pada tahun 1922, seorang ahli fisika Rusia, Alexandre Friedmann, menemukan bahwa alam semesta tidak memiliki struktur yang statis. Berpijak pada Teori Relativitas Einstein, Friedmann menghitung bahwa sebuah impuls kecil saja dapat mengakibatkan alam semesta meluas atau mengerut. Georges Lemaître, salah seorang ahli astro-nomi terkenal Belgia, adalah yang pertama kali menyadari pentingnya hitungan ini. Hitungan ini membawanya pada kesimpulan bahwa alam semesta memiliki awal dan terus-menerus meluas sejak permulaan. Ada hal penting lainnya yang diangkat Lemaître: menurutnya, seharusnya ada kelebihan radiasi yang tertinggal dari Big Bang dan ini dapat dilacak. Lemaître yakin bahwa penjelasannya benar walaupun pada awalnya tidak mendapat banyak dukungan dari kalangan ilmuwan. Sementara itu, bukti lebih lanjut bahwa alam semesta meluas mulai bermunculan. Pada waktu itu, Edwin Hubble, seorang ahli astronomi dari Amerika, yang mengamati bintang-bintang dengan teleskop raksasanya, menemu-kan bahwa bintang-bintang memancarkan cahaya geser merah (red shift) tergantung jarak mereka. Dengan temuan ini, yang diperolehnya di Observatorium Mount Wilson, California, Hubble menantang seluruh ilmuwan yang mengajukan dan membela teori “keadaan-tetap” (steady-state), dan mengguncangkan pondasi model alam semesta yang dianut saat itu.
Temuan-temuan Hubble bergantung pada aturan fisika bahwa spektrum cahaya yang bergerak menuju titik pengamatan cenderung mendekati ungu, sementara spektrum cahaya yang bergerak meninggal-kan titik pengamatan cenderung mendekati merah. Ini menunjukkan bahwa benda-benda angkasa yang diamati dari Observatorium Mount Wilson California bergerak menjauhi bumi. Pengamatan selanjutnya mengungkap-kan bahwa bintang dan galaksi tidak hanya bergerak menjauhi kita tetapi juga saling menjauhi satu sama lain. Pergerakan benda-benda angkasa ini sekali lagi membuktikan bahwa alam semesta meluas. Dalam buku Stephen Hawking's Universe, David Filkin menyatakan gagasan menarik tentang perkembangan ini:
Dalam dua tahun, Lemaître mendengar berita yang selama ini berharap pun dia tak berani. Hubble telah mengamati bahwa cahaya dari galaksi adalah geser merah, dan menurut efek Doppler, ini berarti bahwa alam semesta meluas. Kini, ini hanya soal waktu. Einstein tertarik pada kerja Hubble dan memutuskan untuk mengun-junginya di Observatorium Mount Wilson. Pada saat yang sama, Lemaître memberikan kuliah di Institut Teknologi California, dan berhasil menyudutkan sekaligus Hubble dan Einstein. Dia mengajukan teori “atom primitif”-nya dengan hati-hati, selangkah demi selangkah, meyakinkan bahwa seluruh alam semesta telah diciptakan “pada hari yang tidak memiliki hari kemarin”. Dengan sangat saksama, dia menjelaskan seluruh perhitungan matematikanya. Ketika selesai, dia tidak dapat memercayai telinganya sendiri. Einstein berdiri dan menyatakan bahwa apa yang baru saja didengarnya adalah “interpretasi yang paling indah dan paling memuaskan yang pernah kudengar” dan selanjutnya mengakui bahwa menciptakan “konstanta kosmologis” adalah “kesalahan terbesar” dalam hidupnya.1
Fakta yang telah mengejutkan Einstein, yang dianggap sebagai salah satu ilmuwan terpenting dalam sejarah, adalah bahwa alam semesta mempunyai permulaan.
Pengamatan lebih jauh pada perluasan alam semesta telah membuka jalan bagi pendapat-pendapat baru. Sejak saat itu, para ilmuwan sampai pada model alam semesta yang semakin kecil apabila seseorang kembali ke masa lampau, dan pada akhirnya mengerut dan konvergen pada satu titik, seperti yang dikemukakan Lemaître. Kesimpulan yang dapat diturunkan dari model ini adalah bahwa pada suatu masa, semua benda alam semesta memadat dalam sebuah titik-massa tunggal yang memiliki “volume nol” karena gaya gravitasinya yang sangat besar. Alam semesta kita menjadi ada sebagai hasil dari ledakan titik-massa yang memiliki “volume nol” ini. Ledakan ini disebut “Big Bang”.
Big Bang menunjukkan hal lain. Mengatakan bahwa sesuatu memi-liki volume nol itu berarti sama dengan mengatakan bahwa sesuatu itu “tidak ada”. Seluruh alam semesta ini diciptakan dari sesuatu yang “tidak ada” ini. Selanjutnya, alam semesta ini memiliki awal, bertolak belakang dengan pandangan materialisme, yang beranggapan bahwa “alam semesta adalah kekal”.


Big Bang dengan Bukti

Begitu ditetapkan kenyataan bahwa alam se-mesta mulai terbentuk setelah sebuah ledakan be-sar, para ahli astrofisika mencapai kemajuan pesat dalam penelitian-penelitian mereka. Menurut George Gamow, apabila alam semesta terbentuk dalam ledakan besar dan tiba-tiba, pastilah terting-gal sejumlah radiasi dari ledakan tersebut yang menyebar rata di seluruh alam semesta.
Pada tahun-tahun setelah hipotesis ini disam-paikan, temuan-temuan ilmiah susul-menyusul terjadi, dan semuanya membuktikan kebenaran Big Bang. Pada tahun 1965, dua orang peneliti ber-nama Arno Penzias dan Robert Wilson menemu-kan suatu bentuk radiasi yang hingga saat itu tak teramati, yang disebut sebagai “radiasi latar bela-kang kosmis”. Radiasi ini tidak seperti benda-benda alam semesta lainnya karena keseragam-annya yang luar biasa. Radiasi ini tidak terlokali-sasi, juga tidak memiliki sumber yang jelas; justru tersebar merata di mana-mana. Segera disadari bahwa radiasi ini adalah peninggalan Big Bang, yang masih memancar sejak ledakan besar itu terjadi. Gamow telah meneliti frekuensi radiasi tersebut, dan menemu-kan bahwa besarnya mendekati nilai yang telah diramalkan oleh para ilmuwan. Penzias dan Wilson dianugerahi Penghargaan Nobel atas temuan mereka itu.
George Smoot dan tim NASA-nya hanya membutuhkan waktu delapan menit untuk mencocokkan tingkatan-tingkatan radiasi yang dilaporkan oleh Penzias dan Wilson, berkat satelit ruang angkasa COBE. Sensor-sensor yang sensitif pada satelit berhasil memberikan keme-nangan baru bagi teori Big Bang. Sensor-sensor itu membenarkan keber-adaan suatu bentuk yang rapat dan panas sisa dari Big Bang. COBE memotret sisa-sisa nyata dari Big Bang, dan kelompok ilmuwan dipaksa mengakuinya.
Bukti lainnya berhubungan dengan jumlah relatif Hidrogen dan Helium di alam semesta. Perhitungan menunjukkan bahwa proporsi gas hidrogen-helium di alam semesta cocok dengan hitungan teoretis dari apa yang seharusnya tersisa setelah Big Bang.
Penemuan bukti penting ini menyebabkan teori Big Bang diterima sepenuhnya oleh dunia ilmiah. Dalam sebuah artikel di Scientific American yang terbit bulan Oktober 1994 disampaikan bahwa “model Big Bang adalah satu-satunya model yang diakui pada abad ke-20”.
Satu persatu, pengakuan mulai berdatangan dari nama-nama yang mempertahankan konsep “alam semesta tak terbatas” selama bertahun-tahun. Dennis Sciama, yang mempertahankan teori “steady-state” bersama Fred Hoyle, menggambarkan situasi mereka setelah pembuk-tian Big Bang. Dia berkata bahwa mulanya dia mendukung Hoyle tetapi, setelah bukti mulai menumpuk, dia harus mengakui bahwa permainan ini telah selesai dan teori steady-state harus dibuang.2


Allah Menciptakan Alam Semesta dari Ketiadaan

Dengan banyaknya bukti yang ditemukan sains, pendapat yang ber-hubungan dengan “alam semesta tak terbatas” disingkirkan ke tumpukan sampah sejarah gagasan ilmiah. Namun, pertanyaan-pertanyaan yang lebih penting bermunculan: Apa yang ada sebelum sebelum Big Bang? Kekuatan apa kiranya yang dapat menyebabkan ledakan raksasa yang menghasilkan alam semesta yang sebelumnya tidak ada?
Ada satu jawaban yang dapat diberikan untuk pertanyaan apa yang ada sebelum Big Bang: Allah, Yang Mahakuasa, yang menciptakan bumi dan langit dalam keteraturan sempurna. Banyak ilmuwan, terlepas dari mereka beriman atau tidak, terpaksa mengakui kebenaran ini. Walaupun mereka mungkin menolak untuk mengakui kenyataan ini dalam media ilmiah, pengakuan mereka secara tersirat membongkar rahasia mereka. Anthony Flews, seorang filosof ateis terkenal, berkata:
Jelas sekali, pengakuan itu baik bagi jiwa. Oleh karena itu, saya akan mulai dengan mengakui bahwa penganut ateis Stratonis harus merasa malu dengan konsensus kosmologis dewasa ini. Karena tampaknya para ahli kosmologi menyediakan bukti ilmiah untuk apa yang dianggap St. Thomas tidak terbukti secara filosofis; yaitu, bahwa alam semesta mempunyai permulaan. Selama alam semesta dapat dengan mudah dianggap tidak hanya tanpa akhir, namun juga tanpa permulaan, akan tetap mudah untuk mendesak bahwa keberadaannya yang tiba-tiba, dan apa pun yang ditemukan menjadi ciri-cirinya yang paling mendasar, harus diterima sebagai penjelasan akhir. Meskipun saya mempercayai bahwa teori itu (alam semesta tanpa batas) masih benar, tentu saja tidak mudah atau nyaman untuk mempertahankan posisi ini di hadapan kisah Ledakan Besar. 3
Sebagian ilmuwan seperti H. P. Lipson, fisikawan Inggris yang materialis, mengakui bahwa mereka terpaksa menerima teori Big Bang:
Jika benda hidup bukan disebabkan oleh interaksi atom-atom, gaya-gaya alam, dan radiasi, bagaimana dia muncul? … Namun saya rasa, kita harus … mengakui bahwa satu-satunya penjelasan yang paling masuk akal adalah penciptaan. Saya tahu ini aib bagi para fisikawan, termasuk saya, tapi kita tidak boleh menolak apa yang tidak kita sukai bila bukti-bukti eksperimental mendukungnya.4
Kesimpulannya, sains menunjuk pada suatu realita tunggal apakah para ilmuwan materialis menyukainya atau tidak. Benda dan waktu diciptakan oleh Pencipta, Yang Mahakuasa, dan yang menciptakan langit, bumi dan segala sesuatu yang berada di antaranya: Mahakuasa Allah.

“Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwa-sanya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS. Ath-Thalaaq, 65: 12) !


Tanda-Tanda Al Quran

Selain menjelaskan alam semesta, model Big Bang mempunyai implikasi penting lain. Seperti yang ditunjukkan dalam kutipan dari Anthony Flew di atas, ilmu alam telah membuktikan pandangan yang selama ini hanya didukung oleh sumber-sumber agama.
Kebenaran yang dipertahankan oleh sumber-sumber agama adalah realitas penciptaan dari ketiadaan. Ini telah dinyatakan dalam kitab-kitab suci yang telah berfungsi sebagai penunjuk jalan bagi manusia selama ribuan tahun. Dalam semua kitab suci seperti Perjanjian Lama, Perjanjian Baru, dan Al Quran, dinyatakan bahwa alam semesta dan segala isinya diciptakan dari ketiadaan oleh Allah.
Dalam satu-satunya kitab Allah yang keutuhannya bertahan, Al Quran, terdapat pernyataan tentang penciptaan alam semesta dari ketiadaan, di samping bagaimana kemunculannya, yang sesuai dengan ilmu pengetahuan abad ke-20, meskipun diungkapkan 14 abad yang lalu.
Pertama, penciptaan alam semesta dari ketiadaan diungkapkan dalam Al Quran sebagai berikut:

“Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak pa-dahal Dia tidak mempunyai istri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al An’aam, 6: 101) !

Aspek penting lain yang diungkapkan dalam Al Quran empat belas abad sebelum penemuan modern Big Bang dan temuan yang berkaitan dengannya adalah bahwa ketika diciptakan, alam semesta menempati volume yang sangat kecil:

“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduannya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air kami ja-dikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” (QS. Al Anbiyaa’, 22: 30) !

Terjemahan ayat di atas mengandung pemilihan kata yang sangat penting dalam bahasa aslinya, bahasa Arab. Kata ratk diterjemahkan “suatu yang padu” yang berarti “bercampur, bersatu” dalam kamus bahasa Arab. Kata itu digunakan untuk merujuk dua zat berbeda yang menjadi satu. Frase “Kami pisahkan” diterjemahkan dari kata kerja bahasa Arab, fatk yang mengandung makna bahwa sesuatu terjadi dengan memisahkan atau menghancurkan struktur ratk. Tumbuhnya biji dari tanah adalah salah satu tindakan yang menggunakan kata kerja ini.
Mari kita tinjau lagi ayat tersebut dengan pengetahuan ini di benak kita. Dalam ayat itu, langit dan bumi pada mulanya berstatus ratk. Mereka dipisahkan (fatk) dengan satu muncul dari yang lainnya. Menariknya, para ahli kosmologi berbicara tentang “telur kosmik” yang mengandung semua materi di alam semesta sebelum Big Bang. Dengan kata lain, semua langit dan bumi terkandung dalam telur ini dalam kondisi ratk. Telur kosmik ini meledak dengan dahsyat menyebabkan materinya menjadi fatk dan dalam proses itu terciptalah struktur keseluruhan alam semesta.
Kebenaran lain yang terungkap dalam Al Quran adalah pengem-bangan jagat raya yang ditemukan pada akhir tahun 1920-an. Penemuan Hubble tentang geser merah dalam spektrum cahaya bintang diungkap-kan dalam Al Quran sebagai berikut:

“Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesung-guhnya Kami benar-benar meluaskannya.” (QS. Adz-Dzaariyat, 51: 47) !

Singkatnya, temuan-temuan ilmu alam modern mengarah pada kebenaran yang dinyatakan dalam Al Quran dan tidak mendukung dogma materialis. Materialis boleh saja menyatakan bahwa semua itu “kebetulan” namun fakta yang jelas adalah bahwa alam semesta terjadi sebagai hasil penciptaan Allah dan satu-satunya pengetahuan yang benar tentang asal mula alam semesta ditemukan dalam sabda Allah yang diturunkan kepada kita.


Penciptaan Materi dari Momen ke Momen

Seperti yang telah ditunjukkan teori Big Bang sekali lagi, Allah men-ciptakan alam semesta dari tidak ada. Ledakan besar ini melibatkan banyak gradasi dan detail halus, mendorong manusia untuk berpikir, dan semua materi ini tidak bisa dijelaskan sebagai suatu kebetulan saja.
suhu pada setiap momen ledakan, jumlah partikel atom, gaya-gaya yang bekerja, dan intensitasnya, harus memiliki nilai yang sangat tepat. Bahkan jika satu nilai saja tidak tepat, alam semesta yang kita tinggali sekarang ini tak akan pernah terbentuk. Akhir seperti itu tak akan terelakkan jika satu saja dari nilai yang disebutkan di atas bergeser sedikit yang meskipun secara matematis hanya dinyatakan dengan nilai mendekati “0”.
Pendek kata, alam semesta dan bahan penyusunnya, yaitu atom, yang sebelumnya tidak ada menjadi ada segera setelah Big Bang berkat keseimbangan yang telah diciptakan oleh Allah ini. Para ilmuwan melakukan banyak penelitian untuk memahami kronologis kejadian-kejadian yang berlangsung selama proses ini dan pengaturan hukum-hukum fisika yang bekerja pada setiap fase. Fakta-fakta yang sekarang diakui para ilmuwan yang telah bergelut di bidang ini adalah sebagai berikut:
l Momen “0”: “Momen” ini adalah momen ketika materi dan waktu belum ada, dan ketika ledakan berlangsung, yang dalam fisika disebut sebagai t (waktu) = 0. Ini berarti bahwa tak ada apa-apa pada saat t = 0 ini. Untuk mendapatkan gambaran kejadian sebelum “momen” — ketika penciptaan dimulai — ini, kita harus tahu hukum-hukum fisika yang ada saat itu, karena hukum-hukum fisika yang berlaku sekarang tidak mencakup momen awal ledakan.
Kejadian-kejadian yang mungkin didefinisikan oleh para ahli fisika dimulai pada 10-43 detik, yang merupakan unit waktu terkecil. Ini adalah frame waktu yang sulit diterima daya pikir manusia. Apa yang terjadi dalam periode waktu sangat kecil, yang bahkan tidak bisa kita pahami ini? Para ahli fisika sampai kini masih belum mampu mengembangkan teori yang menjelaskan dengan detail lengkap kejadian-kejadian pada momen itu.5
Ini karena para ilmuwan tidak memiliki data yang dibutuhkan untuk membuat perhitungan. Aturan matematika dan fisika mene-mui kebuntuan pada batasan tersebut. Jadi, kejadian sebelum ledakan dan pada momen pertama ledakan, yang setiap de-tailnya bersandar pada keseimbangan rumit, mengandung realita di luar batasan pikiran manusia dan ilmu fisika.
Penciptaan ini, yang dimulai sebelum adanya waktu, mengarahkan momen demi momen pada pemben-tukan materi alam semesta dan hukum-hukum fisika. Sekarang mari kita cermati peristiwa-peristiwa yang terjadi dengan ketepatan luar biasa dalam waktu yang sangat singkat selama ledakan ini.
Sebagaimana disebutkan di atas, dalam ilmu fisika, segala sesuatu dapat dihitung dari 10-43 detik dan seterusnya, dan energi serta waktu dapat didefinisikan hanya setelah waktu ini. Pada saat terjadinya penciptaan, suhu men-capai 1032 (100.000.000.000.000.000.000. 000.000.000.000) Kelvin. Sebagai pemban-dingnya, derajat suhu matahari dinyatakan dalam satuan juta (108) dan derajat suhu beberapa bintang lainnya yang jauh lebih besar dari matahari dinyatakan dalam satuan milyar (1011). Bahwa suhu tertinggi yang dapat diukur saat ini terbatas dalam milyaran derajat, mengungkapkan betapa tinggi suhu pada 10-43 detik.
l Bila kita meninjau selangkah ke de-pan dari periode 10-43 detik ini, kita sampai pada titik ketika waktu berada pada 10-37 detik. Selang waktu antara dua periode ini tidak seperti satu atau dua detik saja. Kita berbicara mengenai selang waktu sesingkat satu per quadrilliun-kali-quadrilliun detik, suhu masih luar biasa tinggi, yaitu 1029 (100.000.000.000.000.000.000.000.000.000) K. Tak satu atom pun tercipta pada fase ini.6
l Satu langkah lagi, kita sampai pada 10-2 detik. Periode waktu ini mengindikasikan seperseratus detik. Saat ini, suhu seratus milyar derajat. Pada titik ini, “alam semesta awal” mulai terbentuk. Partikel-partikel seperti proton dan netron yang membentuk inti atom belum lagi muncul. Hanya ada elektron dan anti-partikelnya, positron (anti-elektron), karena temperatur dan kecepatan alam semesta pada titik ini hanya memungkinkan pembentukan partikel-partikel ini. Kurang dari sedetik setelah ledakan terjadi, terbentuklah elektron-elektron dan positron-positron.
Mulai dari momen ini dan seterusnya, waktu pembentukan setiap partikel sub-atom sangatlah penting. Setiap partikel harus muncul pada momen yang tepat sehingga hukum-hukum fisika yang sekarang dapat terbentuk. Pemilihan partikel apa yang terbentuk terlebih dahulu sangat penting. Bahkan sedikit saja penyimpangan dalam urutan atau waktu, akan menggagalkan pembentukan alam semesta menjadi sekarang ini.
Mari kita berhenti sejenak dan berpikir.
Teori Big Bang memberikan bukti keberadaan Allah dengan menun-jukkan bahwa semua materi yang membentuk alam semesta berasal dari ketidakadaan. Bahkan teori ini menunjukkan bahwa bahan penyusun — yaitu atom-atom — juga menjadi ada dalam waktu kurang dari satu detik setelah Big Bang.
Keseimbangan dan keteraturan yang luar biasa dalam partikel-partikel ini layak dijelaskan. Alam semesta mendapatkan kondisinya yang sekarang ini berkat keseimbangan ini, yang akan digambarkan lebih terrinci pada halaman-halaman berikutnya. Keseimbangan ini pula yang membuat kita hidup damai. Pendeknya, pengaturan yang sempurna dan hukum-hukum yang konsisten, “hukum-hukum fisika”, telah terbentuk dari ledakan yang biasanya menghasilkan kekacauan dan ketidak-teraturan. Ini membuktikan bahwa setiap momen yang menyertai penciptaan alam semesta, termasuk Big Bang, telah dirancang dengan sempurna. Sekarang, mari kita melihat perkembangan selanjutnya.
l Langkah berikutnya adalah momen ketika waktu telah berselang 10-1 detik. Pada saat ini, suhu adalah 30 milyar derajat. Belum lagi satu detik terlewati dari t=0 ke tahap ini. Saat ini, netron, proton dan partikel atom lainnya mulai muncul. Netron dan proton — struktur yang akan kita analisis pada bab berikutnya — diciptakan dari yang tidak ada dalam periode waktu yang bahkan lebih pendek dari satu detik.
l Mari kita perhatikan detik pertama setelah ledakan. Kerapatan masif/kepadatan (massive density) pada waktu itu memberikan angka sangat besar. Menurut perhitungan, nilai kepadatan massa pada tahap ini adalah 3,8 milyar kilogram per liter. Mudah saja menyatakan angka ini dalam milyaran kilogram secara aritmetik dan menunjukkannya di atas kertas. Tapi sangatlah tidak mungkin membayangkannya dengan tepat. Untuk memberikan contoh sederhana agar besarnya angka ini dapat dibayangkan, kita dapat mengatakan “jika gunung Everest di Himalaya memiliki kepadatan seperti ini, ia akan menelan bumi kita seketika dengan gaya gravitasi yang dimilikinya.”7
l Karakteristik paling istimewa dari momen-momen berikutnya adalah, pada saat itu, suhu telah mencapai tingkat lebih rendah. Pada tahap ini alam semesta telah berusia kira-kira 14 detik, memiliki suhu 3 milyar derajat dan terus meluas dengan kecepatan luar biasa.
Ini adalah stadium di mana inti atom yang stabil, seperti inti Hidro-gen dan Helium, mulai terbentuk. Satu proton dan satu netron untuk pertama kalinya telah menemukan kondisi yang kondusif untuk keber-samaan mereka. Dua partikel ini yang mempunyai massa kecil sekali — antara ada dan tidak ada — namun karena gaya gravitasi, mulai menahan kecepatan perluasan yang sangat hebat. Tampak jelas, sebuah proses yang dramatis sadar dan terkendali sedang berlangsung di sini. Sebuah ledakan padat memberikan jalan ke suatu keseimbangan yang hebat dan aturan yang tepat. Proton dan netron telah mulai berkumpul untuk membentuk atom, balok penyusun zat. Jelas tidaklah mungkin bagi par-tikel-partikel ini untuk memiliki kekuatan dan kesadaran untuk mem-bangun keseimbangan yang dibutuhkan untuk pembentukan zat.
l Dalam periode setelah pembentukan ini, suhu alam semesta telah turun 1 milyar derajat. Suhu ini enam puluh kali lebih besar daripada suhu inti matahari kita. Hanya tiga menit dan dua detik berselang dari momen pertama ke momen ini. Saat ini, partikel sub-atomik seperti foton, proton, anti-proton, netron, dan anti-netron berjumlah banyak sekali. Kuantitas semua partikel yang ada dalam fase ini dan interaksi mereka terhadap satu sama lain sangat kritis. Begitu banyaknya sehingga penyimpangan sedikit saja kuantitas partikel mana pun akan merusak tingkat energi yang telah mereka atur dan mencegah perubahan energi menjadi materi.
Ambil elektron dan positron sebagai contoh: bila elek-tron dan positron bergabung, energi akan dihasilkan. Untuk itu, jumlah kedua partikel itu sangat penting. Katakanlah bahwa 10 unit elektron bertemu dengan 8 unit positron. Dalam kasus ini, 8 dari 10 unit elektron tadi berinteraksi dengan 8 unit positron dan menghasilkan energi. Dan sebagai hasilnya, dua unit elektron dilepaskan. Karena elektron adalah salah satu partikel yang membentuk atom, bahan penyusun alam semesta, maka elektron harus tersedia sejumlah yang dibutuhkan dalam fase ini agar alam semesta terbentuk. Dari contoh di atas, bila jumlah positron lebih banyak daripada elektron, maka alih-alih elektron, positron-lah yang akan tersisa sebagai hasil dari energi yang dilepaskan dan alam semesta tidak akan pernah terbentuk. Bila jumlah positron dan elektron sama, maka hanya energi saja yang akan dihasilkan dan tidak ada yang tersisa untuk membentuk alam semesta. Namun, kele-bihan jumlah elektron telah diatur sedemikian rupa sehingga sesuai de-ngan jumlah proton di alam semesta pada selang waktu berikutnya setelah momen ini. Dalam atom yang akan terbentuk nanti, jumlah elektron dan proton akan sama.
Jumlah partikel yang muncul setelah Big Bang telah ditentukan dengan perhitungan sangat teliti, yang akhirnya menuju pada pembentukan alam semesta. Profesor Steven Weinberg mengomentari betapa kritisnya inter-aksi antara partikel-partikel ini:
Bila alam semesta dalam beberapa menit pertama benar-benar terdiri dari jumlah partikel dan anti partikel yang sama, semuanya akan hancur ketika suhu turun di bawah 1.000 juta derajat, dan tidak akan ada yang tersisa kecuali radiasi. Ada bukti sangat kuat yang menentang kemungkinan ini — kita ada di sini! Pasti ada kelebihan jumlah elektron dari positron, proton dari anti-proton, dan netron dari anti-netron, agar ada yang tersisa setelah penghancuran partikel dan anti-partikel untuk menyediakan materi bagi alam semesta ini.8
l Sudah 34 menit dan 40 detik berlalu sejak ledakan. Alam semesta sekarang berusia setengah jam. Suhu telah turun dari yang semula milyaran derajat menjadi 300 juta derajat. Elektron dan positron terus memproduksi energi dengan saling bertabrakan. Saat itu, kuantitas partikel-partikel yang diperlukan telah berimbang sehingga memung-kinkan pembentukan alam semesta.
Ketika kecepatan ledakan menurun, partikel-partikel ini, yang hampir tanpa massa, mulai saling berinteraksi. Atom hidrogen pertama terbentuk oleh sebuah elektron yang masuk ke dalam orbit proton. Pembentukan ini mengenalkan kita pada gaya-gaya dasar yang akan sering kita temui di alam semesta.
Tidak diragukan lagi, partikel-partikel ini — yang merupakan ran-cangan jauh di luar jangkauan pemahaman manusia dan memiliki struktur unik serta bergantung pada keseimbangan rumit — tidak mungkin muncul bersama secara kebetulan dan mengarah ke tujuan yang sama. Kesempurnaan ini menuntun banyak peneliti yang mengkaji topik ini kepada kesimpulan penting: ini adalah “penciptaan” dan ada pengawasan tiada tara pada setiap momen penciptaan ini. Setiap partikel yang diciptakan setelah ledakan dimaksudkan untuk terbentuk pada waktu tertentu, pada suhu tertentu, dan pada kecepatan tertentu. Tam-paknya sistem ini, yang bekerja hampir menyerupai jam pengatur, telah diprogram dengan sangat tepat sebelum menjadi aktif. Ini berarti bahwa Big Bang dan alam semesta sempurna yang berasal dari Big Bang telah dirancang sebelum lahirnya ledakan dan setelah itu dijalankan.
Kuasa yang mengatur, merancang, dan mengendalikan alam semesta ini tentu saja Allah, Pencipta segala sesuatu.
Rancangan ini dapat diamati tidak hanya dalam atom tetapi juga dalam setiap objek di alam semesta baik besar maupun kecil. Partikel-partikel ini, yang awalnya terhempas saling menjauh dengan kecepatan cahaya, tidak hanya menyebabkan formasi atom-atom hidrogen tetapi juga membangkitkan semua sistem raksasa yang mengisi alam semesta saat ini. Atom, molekul, planet, matahari dan bintang, tata surya, galaksi, quasar, dan lain-lain terbentuk menurut rencana yang agung dan dalam keteraturan dan keseimbangan sempurna. Partikel-partikel yang di-butuhkan untuk membentuk sebuah atom saja tak mungkin secara tidak sengaja muncul bersama-sama dan menciptakan keseimbangan yang indah, sehingga lebih tidak beralasan lagi dan sangat tidak logis untuk menyatakan bahwa planet, galaksi, dan pendeknya, keseluruhan sistem di alam semesta terbentuk begitu saja dan mengembangkan keseim-bangannya sendiri. Kehendak yang membuat rancangan unik ini adalah kehendak Allah, sang Pencipta seluruh alam semesta.
Atom-atom lainnya terbentuk setelah atom hidrogen, yang merupa-kan keajaiban tersendiri. Pada poin ini pelbagai pertanyaan muncul di benak, seperti “bagaimana atom-atom lainnya terbentuk? Mengapa tidak semua proton dan netron membentuk atom hidrogen saja? Bagaimana partikel-pertikel tersebut memutuskan atom apa yang akan mereka bentuk dan seberapa banyak?” Jawaban dari pertanyaan ini kembali membawa kita pada kesimpulan yang sama. Ada suatu kekuatan, ken-dali dan rancangan yang hebat dalam pembentukan atom hidrogen dan atom-atom lain berikutnya.
Kendali dan rancangan ini melampaui kapasitas akal manusia dan menunjukkan bahwa alam semesta jelaslah sebuah “penciptaan”. Hu-kum-hukum fisika yang berlaku setelah Big Bang tidak berubah sama sekali selama hampir 17 miliar tahun terlalui. Lebih jauh, hukum-hukum ini didasari oleh perhitungan yang begitu tepatnya sehingga penyimpangan sekadar milimeter dari nilai yang sekarang dapat mengganggu struktur dan ketertiban umum di seluruh alam semesta. Komentar seorang ahli fisika terkenal, Prof. Stephen Hawkings, tentang hal ini sangat menarik. Hawkings menerangkan bahwa fenomena-fenomena yang terjadi didasari oleh perhitungan yang jauh lebih teliti daripada yang dapat kita bayangkan:
Jika satu detik setelah Big Bang, kecepatan perluasan berkurang walaupun hanya satu bagian dari seratus ribu juta juta, alam semesta ini dapat hancur kembali sebelum mencapai ukurannya yang sekarang.9
Big Bang, yang dibangun dengan perhitungan yang begitu teliti, de-ngan jelas mengungkapkan bahwa waktu, ruang, dan materi tidak men-jadi ada dengan begitu saja, namun diciptakan oleh Allah. Sama sekali tidak mungkin, kejadian-kejadian yang disebut di atas berlangsung kare-na kebetulan saja yang kemudian mengarah pada pembentukan atom, bahan penyusun alam semesta.
Tidaklah mengejutkan, banyak ilmuwan yang meneliti permasalah-an ini telah menerima keberadaan sebuah kekuatan tanpa batas dan kehendaknya dalam penciptaan alam semesta. Seorang ahli astrofisika terkenal, Hugh Ross, menjelaskan bahwa sang Pencipta alam semesta ini melampaui semua dimensi:
Bila didefinisikan, waktu adalah dimensi di mana gejala sebab akibat berlangsung. Tidak ada waktu, tidak ada sebab dan akibat. Bila permulaan waktu terjadi bersamaan dengan permulaan alam semesta, seperti yang dikatakan teori ruang-waktu, maka sebab dari alam semesta haruslah berupa suatu entitas yang bekerja dalam dimensi waktu yang sepenuhnya berdiri sendiri dan telah ada sebelum dimensi waktu kosmos. … Ini mengatakan kepada kita bahwa sang Pencipta adalah transenden, bekerja diluar batas-batas dimensional alam semesta kita. Ini mengatakan kepada kita bahwa Tuhan bukanlah alam semesta itu sendiri, Tuhan juga bukan tercakup di dalam alam semesta. 10
Aspek terpenting dari Big Bang adalah, bahwasanya kejadian ini memberi manusia kesempatan untuk memahami kekuasaan Allah de-ngan lebih baik. Asal-muasal alam semesta dengan segala isinya dari tidak ada, adalah satu dari tanda-tanda besar kekuasaan Allah. Keseim-bangan rumit dalam energi pada momen ledakan adalah tanda yang sangat nyata agar kita merenungkan ilmu Allah yang tak berbatas.


Gaya-Gaya Fundamental di Alam Semesta

Kita telah menyebutkan bahwa hukum-hukum Fisika di alam semesta mulai berlaku setelah Big Bang. Hukum-hukum ini didasari “empat gaya fundamental” yang dikenal fisika modern dewasa ini. Gaya-gaya ini terbentuk bersamaan dengan pembentukan partikel sub-atomik pertama pada waktu spesifik segera setelah Big Bang, untuk membentuk seluruh aturan dan sistem alam semesta. Atom-atom yang menyusun materi alam semesta terwujud dan tersebar merata di alam semesta berkat interaksi gaya-gaya ini. Gaya-gaya ini adalah gaya tarik massa atau yang dikenal sebagai gaya gravitasi, gaya elektromagnetik, gaya nuklir kuat, dan gaya nuklir lemah. Semua gaya ini memiliki intensitas dan bidang kerja berbeda. Gaya nuklir kuat dan gaya nuklir lemah beroperasi hanya pada skala subatomik. Dua gaya lainnya — gaya gravitasi dan gaya elektromagnetik — mengatur kumpulan atom, atau yang disebut “materi”. Pengaturan tanpa cacat di atas bumi disebabkan proporsi yang sangat rumit dari gaya-gaya ini. Perbandingan gaya-gaya ini menghasilkan suatu hal yang menarik. Semua materi yang diciptakan dan diedarkan ke penjuru alam semesta setelah Big Bang dibentuk oleh efek gaya-gaya yang sangat jauh berbeda ini. Berikut adalah nilai-nilai keempat gaya fundamental dengan selisih menakjubkan, dalam satuan standar internasional:
Gaya-gaya fundamental ini memungkinkan pembentukan alam semesta melalui penyebaran kekuatan dengan sempurna. Proporsi antara gaya-gaya ini didasarkan pada keseimbangan yang begitu rumit sehingga menimbulkan efek khusus itu terhadap partikel-partikel pada proporsi ini saja.

1. Kekuatan Raksasa di Dalam Inti: Gaya Nuklir Kuat
Sampai di sini, kita telah menyaksikan bagaimana atom diciptakan, momen demi momen, dan keseimbangan rumit yang berlaku dalam penciptaan ini. Kita melihat bahwa semua yang ada di sekitar kita, termasuk diri kita sendiri disusun oleh atom-atom, dan atom-atom ini mengandung banyak partikel. Lalu, apakah gaya yang tetap menyatukan semua partikel yang membentuk inti atom itu? Gaya yang menjaga inti tetap utuh, dan yang merupakan gaya paling dahsyat menurut hukum-hukum fisika, adalah “gaya nuklir kuat”.
Gaya ini menjaga proton dan netron dalam inti atom tetap di tempatnya. Inti atom dibentuk dengan cara demikian. Gaya ini sangat kuat sehingga nyaris menyebabkan proton dan netron dalam inti saling berikatan. Inilah sebabnya partikel-partikel kecil yang memiliki gaya ini disebut juga “gluon” yang dalam bahasa Latin berarti lem. Kekuatan ikatan tersebut disesuaikan dengan sangat teliti. Intensitas gaya ini telah diatur secara spesifik agar proton dan netron tetap berjarak tertentu. Bila gaya ini sedikit saja lebih kuat, maka proton dan netron akan saling bertabrakan. Bila gaya ini sedikit saja lebih lemah, mereka akan saling menjauh. Besarnya gaya ini tepat sesuai dengan yang dibutuhkan untuk membentuk inti atom setelah detik-detik pertama Big Bang.
Pemboman Hiroshima dan Nagasaki menunjukkan sedahsyat apa gaya nuklir kuat ini ketika dilepaskan. Satu-satunya alasan mengapa bom atom sangat efektif adalah pelepasan sejumlah kecil gaya ini yang tersembunyi di dalam inti atom. Hal ini akan dijelaskan lebih terperinci pada bab-bab berikutnya.

2. Sabuk Pengaman Atom: Gaya Nuklir Lemah
Salah satu faktor penting yang menjaga keteraturan di muka bumi ini adalah keseimbangan di dalam atom. Keseimbangan ini menjaga agar segala sesuatu tidak tiba-tiba terurai atau memancar-kan radiasi berbahaya. “Gaya nuklir lemah” ber-tanggung jawab atas keseimbang-an antara proton dan netron dalam inti atom. Gaya ini memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan inti yang mengandung sejumlah besar netron dan proton.
Sembari keseimbangan ini dijaga, sebuah netron, bila dibutuhkan dapat berubah menjadi proton. Karena jumlah proton dalam inti di akhir proses berubah, atom berubah pula dan menjadi atom yang lain. Di sini hasilnya sangatlah penting. Sebuah atom berubah menjadi atom berbeda tanpa terurai dan meneruskan eksistensi-nya. Sabuk pengaman ini melindungi organisme hidup dari bahaya yang akan muncul jika partikel-partikel terurai tanpa terkendali dan membahayakan manusia

3. Gaya yang Menjaga Elektron Tetap pada Orbitnya: Gaya Elektromagnetik
Penemuan gaya ini mengantarkan kita pada era baru dalam dunia fisika. Baru pada saat itulah dipahami bahwa setiap partikel mengan-dung “muatan listrik” menurut karakteristik strukturnya masing-masing dan bahwa ada gaya di antara muatan-muatan listrik ini. Gaya ini membuat partikel-partikel yang bermuatan listrik berlawanan saling tarik dan partikel-partikel bermuatan sama akan saling tolak, sehingga menjamin proton dalam inti atom dan elektron yang mengorbit di sekelilingnya tarik-menarik. Dengan cara ini, “inti” dan “elektron”, dua elemen dasar atom, tetap di tempat mereka.
Perubahan kekuatan sekecil apa pun pada gaya ini dapat menyebab-kan elektron-elektron terlepas jauh dari inti atau melekat pada inti. Dalam kedua kasus ini, atom tidak mungkin terbentuk, sehingga alam semesta pun tidak ada. Tetapi, sejak momen pertama gaya ini terbentuk, proton-proton dalam inti menarik elektron dengan besar gaya yang tepat dibutuhkan untuk pembentukan atom.

4. Gaya yang Menjaga Alam Semesta Tetap Utuh: Gaya Gravitasi
Gravitasi adalah satu-satunya gaya yang dapat kita rasakan sehari-hari, namun sedikit sekali yang kita ketahui tentangnya. Gaya gravitasi sesungguhnya disebut “gaya tarik massa”. Gaya ini paling lemah dibandingkan gaya lainnya, namun karena gaya inilah, massa-massa yang sangat besar tarik-menarik. Gaya inilah yang membuat galaksi dan bintang-bintang di alam semesta tetap berada pada orbitnya masing-masing. Bumi dan planet-planet lain tetap di dalam orbit tertentu mengi-tari matahari, sekali lagi karena adanya gaya gravitasi. Kita dapat berjalan di atas bumi karena gaya ini. Bila ada pengurangan dalam nilai gaya ini, bintang-bintang akan jatuh, bumi akan keluar dari orbitnya, dan kita akan bertebaran ke luar angkasa. Bila nilainya lebih besar sedikit saja, bintang-bintang akan bertabrakan, bumi akan bergerak menuju matahari, dan kita akan melesak ke dalam kerak bumi. Walaupun tampak kecil sekali kemungkinan ini bagi Anda, semua itu tidak akan terelakkan bila gaya ini bergeser dari nilainya yang sekarang sekalipun hanya untuk sesaat.
Semua ilmuwan yang sedang meneliti subjek ini mengakui bahwa ketepatan nilai gaya-gaya fundamental ini sangat penting demi keber-adaan alam semesta.
Mengomentari hal ini, seorang ahli biologi molekuler yang terkenal, Michael Denton menyatakan dalam bukunya Nature's Destiny: How the Laws of Biology Reveal Purpose in the Universe:
Jika, misalnya, gaya gravitasi satu triliun kali lebih kuat, maka alam semesta akan jauh lebih kecil dan sejarah hidupnya jauh lebih pendek. Sebuah bintang rata-rata akan mempunyai massa satu triliun lebih kecil dari matahari dan masa hidup sekitar satu tahun. Di lain pihak, jika gravitasi kurang kuat, tidak ada bintang atau galaksi yang akan pernah terbentuk. Hubungan dan nilai-nilai lain tidak kurang kritisnya. Jika gaya nuklir kuat sedikit lebih lemah saja, satu-satunya unsur yang akan stabil hanya hidrogen. Tidak ada atom lain yang bisa terbentuk. Jika gaya nuklir kuat tersebut sedikit lebih ku-at dalam kaitannya dengan elektromagnetisme, maka inti atom yang terdiri dari dua proton menjadi yang paling stabil di alam semesta — yang berarti tidak akan ada hidrogen, dan jika ada bintang atau galaksi yang terbentuk, mereka akan sangat berbeda dari bentuknya sekarang. Jelas sekali, jika se-mua gaya dan konstanta ini tidak mempunyai nilai tepat demikian, takkan ada bintang, supernova, planet, atom, dan kehidupan.11
Seorang ahli fisika terkemuka, Paul Davies, menyatakan kekaguman-nya terhadap penetapan nilai-nilai hukum-hukum fisika yang berlaku di alam semesta.
Bila seorang melanjutkan studi kosmologi, keingintahuannya bertambah. Temuan-temuan tentang sejarah kosmos membuat kita menerima bahwa perluasan alam semesta telah diatur dalam gerakannya dengan ketepatan yang sangat mengagumkan.12
Rancangan agung dan keteraturan sempurna yang berlaku di seluruh alam semesta dibangun di atas pondasi yang disediakan gaya-gaya fundamental ini. Pemilik keteraturan ini, tanpa keraguan, adalah Allah, yang menciptakan segala sesuatu tanpa cacat. Allah, Raja seluruh alam, menjaga bintang-bintang tetap berada di orbitnya dengan gaya-gaya terlemah, dan menjaga keutuhan inti atom dengan gaya-gaya terkuat. Semua gaya bekerja sesuai dengan “ukuran” yang telah Dia tentukan. Allah menujukkan keteraturan dalam penciptaan alam semesta dan keseimbangan “yang ditetapkan dengan serapi-rapinya” dalam salah satu ayat-Nya:

“Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan (Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia mene-tapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” (QS. Al Furqan, 25: 2) !

Picture Text

Alam semesta terbentuk melalui sebuah ledakan besar (Big Bang). Kesempurnaan sistem alam semesta saat ini berawal dari hamburan partikel dan gaya yang tersusun dalam keharmonisan dan keteraturan yang luar biasa sejak tahap awal ledakan besar ini.

Bawah: Analisis cahaya dua bintang Alpha Centauri selama beberapa waktu menunjukkan serangkaian perubahan pada spektrumnya. Perubahan cahaya geser merah dan biru menunjukkan gambar dua bintang yang menyelesaikan orbit mengitari satu sama lain sekali setiap 80 tahun.

Albert Einstein, ketika berkunjung ke Observatorium Wilson, tempat Edwin Hubble melakukan pengamatannya.

Menurut efek Doppler, bila galaksi berjarak tetap dari bumi, spektrum gelombang cahaya akan muncul pada posisi standar (atas). Bila galaksi bergerak menjauhi kita, gelombang itu akan tampak meregang dan geser merah (tengah). Bila galaksi bergerak menuju kita, gelombang akan tampak menciut dan geser biru (bawah)

Tanduk Antena raksasa di Laboratorium Bell di mana Arno Penzias dan Robert Wilson menemukan radiasi latar belakang kosmis. Penzias dan Wilson menerima penghargan Nobel untuk temuan ini pada tahun 1978.

Peluncuran satelit COBE mensubstansikan lebih lanjut bahwa alam semesta terbentuk dari suatu ledakan besar.

Setelah momen”0” ketika materi maupun waktu tidak ada, dan ketika ledakan terjadi, alam semesta, dan bahan penyusunnya yaitu atom, diciptakan dari tidak ada dengan proses yang menakjubkan.

Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, dan pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia? Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Dan barangsiapa yang dihinakan Allah maka tidak seorang pun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki. (QS. Al Hajj, 22: 18) !

Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami (nya) (QS. An Nahl, 16:12) !

Manusia bisa berada di lingkungan tanpa gravitasi hanya selama periode tertentu dengan menggunakan perlengkapan khusus. Makhluk hidup hanya dapat bertahan hidup dalam sistem yang mempunyai gravitasi.

Rancangan agung dan keteraturan sempurna di seluruh alam semesta diatur dengan gaya-gaya fundamental ini. Pemilik keteraturan ini, tak diragukan lagi, adalah Allah, yang menciptakan segalanya dari ketiadaan tanpa cacat. Issac Newton (1642-1727), Bapak fisika modern dan mekanika langit, yang dikenal sebagai “salah satu ilmuwan terbesar di dunia” mengundang perhatian terhadap kenyataan ini:
“Sistem matahari, planet-planet dan komet yang sangat indah ini hanya dapat berlangsung dengan tuntunan dan kendali Zat cerdas dan berkuasa. Zat ini mengatur segalanya, bukan sebagai sukma dunia, namun sebagai Tuhan bagi semuanya, dan demi kekuasaan-Nya. Dia biasa disebut Tuhan, Penguasa semesta alam.”



Bab 2
STRUKTUR ATOM


Udara, air, gunung, binatang, tumbuhan, tubuh kita, kursi yang kita duduki, pendeknya semua yang kita lihat, kita raba, dan kita rasa, mulai dari yang paling berat sampai dengan yang paling ringan dibentuk dari atom. Setiap halaman buku yang Anda pegang terdiri dari miliaran atom. Atom adalah partikel yang begitu kecil sehingga tidak mungkin dilihat walaupun menggunakan mikroskop tercanggih. Diameter atom hanyalah sebesar sepersejuta milimeter.
Mustahil bagi manusia membayangkan ukuran ini. Oleh karena itu, mari kita coba memahaminya dengan contoh:
Bayangkan Anda memegang sebuah kunci. Tidak diragukan lagi, Anda tidak mungkin bisa melihat atom-atom dalam kunci ini. Bila Anda tetap ingin melihatnya, maka Anda harus memperbesar kunci ini menyerupai bumi. Setelah kunci Anda seukuran bumi, maka setiap atom di dalamnnya seukuran buah ceri. 13
Mari kita perhatikan contoh lain lagi agar dapat memahami kekecilan ini, dan bagaimana semua tempat dan semua benda dipenuhi atom:
Katakanlah kita ingin menghitung seluruh atom dalam sebutir garam, dan anggaplah bahwa kita dapat menghiung satu miliar atom per detik. Meskipun kita sangat cekatan, akan dibutuhkan lebih dari lima ratus tahun untuk menghitung jumlah atom di dalam sebutir garam ini. 14
Lalu, ada apakah di dalam struktur sekecil itu?
Meskipun teramat kecil, di dalam atom terdapat sebuah sistem tanpa cacat, unik, dan kompleks yang dalam kecanggihannya sebanding de-ngan sistem yang kita lihat di alam semesta secara umum.
Setiap atom terbuat dari inti dan sejumlah elektron yang bergerak mengitari orbitnya yang berjarak sangat jauh dari inti. Di dalam inti ter-dapat partikel-partikel lain bernama proton dan netron.
Dalam bab ini, kita akan mengamati struktur atom yang luar biasa yang merupakan dasar dari semua yang hidup maupun mati, dan melihat bagaimana atom-atom berkombinasi untuk membentuk molekul dan akhirnya materi.


Kekekuatan yang Terkandung dalam Inti

Inti terletak tepat di pusat atom dan terdiri dari sejumlah proton dan netron yang banyaknya tergantung pada sifat-sifat atom tersebut. Jari-jari inti kira-kira seperseribu jari-jari atom. Untuk menyatakannya dalam bentuk angka, jari-jari atom adalah 10-8 (0,00000001) cm, dan jari-jari inti adalah 10-12 (0,000000000001) cm. Karena itu, volume inti sama dengan satu per sepuluh-miliar volume atom.
Karena kita tidak dapat membayangkan besarnya (atau tepatnya kecilnya) angka ini, mari kita ambil contoh buah ceri tadi. Mari kita lihat inti di dalam atom yang telah kita bayangkan sebesar buah ceri ketika kunci di tangan Anda sebesar bumi. Bahkan dengan perbesaran skala seperti itu, masih mustahil bagi kita melihat inti, yang masih sangat-sangat kecil. Bila kita benar-benar ingin melihatnya, maka kita harus mengubah kembali skalanya. Ceri yang mewakili atom, harus diperbesar lagi menjadi sebuah bola raksasa yang berdiameter 200 meter. Bahkan dalam skala yang sukar dipercaya ini pun, inti dari atom tidak lebih besar dari sebutir debu. 15
Sekecil itulah, sehingga bila kita membandingkan diameter inti yang 10-13 cm dan diameter atom yang 10-8 cm, kita sampai pada hasil berikut: jika kita asumsikan bahwa atom itu sebuah bola, dan jika kita ingin memenuhi bulatan ini dengan inti, maka kita akan membutuhkan 1015 (1.000.000.000. 000.000) inti untuk mengisinya.16
Akan Tetapi, ada satu hal yang lebih mengejutkan lagi: walaupun ukuran inti satu per sepuluh-milyar ukuran atom, massa inti mencakup 99,95% massa atom. Bagaimana bisa sesuatu yang menguasai hampir keseluruhan massa, di lain pihak, hampir tidak ada ruang yang ditem-patinya?
Alasannya adalah kerapatan yang meliputi massa atom tidak tersebar merata ke seluruh atom. Hampir seluruh massa atom dikumpulkan di inti. Katakanlah, Anda memiliki sebuah rumah berukuran 10 milyar meter persegi, dan Anda harus menarik semua meubel di dalam rumah itu ke sebuah kamar yang berukuan satu meter persegi. Dapatkah Anda melakukannya? Tentu saja tidak. Tetapi inti atom dapat melakukan ini berkat gaya hebat yang berbeda dengan gaya-gaya lain di alam semesta. Gaya ini adalah gaya nuklir kuat, satu dari empat gaya fundamental di alam semesta yang telah kita sebutkan pada bab sebelumnya.
Kita telah mengkaji bahwa gaya ini, gaya paling dahsyat di alam, menjaga inti atom tetap utuh dan tidak terjadi penguraian. Semua proton dalam inti memiliki muatan positif dan mereka tolak-menolak karena gaya elektromagnetik. Namun, karena gaya nuklir kuat yang seratus kali lebih kuat daripada gaya repulsif proton, gaya elektromagnetik menjadi tidak efektif, dan proton-proton tetap di orbitnya.
Kesimpulannya, terdapat dua gaya kuat yang saling berinteraksi di dalam atom yang terlalu kecil untuk dapat kita lihat. Inti dapat tetap utuh berkat nilai gaya-gaya ini tepat.
Kalau kita membandingkan ukuran atom dan jumlah atom di alam semesta, mustahil untuk mengabaikan bahwa ada keseimbangan dan rancangan luar biasa yang sedang bekerja. Sangat jelas bahwa gaya-gaya fundamental di alam semesta ini telah diciptakan secara khusus dengan pengetahuan dan kekuasaan mahaluas. Bagi mereka yang tidak mau percaya, hanya bisa menyatakan bahwa semua ini menjadi ada karena “kebetulan” saja. Namun, perhitungan probabilitas secara ilmiah telah menyatakan bahwa keseimbangan di alam semesta terbentuk secara “kebetulan” peluangnya adalah “0” Semua ini adalah bukti yang jelas dari keberadaan Allah dan kesempurnaan ciptaan-Nya.

Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran. (QS. Al An'aam, 6:80) !

Ruang di dalam Atom

Seperti disebutkan sebelumnya, bagian terbesar dari atom adalah ruang. Ini menimbulkan pertanyaan yang sama pada setiap orang: mengapa ada ruang seluas itu? Mari kita pikirkan. Dalam kalimat sederhana, atom terdiri dari inti, dikelilingi elektron-elektron. Tak ada apa-apa lagi antara inti dan elektron-elektron. Jarak mikroskopis “di mana tidak terdapat apa pun”, sesungguhnya sangat besar dalam skala atom. Kita dapat mencontohkan skala ini sebagai berikut: Jika sebuah kelereng berdiameter satu sentimeter mewakili elektron yang berada paling dekat dengan inti, maka inti tersebut akan berjarak satu kilometer jauhnya dari kelereng ini.17 Kita dapat mengutip contoh di bawah ini untuk memperjelas perbandingan tesebut:
Ada ruang yang luas terbentang di antara partikel-partikel dasar. Bila saya memisalkan proton dari sebuah inti oksigen sebagai kepala “jarum pentul” yang terletak di atas meja di depan saya, maka elektron yang bergerak mengitarinya hingga membentuk lingkaran, akan melewati Belanda, Jerman, dan Spanyol (penulis kutipan ini tinggal di Prancis). Karena itu, jika semua atom yang membentuk tubuh saya berkumpul dengan begitu dekat hingga saling menyentuh, Anda tidak akan dapat melihat saya lagi. Anda benar-benar tidak akan pernah dapat melihat saya dengan mata telanjang. Saya akan menjadi sekecil partikel debu yang berukuran seper sekian ribu milimeter.18
Sampai di sini kita menyadari bahwa ada kesamaan antara ruang paling luas dan ruang yang paling sempit yang kita ketahui di alam semesta. Saat kita mengarahkan mata kita ke bintang, sekali lagi kita melihat kekosongan yang mirip dengan yang ada pada atom. Ada kekosongan milyaran kilometer baik antar bintang maupun antar galaksi. Namun, di dalam kedua kekosongan ini, sebuah keteraturan di luar batas pemahaman manusia tampak jelas.


Di Dalam Inti: Proton dan Netron

Sampai tahun 1932, dianggap bahwa inti terdiri dari proton dan elektron saja. Kemudian ditemukan bahwa bukan elektron melainkan netron yang berada di dalam inti di samping proton. (Seorang ilmuwan terkenal, Chadwick, membuktikan keberadaan netron dalam inti pada tahun 1932 dan dia mendapatkan penghargaan Nobel untuk penemuan-nya ini). Manusia diperkenalkan pada struktur atom yang sesungguhnya hanya baru-baru ini.
Telah disebutkan sebelumnya betapa kecil inti atom itu. Ukuran proton yang dapat masuk ke dalam inti atom adalah 10-15 m.
Anda mungkin mengira bahwa partikel sedemikian kecil itu tidak akan berarti bagi kehidupan seseorang. Namun, partikel-partikel yang teramat kecilnya sehingga tidak dapat dibayangkan manusia ini membentuk dasar dari segala sesuatu yang Anda lihat di sekeliling Anda.

Sumber Keanekaragaman di Alam Semesta

Ada 109 unsur yang sudah dapat diidentifikasikan sampai saat ini. Alam semesta, bumi kita, dan semua benda yang hidup maupun mati, di-bentuk dengan penyusunan 109 unsur tersebut dalam berbagai kombi-nasi. Sampai saat ini kita telah melihat bahwa semua unsur terbuat dari atom-atom yang mirip satu sama lain, sementara atom ini juga terbuat dari partikel-partikel yang sama. Jadi, jika semua atom yang membentuk unsur terbuat dari partikel-partikel yang sama, apakah yang membuat unsur-unsur itu saling berbeda dan menyebabkan pembentukan zat yang sangat beraneka ragam?
Adalah jumlah proton di dalam inti atom yang pada prinsipnya membedakan unsur satu dengan yang lainnya. Ada satu proton dalam atom Hidrogen, unsur yang paling ringan, dua proton di dalam atom Helium, unsur kedua paling ringan, 79 proton dalam atom emas, 8 proton dalam atom oksigen, dan 26 proton dalam atom besi. Yang membedakan emas dari besi, dan besi dari oksigen hanyalah perbedaan jumlah proton dalam atom-atomnya. Udara yang kita hirup, tubuh kita, tumbuh-tumbuhan dan hewan, planet-planet di angkasa, makhluk hidup dan benda mati, pahit dan manis, padat dan cair, dan sebagainya… semuanya dibentuk dari proton, netron, dan elektron.


Garis Batas Keberadaan Fisik: Quark

Sampai dengan 20 tahun yang lalu, dipercaya bahwa partikel terkecil yang membentuk atom adalah proton dan netron. Namun baru-baru ini, ditemukan bahwa ada partikel yang jauh lebih kecil di dalam atom yang membentuk partikel-partikel yang disebutkan di atas.
Penemuan ini memicu perkembangan cabang ilmu fisika yang disebut “fisika partikel” yang menyelidiki “sub-partikel”dalam atom dan pergerakannya. Penelitian fisika partikel mengungkap bahwa proton dan netron yang membentuk atom sebenarnya terbentuk oleh sub-partikel yang disebut quark.
Dimensi quark yang membentuk proton, yang sedemikian kecil sehingga melampaui kemampuan imajinasi manusia, jauh lebih menak-jubkan: 10-18 (0,000000000000000 001) meter.
Quark di dalam proton tidak akan pernah dapat dipisahkan satu sama lain karena “gaya nuklir kuat”, yang menjaga partikel-partikel tetap berada di dalam inti, juga bekerja di sini. Gaya ini berfungsi sebagai pita karet antara quark-quark tersebut. Ketika jarak antar quark bertambah, bertambah juga gaya ini dan dua quark tidak akan pernah berjarak lebih dari seper-quadrilyun meter. Pita karet antara quark-quark ini terbentuk oleh gluon yang memiliki gaya nuklir kuat. Quark dan gluon berinteraksi sangat kuat. Namun, ilmuwan belum berhasil menyelidiki bagaimana interaksi ini terjadi.
Penelitian di bidang “fisika partikel” sedang berlangsung untuk memecahkan rahasia dunia partikel sub-atomik. Namun, sekalipun dengan segala kecerdasan, kesadaran dan pengetahuan yang dimiliki manusia, baru-baru ini kita hanya berhasil menemukan partikel-partikel dasar yang membentuk segala sesuatu termasuk diri kita. Lebih jauh lagi, semakin kita mencermati partkel-partikel ini, semakin detaillah subjek ini, dan kita sudah dibuat terhenyak oleh batas dimensi 10-18 m dari quark. Lalu, ada apa lagi di luar batas ini?
Dewasa ini, para ilmuwan mengemukakan berbagai hipotesis me-ngenai subjek ini, tetapi seperti telah disebutkan di atas, batas itu adalah titik terjauh yang bisa kita capai dalam dunia materi alam semesta. Segala sesuatu yang melampaui titik ini hanya dapat dinyatakan sebagai energi bukan materi. Yang terpenting adalah manusia menemukan —di lokasi yang hanya bisa ditemukannya setelah seluruh teknologi yang ada dikerahkan — keseimbangan luar biasa dan hukum-hukum fisika yang telah berjalan seperti jam. Lebih jauh lagi, lokasi ini adalah di dalam atom, yang merupakan bahan penyusun semua materi di alam semesta, termasuk makhluk hidup.
Manusia baru mulai menyadari mekanisme sempurna yang berfung-si tanpa gagal pada organ dan sistem di dalam tubuhnya sendiri. Pene-muannya tentang mekanisme sel pembentuk struktur ini baru terjadi beberapa dekade lalu. Penciptaan agung yang tampak pada atom pemba-ngun sel, proton dan netron dalam atom, dan quark di dalam partikel-par-tikel tersebut, begitu sempurna sehing-ga mengejutkan setiap orang, terlepas dari apakah dia percaya atau tidak. Hal mendasar yang perlu dipikirkan di sini adalah bahwa semua mekanisme sempurna ini berjalan dengan teratur setiap detik di sepanjang hidup manu-sia, tanpa campur tangannya, dan sama sekali di luar kendalinya. Fakta ini menjadi bukti nyata bagi setiap orang yang menggunakan nurani dan pengetahuannya bahwa semua itu diciptakan dan diatur oleh Allah, Pemilik kekuatan dan ilmu yang mahatinggi.

“Semua yang ada di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar-Rah-maan, 55: 29-30) !


Aspek Lain dari Atom: Elektron

Elektron adalah partikel yang berotasi dan berevolusi/berputar mengelilingi inti atom seperti halnya bumi berputar pada porosnya dan juga berputar mengelilingi matahari. Perputaran ini, seperti rotasi planet, ternyata berjalan terus-menerus dan sangat teratur pada jalur-jalur, yang kita sebut orbit. Namun, perbandingan ukuran bumi dan matahari sangat berbeda dari skala atom. Untuk membuat perbandingan antara ukuran elektron dan ukuran bumi, jika kita memperbesar atom sebesar bumi, maka elektron hanya akan sebesar apel.19
Puluhan elektron yang berevolusi dalam area yang begitu kecil sehingga tak terlihat walaupun menggunakan mikroskop tercanggih menciptakan sebuah lalu lintas yang sangat kompleks dalam atom. Yang paling menakjubkan di sini adalah bahwa elektron-elektron ini, yang mengelilingi inti seperti sebuah tameng muatan listrik, tidak pernah mengalami kecelakaan kecil sekalipun. Bahkan, satu kecelakaan kecil saja di dalam atom dapat menyebabkan bencana untuk atom itu. Tetapi kecelakaan seperti itu tidak pernah terjadi. Seluruh operasi ini berjalan mulus. Elektron-elektron yang mengelilingi inti dengan kecepatan sangat mengejutkan yaitu 1.000 km/detik, tidak pernah bertubrukan satu sama lain. Sangat mengagumkan bahwa elektron-elektron ini, yang tidak berbeda satu dengan lainnya, berputar di orbitnya sendiri-sendiri, dan ini jelas hasil dari sebuah “penciptaan yang disengaja”. Jika mereka mempunyai massa dan kecepatan berbeda, mungkin wajar saja kalau mereka mempunyai orbit berbeda di sekeliling inti. Contohnya, urutan planet dalam tata surya kita mengikuti logika ini. Planet-planet yang mempunyai massa dan kecepatan saling berbeda dengan sendirinya mempunyai orbit berbeda dalam mengelilingi matahari. Tetapi kasus elektron dalam atom sama sekali berbeda dari planet-planet ini. Semua elektron sama benar namun mempunyai orbit berbeda di sekeliling inti: Bagaimana mereka mengikuti jalur ini dengan akurat, bagaimana mereka bisa tidak saling bertabrakan meskipun mereka berukuran sangat kecil dan bergerak dengan kecepatan sangat tinggi? Pertanyaan ini membawa kita pada kesimpulan tunggal: satu-satunya kebenaran yang kita lihat dalam keteraturan unik dan keseimbangan rumit ini adalah penciptaan sempurna oleh Allah.

“Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Mem-bentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-Nama yang Paling Baik. Ber-tasbih kepada-Nya apa yang di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS. Al Hasyr, 59:24) !

Elektron adalah partikel-partikel kecil, berukuran hampir seperdua-ribu ukuran netron dan proton. Sebuah atom mempunyai jumlah elektron dan proton yang sama dan setiap elektron bermuatan negatif yang setara dengan muatan positif yang dikandung tiap proton. Total muatan positif pada inti dan total muatan negatif pada elektron saling meniadakan dan atom menjadi netral.
Muatan listrik yang dimilikinya membuat elektron patuh pada hu-kum-hukum fisika tetentu. Salah satu hukum fisika ini adalah “muatan listrik yang sama saling tolak dan muatan yang berlawanan akan saling tarik”.
Pertama, dalam kondisi normal, elektron-elektron, yang seluruhnya bermuatan negatif, seharusnya saling tolak mengikuti hukum ini dan melepaskan diri dari inti. Tetapi, ini tidak terjadi. Bila elektron terlepas dari inti, maka alam semesta akan terdiri dari proton, netron dan elektron bebas yang berkeliaran dalam ruang kosong. Kedua, inti yang bermuatan positif seharusnya menarik elektron-elektron yang bermuatan negatif, sehingga elektron akan melekat pada inti. Dalam kasus ini, inti akan menarik semua elektron dan atom akan melesak hancur.
Akan tetapi, tak satu pun hal ini terjadi. Kecepatan elektron yang luar biasa yang disebutkan di atas (1.000 km/detik), gaya tolak-menolak yang dikeluarkan oleh sesama elektron, dan gaya tarik-menarik antara inti dan elektron, merupakan nilai-nilai yang begitu tepat sehingga ketiga faktor yang saling bertentangan ini saling menyeimbangkan secara sempurna. Sebagai hasilnya, sistem luar biasa di dalam atom ini berjalan tanpa kegagalan. Bahkan jika nilai salah satu gaya yang bekerja pada atom lebih atau kurang daripada seharusnya, atom tidak akan pernah ada.
Di samping faktor-faktor itu, jika tidak ada gaya-gaya nuklir yang mengikat proton dan netron di dalam inti, proton-proton yang bermuatan sama bahkan tidak akan bisa saling mendekat, apalagi berikatan di dalam inti. Dengan cara yang sama, netron-netron tidak akan bisa melekat pada inti. Sebagai hasilnya, tidak akan ada inti dan karena itu, tidak ada atom.
Semua perhitungan akurat ini adalah indikasi bahwa sebuah atom pun tidak bebas lepas namun bekerja di bawah kendali sempurna Allah. Jika tidak, alam semeta yang kita tinggali ini pasti akan berakhir sebelum dimulai. Proses ini akan berbalik di permulaan dan alam semesta tidak akan terbentuk. Namun Allah, Pencipta segala sesuatu, Yang Mahakuasa dan Mahabesar, menetapkan keseimbangan yang sangat tepat di dalam atom seperti Dia menetapkan semua keseimbangan di alam semesta, yang karenanya atom terus eksis dalam keteraturan sempurna.
Para ilmuwan telah memberikan usaha terbaik mereka selama berta-hun-tahun untuk mengungkap rahasia keseimbangan yang ditetapkan oleh Allah ini, dan berhasil hanya sejauh memberi nama untuk gejala-gejala yang teramati seperti “gaya elektromagnetik”, “gaya nuklir kuat”, “gaya nuklir lemah”, dan “gaya tarik massa”… Tetapi, seperti yang disebutkan di bagian pendahuluan buku ini, tak seorang pun memikirkan pertanyaan “Mengapa?” Mengapa gaya-gaya ini beroperasi pada inten-sitas tertentu di bawah aturan-aturan tertentu? Mengapa daerah yang diatur gaya-gaya ini, aturan-aturan yang mereka patuhi, dan intensitas gaya-gaya ini, memiliki keharmonisan yang begitu hebat?”
Para ilmuwan tidak berdaya dihadapkan pada semua pertanyaan ini karena yang bisa mereka lakukan hanyalah memperkirakan keteraturan dalam peristiwa yang terjadi. Penelitian mereka, bagaimanapun juga, membangkitkan kenyataan yang tidak dapat dibantah. Setiap titik di alam semesta menunjukkan campur tangan Pemilik kecerdasan dan kehendak, yang tidak membiarkan satu atom pun menganggur. Ada kekuatan tunggal yang menjaga semua gaya ini dalam keharmonisan, dan itu adalah Allah, Yang memegang seluruh kekuatan dan kekuasaan. Allah menjelmakan kekuasaan-Nya di mana saja Dia berkehendak dan kapan saja Dia berkehendak. Seluruh alam semesta, dari atom terkecil hingga galaksi tak berujung mampu melanjutkan keberadaannya hanya karena kehendak dan penjagaan Allah.
Di dalam Al Quran, Allah menyatakan bahwa tidak ada kekuatan kecuali Dia dan Dia mengumumkan hukuman bagi mereka yang, karena ketidaktahuannya, menganggap bahwa makhluk tak berdaya (hidup atau mati) yang diciptakan Allah memiliki daya dan kekuatan yang mandiri dari-Nya, dan memberikan atribut karakteristik ketuhanan pada mereka.

“Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kia-mat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).” (QS. Al Baqarah, 2: 165) !

Sampai sejauh ini, tidak ada ilmuwan yang mampu menjelaskan penyebab dan sumber gaya-gaya di dalam atom dan tentunya di alam semesta pula, dan mengapa gaya-gaya tertentu berperan pada saat-saat tertentu. Yang dilakukan oleh ilmu pengetahuan hanyalah membuat pengamatan, mengukur dan mengarang “nama-nama” untuk hasil temuan mereka.
“Penamaan” seperti itu dianggap sebagai penemuan besar di dunia sains. Padahal yang dilakukan ilmuwan bukanlah usaha untuk mem-bentuk keseimbangan baru di alam semesta atau membangun sistem baru, namun hanya usaha untuk memahami dan menguraikan rahasia keseim-bangan yang nyata di dalam kosmos. Yang biasa mereka lakukan adalah hanya mengamati salah satu keajaiban dari yang tak terhitung banyaknya ciptaan Allah di alam semesta dan menamainya. Para ilmuwan yang mendeteksi sistem atau struktur agung ciptaan Allah diberi aneka penghargaan ilmiah, dihormati dan dikagumi orang. Dalam hal ini, yang seharusnya benar-benar dihormati, tanpa ada keraguan, adalah Allah, yang Maha Pengasih, yang Maha Penyayang, yang menciptakan sistem itu dari tidak ada menjadi ada, melengkapinya dengan keseimbangan sangat rumit dan terus-menerus menciptakan keajaiban luar biasa.

“Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasan-Nya) bagi orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Yunus, 10: 6) !


Orbit Elektron

Puluhan elektron, yang berpusing dan mengorbit dalam satu daerah tak teramati bahkan oleh mikroskop paling canggih sekalipun, men-ciptakan lalulintas yang sangat kompleks di dalam atom seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Namun lalulintas ini begitu teratur, tak tertandingi oleh lalulintas kota yang paling sistimatis. Elektron-elektron tidak pernah saling bertabrakan, karena setiap elektron memiliki orbit sendiri dan orbit-orbit ini tidak identik.
Ada tujuh kulit eletkron di seputar inti atom. Jumlah elektron yang tidak pernah berubah dalam tujuh kulit ini ditentukan dengan rumus matematika: 2n2. Jumlah maksimum elektron yang boleh ada di setiap kulit telah ditentukan dengan formula ini (n menunjukkan nomor kulit elektron).
Bahwa jumlah tak terbatas kulit elektron dari atom yang membangun alam semesta setia pada jumlah yang sama dengan mengkuti formula 2n2, menunjukkan keteraturan. Bahwa tidak ada kekacauan terjadi di dalam atom walaupun elektron-elektron berpindah dengan kecepatan luar biasa, juga menunjukkan keteraturan unik. Ini adalah keteraturan yang sama sekali tidak dapat dianggap sebagai kebetulan. Satu-satunya penjelasan untuk keberadaan keteraturan ini adalah bahwa Allah menciptakan segala sesuatu sebagai manisfestasi kekuatan-Nya dalam keteraturan dan keselarasan seperti yang disebutkan Al Quran. Allah merujuk keteratur-an yang diciptakan-Nya dalam ayat-ayat Al Quran:

“Sesungguhnya Allah telah mengadakan ke-tentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. Ath-Thaalaq, 65: 3) !

“Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.”, (QS. Al Furqaan, 25: 2) !
“Dan segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya. Yang mengetahui semua yang gaib dan yang tampak; Yang Mahabesar lagi Mahatinggi.” (QS. Ar-R'ad, 14: 8-9) !

“Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung yang Kami tumbuhkan pada-nya segala sesuatu menurut ukuran. “ (QS. Al Hijr, 15: 19) !

“Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan.” (QS. Ar-Rahman, 55: 5) !

“Dan Allah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadil-an)” (QS. Ar-Rahman, 55: 7) !

Seperti yang dijelaskan ayat tersebut, Allah, Raja seluruh dunia, Dia-lah yang menciptakan segala sesuatu dalam proporsi, ukuran, dan keter-aturan sempurna. Proporsi dan ukuran ini meliputi seluruh jagat raya, dari partikel sub-atomik terkecil, hingga benda-benda raksasa di ruang angkasa: tata surya, galaksi, dan segala sesuatu di antara mereka. Keku-atan, ilmu, dan citarasa seni Allah yang mahaluas dan tak berbatas lah yang menghasilkan semua itu. Allah memperkenalkan sifat-sifat-Nya kepada umat manusia dalam ukuran, keteraturan, dan keseimbangan sempurna pada makhluk dan sistem yang diciptakan-Nya. Dia menun-jukkan kekuatannya yang tiada berakhir di depan mata kita. Ini adalah kebenaran yang seharusnya dituju manusia dengan penelitian dan perhitungan sainsnya.


Gelombang atau Partikel?

Ketika elektron pertama kali ditemukan, partikel ini dianggap sama dengan proton dan netron yang ditemukan di dalam inti. Namun, pada percobaan berikutnya, ditemukan bahwa mereka menunjukkan karak-teristik gelombang seperti partikel cahaya, yaitu foton. Kemudian, Fisika Kuantum menyimpulkan bahwa setiap partikel sekaligus juga merupa-kan bentuk gelombang dengan frekuensi tertentu.
Telah diketahui bahwa cahaya menyebar dengan cara yang sama seperti gelombang pada permukaan air ketika batu dilempar ke dalam danau. Namun, cahaya terkadang mempunyai karakteristik partikel materi dan teramati dalam bentuk pulsa yang sporadis dan periodik seperti tetes hujan yang jatuh dari kusen jendala . Dikotomi yang sama ini terjadi juga pada elektron, yang menimbulkan keraguan besar dalam dunia ilmu pengetahuan. Penjelasan Richard P. Feynman seorang profesor Fisika teoretis yang terkenal meredakan kebingungan ini:
Sekarang kita tahu bagaimana perilaku elektron dan cahaya. Tetapi bagaimana saya menyebutnya? Jika saya katakan mereka berperilaku seperti partikel maka saya memberikan kesan yang salah; begitu juga jika saya katakan mereka berperilaku seperti gelombang. Mereka berperilaku dengan cara mereka yang unik, yang secara teknis dapat disebut cara mekanik kuantum. Mereka menunjukkan perilaku yang tidak pernah Anda lihat sebelumnya…. Sebuah atom tidak berperilaku seperti beban yang tergantung pada per dan berayun-ayun. Juga tidak seperti model mini tata surya dengan planet-planet kecil berputar mengelilingi orbitnya. Juga tidak tampak seperti kabut atau awan yang mengelilingi inti. Atom berperilaku tidak seperti apa pun yang pernah Anda lihat sebelumnya. Tapi setidaknya ada penyeder-hanaan. Elektron berperilaku dalam hal ini dengan cara yang persis sama seperti foton; keduanya aneh, namun dengan keanehan yang sama. Jadi diperlukan imajinasi tinggi untuk mengapresiasi perilaku mereka, karena kita akan menggambarkan sesuatu yang berbeda dari apa pun yang pernah Anda tahu. 21
Karena ilmuwan tidak pernah mampu menjelaskan perilaku elektron, sebagai solusinya mereka memberinya nama baru: “Gerakan Mekanika Kuantum”. Mari kita kutip lagi ucapan Profesor Feynman yang dengan kalimat berikut ini menyatakan sifat luar biasa elektron dan ketakjuban yang dirasakannya:
Jangan terus-menerus berkata pada diri Anda, jika Anda masih dapat menghindarinya, “bagaimana perilakunya bisa seperti itu?” karena Anda akan “tersesat”, masuk ke jalan buntu yang tak seorang pun berhasil keluar. Tak seorangpun tahu bagaimana perilakunya bisa seperti itu.22
Akan tetapi, jalan buntu yang disebut Feynman sebenarnya tidaklah demikian. Alasan mengapa sebagian orang tidak menemukan jalan keluar dari dilema ini adalah karena sekalipun ada bukti nyata, mereka tidak dapat menerima bahwa sistem dan keseimbangan luar biasa ini diadakan oleh Pencipta yang Mahaagung. Situasinya sangatlah jelas: Allah menciptakan alam semesta, melengkapinya dengan keseimbangan luar biasa dan dibuat menjadi ada tanpa ada contoh sebelumnya. Jawaban dari pertanyaan ilmuwan ”bagaimana perilakunya bisa seperti itu?” yang tidak pernah bisa dipecahkan atau dimengerti, terletak pada kenyataan bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu, dan bahwa segala sesuatu ada hanya karena perintah-Nya “Jadilah!”

“Allah menciptakan langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: ‘Jadilah’. Lalu jadilah ia.” (QS. Al Baqarah, 2: 117) !


Gerbang Dunia Penuh Warna Dibuka oleh Elektron

Pernahkan Anda berpikir bagaimana hidup di dunia tanpa warna? Coba bayangkan bila tubuh Anda, orang-orang di sekitar Anda, laut, langit, pohon, bunga-bunga, pendek kata, semuanya berwarna hitam. Anda tidak mau hidup di dunia seperti itu, bukan?
Apakah yang membuat bumi ini berwarna-warni? Bagaimanakah warna-warna yang membuat dunia begitu indah ini muncul?
Karakteristik tertentu yang ada dalam materi membuat kita dapat menangkap objek berwarna. Warna dibentuk sebagai hasil alami dari gerakan tertentu elektron-elektron di dalam atom. Anda mungkin akan berpikir “Apa hubungan gerakan elektron dengan warna?”. Mari kita jelaskan hubungan ini:
Elektron berevolusi hanya di dalam kulit-kulit elektron. Kita baru saja menyebutkan bahwa ada tujuh kulit elektron. Setiap kulit elektron memiliki tingkat energi tertentu, yang bervariasi tergantung pada jarak kulit dengan inti. Semakin dekat jarak kulit elektron dengan inti, semakin kecil energi yang dimiliki elektronnya, dan semakin jauh jaraknya de-ngan inti, semakin besar energi yang dimiliki elektronnya.
Setiap kulit elektron memiliki “subkulit (sub-shells)”, di mana elek-tron-elektron dari kulit tersebut bergerak terus-menerus.
Satu elektron perlu menerima energi eksternal agar dapat berpindah dari satu kulit ke kulit lain. Sumber energi ini disebut “foton”.
Dalam ungkapan paling sederhana, foton adalah “partikel cahaya”. Setiap bintang di alam semesta ini adalah sumber foton. Sumber foton yang paling penting untuk dunia kita adalah, tentu saja, matahari. Foton disebarkan ke seluruh penjuru angkasa dari matahari dengan kecepatan 300.000 km per detik.
Ketika foton dari matahari ini tiba di bumi dan menabrak atom-atom objek di bumi, elektron-elektron atom terkadang mulai berpindah. Jika elektron yang dapat berpindah dengan bantuan energi ini melompat ke kulit energi yang lebih tinggi dan kembali lagi ke kulit asalnya, ia akan memancarkan foton, yang membentuk warna yang akan tertangkap mata anda. Setiap proses yang telah dirangkum dalam beberapa kalimat di atas telah berlangsung sejak awal penciptaan tanpa kegagalan. Setiap langkah berjalan di bawah perencanaan hebat dan mengikuti aturan. Jika satu bagian saja dari interaksi antara elektron dan foton tidak bekerja, alam semesta akan gelap dan tanpa warna.
Mari kita urutkan lagi langkah kerja yang harus terjadi mengikuti rencana dan secara teratur untuk pembentukan alam semesta berwarna, alih-alih gelap.
l Cahaya datang dari matahari ke bumi berdifusi dalam bentuk par-tikel foton. Partikel foton ini menyebar ke seluruh bumi dan bertub-rukan dengan atom materi.
l Foton tidak dapat bergerak jauh di dalam atom. Mereka menubruk elektron-elektron yang mengitari inti.
l Elektron menyerap (mengabsorpsi) foton yang menubruknya.
l Ketika elektron mengambil energi dari foton yang diserap tadi, ia melompat ke kulit lain yang memiliki tingkatan energi lebih tinggi.
l Elektron ini mencoba kembali lagi ke rumahnya yang lama.
l Jika kembali lagi ke kulit aslinya, ia memancarkan foton yang memu-at energi.
l Foton yang dipancarkan elektron ini menentukan warna sebuah objek.
Sebagai rangkuman, warna sebuah objek terdiri atas campuran partikel cahaya yang diserap, kemudian dipancarkan oleh objek ini, dan mencapai mata kita. Warna benda yang tidak memancarkan cahaya sendiri tetapi memantulkan cahaya yang diterimanya dari matahari bergan-tung pada dua hal yaitu cahaya yang diterimanya dan perubahan yang dibuatnya pada cahaya ini. Bila sebuah benda yang disinari dengan cahaya putih tampak "merah”, ini karena benda tersebut menyerap seporsi besar campuran yang sampai padanya dari sinar matahari dan hanya memancarkan merah saja. Yang dimaksud “menyerap” adalah sebagai berikut:
Seperti yang disebutkan sebelumnya, setiap kulit memiliki subkulit dan elektron berpindah antara subkulit-subkulit ini. Setiap kulit mempu-nyai tingkat energi tertentu dan elektron membawa energi sebanyak yang diizinkan oleh tingkat energi kulit yang mereka putari. Kulit yang lebih jauh dari inti memiliki energi yang lebih besar. Bila satu ruang untuk satu elektron menjadi tersedia di kulit lebih tinggi, elektron tiba-tiba hilang, dan kemudian muncul kembali dalam subkulit dengan tingkat energi lebih tinggi. Tetapi, agar elektron dapat melakukan ini, ia harus meningkatkan energinya ke tingkat yang diminta oleh kulit tujuan. Elektron akan meningkatkan energinya dengan menyerap (menelan) partikel foton dari matahari.
Kita dapat membuat situasi lebih jelas dengan beberapa contoh. Mari kita perhatikan kupu-kupu Morpho. Pigmen pada kupu-kupu menyerap seluruh cahaya matahari dan memancarkan kembali hanya yang ber-warna biru. Ketika partikel cahaya untuk warna yang dipantulkan men-capai retina mata, mereka dikonversikan menjadi sinyal-sinyal elektrik oleh sel-sel cone dalam retina dengan cara tertentu sehingga ditangkap sebagai warna biru dan kemudian dikirimkan ke otak. Akhirnya warna biru terbentuk di otak.
Ini berarti bahwa warna sebuah objek bergantung pada karakter ca-haya yang dipancarkan dari sumber cahaya dan seberapa banyak bagian cahaya ini dipancarkan kembali oleh benda tersebut. Sebagai contoh, warna selembar gaun tidak sama bila dilihat di bawah sinar matahari dan di bawah sinar lampu toko. Jika sebuah objek dianggap hitam oleh otak kita, itu berarti bahwa objek ini mengabsorpsi semua cahaya dari mata-hari dan tidak ada yang dipantulkan. Demikian pula, jika benda meman-tulkan semua cahaya dari matahari dan tidak menyerapnya sedikitpun, maka otak kita menangkap warna putih dari benda itu. Dalam hal ini, hal-hal yang perlu kita cermati adalah sebagai berikut:
l Warna sebuah benda bergantung pada si-fat-sifat cahaya yang dipancarkan oleh sumber cahaya.
l Warna sebuah benda bergantung pada re-aksi elektron-elektron molekul dalam strukturnya, misalnya cahaya apa yang akan diserap elektron-elektron ini dan cahaya apa yang tidak diserapnya.
l Warna sebuah benda bergantung pada ba-gaimana otak kita menangkap foton yang sampai pada retina.
Di sini, marilah kita berhenti sejenak dan berpikir sekali lagi.
Elektron yang berevolusi dengan kecepat-an menakjubkan di sekitar inti atom, yang me-rupakan materi yang terlalu kecil untuk dilihat mata, tiba-tiba menghilang dari kulit-nya dan melompat ke tempat lain yang disebut sub-kulit. Juga dibutuhkan ruang kosong pada sub-kulit ini untuk lompatan tersebut. Elektron mendapatkan energi yang dibutuhkan selama proses dengan menyerap foton. Kemudian ia kembali ke orbitnya semula. Selama aksi ini, terbentuklah sesuatu yang dianggap mata ma-nusia sebagai warna-warna. Lebih jauh lagi, atom-atom yang berjumlah trilyunan ini terus melakukannya setiap waktu, karenanya kita melihat “citra” tak terputus.
Mekanisme menakjubkan ini tidak tertan-dingi kerja mesin apa pun buatan manusia. Se-buah jam misalnya, memiliki mekanisme yang sangat rumit, dan semua bagiannya (gigi, cak-ram, mur, baut dan sebagainya) harus ditem-patkan di lokasi yang tepat dan dengan cara yang tepat sehingga jam bekerja dengan baik. Bila terjadi masalah, sekalipun kecil, dalam mekanismenya maka jam tersebut akan terganggu. Tetapi, ketika kita memikirkan struktur atom dan bagaimana mekanisme elektron-elektron bekerja, kesederhanaan struktur jam itu dapat lebih dimengerti. Seperti yang telah disebutkan, mekanisme elektron terlalu kompleks, sempurna, dan tanpa cacat untuk dibandingkan dengan sistem mana pun yang dibu-at manusia. Jelas, sebuah sistem dengan kompleksitas begitu menakjub-kan dan berjalan begitu sempurna tidak mungkin muncul dengan spon-tan, sebagai hasil peristiwa kebetulan seperti yang dikatakan ilmuwan materialis. Sekarang mari kita ajukan perta-nyaan ini: Ketika Anda berjalan-jalan di gurun dan melihat sebuah jam ter-geletak di tanah, apakah An-da akan berpikir bahwa jam itu terbentuk dari debu, pasir, tanah dan batu secara kebetul-an? Tak seorang pun akan ber-pikir seperti itu, karena rancangan dan pengetahuan pada jam tersebut terlalu jelas. Padahal, rancangan dan pengetahuan dalam sebuah atom seperti yang disebutkan di atas sangat superior dibandingkan mekanisme apa pun buatan manusia. Pemilik pengetahuan ini adalah Allah, yang memiliki ilmu mahatinggi, yang mengetahui, melihat, dan menciptakan segala sesuatu.
Allah menciptakan setiap “tempat” baik yang dapat kita lihat dan yang tidak dapat kita lihat, dengan cita seni tak terbatas dan Dia memberikan rahmat tak terhitung untuk kita manfaatkan, apakah kita menyadarinya atau tidak. Seluk beluk warna yang belum kita ketahui sebelumnya, dan kita merasa tidak perlu mempelajarinya, telah menarik perhatian kita pada detail dan kompleksitasnya ketika ilmu pengetahuan berkembang. Tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan dan kema-juan ilmu pengetahuan seharusnya menyebabkan setiap orang yang menggunakan akal dan nuraninya untuk mempercayai keberadaan Allah. Walaupun begitu, masih ada orang-orang yang mengabaikan ke-luasan cita seni dan ilmu yang dapat diamati di mana pun di alam se-mesta. Seorang ilmuwan terkenal, Louis Pasteur, memberikan komentar menarik tentang hal ini dengan mengatakan, “Ilmu pengetahuan yang sedikit menjauhkan Anda dari Tuhan, namun pengetahuan yang dalam mendekatkan Anda kepada-Nya”.23
Ketika seseorang belajar lebih banyak mengenai contoh-contoh pen-ciptaan di sekitarnya, ia akan lebih memahami bahwa Allah meling-kupinya dari segala arah, Dia mengatur seluruh urusan di langit dan bumi, dan mengendalikan segala sesuatunya. Manusia ini mengerti bah-wa hidupnya pasti akan diambil dan mendapat balasan untuk apa pun yang dilakukannya di dunia. Ketika orang beriman lebih akrab dengan fenomena tak terhitung banyaknya yang terjadi di sekitarnya, keka-gumannya akan ilmu Allah meningkat. Kekaguman ini adalah langkah yang sangat penting menuju pengakuan kekuatan dan kekuasaan tak terbatas milik Allah, dan menjadi takut kepada-Nya. Hal ini dinyatakan dalam Al Quran:

“Tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami menghasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. Dan diantara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada pula yang hitam pekat dan demikian (pula) di antara manusia, bina-tang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang ber-macam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesung-guhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Faathir, 35: 27-28) !

Picture Text

Ruang antara proton-proton dan elektron-elektron atom adalah selebar daerah yang ditandai di peta

Yang menyebabkan perbedaan unsur-unsur adalah jumlah proton dalam inti atomnya. Perbedaan inilah yang membuat material-material di atas tampak begitu berbeda satu dengan lainnya.

Proton dan netron dalam inti terbentuk dari partikel yang lebih kecil lagi yang disebut quark.

Dari struktur atom hingga ke struktur quark, dapat dilakukan analisis partikel-partikel terkecil yang membentuk atom dengan menggunakan akselerator modern. Diagram di samping menggambarkan hubungan ini secara berurutan.

Pada diagram sebelah kanan, Anda melihat empat jenis orbit berbeda yang dibuat elektron, tergantung pada gerak gelombang. Elektron mengikuti orbit ini, tak ubahnya planet-planet yang bergerak mengelilingi matahari, tergantung pada sifat partikel-partikelnya. Gerakan elektron yang berbeda ini mencegah batasan tertentu.

Revolusi elektron mengitari inti berada dalam keseimbangan sangat rumit sebagaimana planet berevolusi mengelilingi matahari.

Sesungguhnya pada pertukaran
malam dan siang itu dan pada apa yang
diciptakan Allah di langit dan di bumi,
benar-benar terdapat tanda-tanda
(kekuasan-Nya) bagi orang-orang
yang bertaqwa.
(QS. Yunus, 10:6) !


PARTIKEL-PARTIKEL TERAKSELERASI

Pengkajian partikel yang merupakan bahan penyusun materi dimungkinkan dengan menyelidiki partikel yang berjuta-juta kali lebih kecil daripada atom.
Penelitian terhadap partikel yang sangat renik ini hanya dapat dilakukan dengan menggunakan peralatan eksperimental fisika partikel yang sangat kompleks dan besar. Eksperimen yang sedemikian rumit hanya dapat dilakukan dengan penggunaan komputer yang ekstensif .
Fisika partikel energi-tinggi adalah bidang sains yang mempelajari bahan pembangun materi dan interaksi di antara mereka. Percobaan terbaru yang dilakukan dengan bantuan teknologi baru yang canggih memungkinkan kita memperluas dengan cepat pengetahuan kita tentang komposisi materi.
Penelitian pada fisika partikel dilakukan di laboratorium akselerasi partikel yang berdiameter berkilo-kilometer. Di dalam akselarator, partikel bermuatan — kebanyakan proton dan elektron — dipercepat hingga kecepatan sangat tinggi melalui medan elektromagnetik dan diarahkan pada kamar awan. Partikel yang dipercepat kemudian dibuat bertabrakan dengan target tetap atau dengan sesamanya. Partikel-partikel yang pecah sebagai hasil tabrakan ini akan diuji dengan pelbagai sistem detektor.
Teknologi akselerator dan detektor, yang kecanggihannya dengan cepat meningkat sejak tahun 1950, membuat tabrakan berenergi setinggi mungkin. Penelitian tentang tabrakan ini oleh sistem detektor lanjut membuka jalan untuk penemuan bahwa proton dan netron, yang diketahui sebagai dasar materi, mempunyai sub-struktur yang terdiri dari partikel, yang disebut quark. Pengukuran dilakukan pada tingkat energi tinggi memberi peluang kepada ilmuwan untuk mempelajari komposisi materi pada jarak sekecil seperseratus jari-jari proton. Laboratorium akselerator hanya ditemukan di beberapa pusat di dunia karena pendirian dan pengoperasiannya sangat mahal. Yang terpenting adalah CERN (Jenewa), DESY (Hamburg), Fermilab-FNAL (Chicago) dan SLC (California). Para ahli fisika energi-tinggi mengikuti studi eksperimental ini di pusat-pusat tersebut dalam kelompok-kelompok besar dan mempelajari rahasia atom. Di antara lab-lab ini, SLC berdiameter 3 km dan CERN 27 km. Namun, pemenang dalam kompetisi ukuran ini adalah proyek AS, SSC yang sedang dibangun di pusat kota Texas, Amerika Serikat, dengan diameter sekitar 85 km. Biaya peralatan meningkat sebanding dengan ukuran (untuk SSC, angkanya mendekati 6 milyar dollar)20.

Laboratorium fisika partikel CERN menggunakan tabung 100 meter di bawah tanah yang dipasang melingkar dengan diameter 27 km. Partikel awalnya dipercepat di dalam tabung panjang ini, kemudian dibuat saling bertabrakan.

Labortorium fisika partikel CERN adalah pusat penelitian internasional yang berlokasi di perbatasan Swiss-Prancis dan didirikan oleh 19 negara Eropa anggotanya. Tujuan penelitian laboratorium ini adalah struktur dasar materi dan partikel-partikel utama yang membentuk struktur ini. Sekitar 3.000 ahli fisika, insinyur, teknisi dan karyawan administratif dipekerjakan di lab ini, yang dikunjungi lebih dari 6.000 ahli fisika anggota untuk tujuan riset.


ELEKTRON MEMBANTU KEHIDUPAN MANUSIA

Listrik adalah salah satu bagian paling penting dalam hidup kita. Tampaknya kita tidak dapat melakukan apa pun tanpanya. Hidup kita terikat pada listrik ketika kita makan, menonton TV, berpergian dari satu tempat ke tempat lain atau membersihkan rumah. Kita menekan tombol dan segala sesuatu di sekitar kita menjadi terang. Kita tekan tombol lain, dan semua peralatan listrik mulai bekerja. Bentuk listrik yang kita gunakan setiap waktu disebut arus listrik. Yang membuat arus ini terjadi adalah elektron-elektron yang kita bicarakan sejak awal buku ini. Listrik adalah arus bermuatan yang terbentuk dari pergerakan elektron dan ion bermuatan negatif. Peralatan seperti televisi dan kulkas dalam penggunaan sehari-hari membutuhkan listrik sebesar 1-2 Amper. Jadi, apa arti jumlah ini? Arus sebesar 1 Ampere/detik berarti transmisi 6 milyar kali satu milyar elektron dari area tertentu per detik. Ini adalah satu juta kali lebih besar daripada untuk sebuah sambaran kilat.

Elektron mengikuti orbit yang sangat kompleks dalam atom. Walaupun lingkungan yang jauh lebih padat daripada lalulintas kota terbentuk dalam tempat yang begitu kecil, tak satu kecelakaan pun terjadi.


TANDA-TANDA DARI AL-QURAN

Ketika mempelajari kulit elektron, kita juga harus memikirkan ayat yang menjelaskan hal ini di dalam Al Quran. Ada tujuh kulit elektron di sekeliling inti atom. Pada setiap kulit terdapat elektron dalam jumlah tertentu. Mungkinkah pernyataan “tujuh langit” yang digunakan dalam Quran untuk menggambarkan lapisan-lapisan yang membentuk langit, dimaksudkan juga sebagai kulit elektron yang seakan-akan menjadi langit dari atom? (QS. Al Mulk, 67:3)

Angka ini tidak pernah berubah. Tidak pernah menjadi 6 atau 8. Di sini, yang paling ajaib adalah bahwa angka tujuh kulit elektron sangat sesuai dengan ayat ini.

Tujuh puluh persen sinar yang mencapai bumi kita dari matahari porsinya sangat tepat untuk kelangsungan kehidupan di bumi.

Sangat banyak macam sinar dari matahari sampai ke bumi. Seperti terlihat pada spektrum elektromagnetik di atas, kita hanya melihat sebagian kecil saja dari sinar-sinar ini.

Rancangan superior dalam pembentukan warna telah membawa kita pada fakta tunggal: alam semesta telah diciptakan dalam keharmonisan dan keteraturan luar biasa, dari partikel terkecil hingga terbesar. Cita rasa seni warna adalah salah satu tanda ciptaan Allah yang sempurna.

Foton dari matahari yang menabrak struktur objek di bumi memungkinkan kita melihat dunia penuh warna.



Bab 3
LANGKAH KEDUA MENUJU MATERI: MOLEKUL


Apa sebetulnya yang membuat benda-benda yang Anda lihat di sekitar Anda saling berbeda? Apa yang membedakan warna, bentuk, rasa dan bau mereka? Mengapa satu zat lunak, semen-tara yang lain keras, namun satu lagi cair? Dari yang sudah Anda baca sejauh ini, Anda mungkin akan menjawab pertanyaan ini dengan menga-takan, “Perbedaan di antara atom-atom merekalah yang menyebab-kannya”. Tetapi, jawaban ini tidak memadai, karena jika atom-atom adalah penyebab perbedaan ini, maka harus ada miliaran atom yang memiliki sifat bebeda-beda. Dalam praktiknya, tidak seperti itu. Banyak materi tampak berbeda dan memiliki sifat-sifat berbeda walaupun atom-atom mereka sama. Penyebabnya adalah beragam ikatan kimia yang dibentuk atom di antara mereka untuk menjadi molekul.
Untuk menjadi materi, molekul adalah langkah kedua setelah atom. Molekul adalah unit terkecil yang menentukan sifat-sifat kimia dari suatu materi. Benda kecil ini disusun oleh dua atom atau lebih dan terkadang oleh ribuan kelompok atom. Atom-atom terikat dalam molekul dengan ikatan kimia yang ditentukan oleh gaya tarik elektromagnetik, yang berarti bahwa ikatan-ikatan ini terbentuk berdasarkan muatan listrik atom. Muatan listrik atom, pada gilirannya, ditentukan oleh elektron-elektron yang berada pada kulit terluar. Penyusunan molekul dalam kombinasi berbeda menimbulkan keanekaragaman materi di sekitar kita. Pentingnya ikatan kimia yang mendasari perbedaan materi menjadi jelas di sini.


Ikatan-Ikatan Kimia

Seperti yang diterangkan di atas, ikatan kimia dibentuk melalui gerakan elektron-elektron di kulit terluar atom. Tiap atom memiliki ke-cenderungan untuk mengisi kulit terluarnya dengan elektron sejumlah yang mampu ia tampung. Jumlah maksimum elektron yang dapat ditampung oleh kulit terluar atom adalah 8. Untuk melakukan ini, atom menerima elektron dari atom lain demi melengkapkan jumlah elektron kulit terluar menjadi 8, atau jika atom ini memiliki elektron lebih sedikit pada kulit terluar, ia memberikannya pada atom lain, membuat subkulit yang sebelumnya telah dilengkapi di dalam orbit terluarnya. Kecenderungan atom untuk saling bertukar elektron menyusun basis yang memicu gaya ikatan kimia yang mereka bentuk di antara mereka.
Gaya penggerak ini, yaitu, tujuan atom untuk meningkatkan jumlah elektronnya pada kulit terluar menjadi maksimal, menyebabkan atom membentuk tiga macam ikatan dengan atom lain. Yaitu, ikatan ion, ikatan kovalen, dan ikatan logam.
Biasanya, ikatan khusus yang dikategorikan sebagai “ikatan lemah”, terjadi di antara molekul. Ikatan ini lebih lemah daripada ikatan yang di-bentuk oleh atom untuk menjadi molekul, karena molekul membutuh-kan struktur yang lebih fleksibel untuk membentuk materi.
Sekarang, mari kita tinjau sekilas sifat ikatan-ikatan itu dan bagaimana mereka terbentuk.


Ikatan Ion

Atom-atom yang digabungkan dengan ikatan ion saling bertukar elektron untuk melengkapi jumlah elektron pada kulit terluarnya menjadi delapan. Atom yang memiliki sampai dengan empat elektron pada kulit terluarnya memberikan elektron ini kepada atom lain yang akan berga-bung dengannya, dan dengan keempat elektron itu mereka berikatan. Atom yang memiliki lebih dari empat elektron pada kulit terluarnya menerima elektron dari atom lain yang akan berikatan dengannya. Mole-kul-molekul yang terbentuk dengan jenis ikatan ini memilik struktur kristal (kubik). Molekul garam dapur (NaCl) adalah salah satu senyawa yang terbentuk oleh ikatan ini. Mengapa atom memiliki kecenderungan itu? Apa yang akan terjadi bila mereka tidak memilikinya?
Hingga saat ini, ikatan yang dibentuk atom dapat didefinisikan secara umum. Belum dimengerti mengapa atom-atom mengikuti prinsip ini. Mungkinkah atom-atom memutuskan sendiri bahwa jumlah elektron kulit terluarnya harus 8? Tentu saja tidak. Ini adalah perilaku yang berkehendak, dan berada di luar jangkauan atom, karena atom tidak memiliki intelegensi, keinginan, atau kesadaran. Jumlah ini adalah kunci dalam penggabungan atom-atom sebagai molekul, yang merupakan langkah pertama dalam penciptaan materi, dan akhirnya alam semesta. Jika atom tidak memiliki kecenderungan seperti itu yang berdasarkan prinsip ini, molekul, dan pada gilirannya, materi tidak akan ada. Tetapi, sejak pertama kali diciptakan, atom telah berperan dalam pembentukan molekul dan materi dengan sempurna berkat kecenderungan ini.


Ikatan Kovalen

Para ilmuwan yang mempelajari ikatan antara atom menghadapi situasi yang sangat menarik. Sementara sebagian atom saling bertukar elektron agar ikatan terjadi, beberapa dari mereka justru saling berbagi elektron pada kulit terluarnya. Penelitian lebih jauh mengungkap bahwa banyak molekul yang memegang peranan kritis dalam kehidupan ada berkat ikatan kovalen ini.
Mari kita tinjau sebuah contoh sederhana untuk menjelaskan ikatan-ikatan kovalen ini dengan lebih baik. Seperti yang telah disebutkan se-belumnya mengenai kulit-kulit elektron, atom dapat membawa maksimal dua elektron pada kulit paling dalam. Atom hidrogen mempunyai elektron tunggal dan ia memiliki kecenderungan untuk melengkapkan jumlah elektronnya menjadi dua supaya stabil. Untuk itu, atom hidrogen membentuk ikatan kovalen dengan atom hidrogen lainnya. Jadi, kedua atom hidrogen berbagi elektron tunggal masing-masing sebagai elektron kedua. Maka terbentuklah molekul H2.

Ikatan Logam

Jika sejumlah besar atom bergabung dengan berbagi elektron ma-sing-masing, ini disebut ikatan logam. Logam seperti besi, tembaga, seng, aluminium, dan lain-lain, yang membentuk materi mentah banyak perkakas dan instrumen yang kita lihat atau gunakan sehari-hari, men-dapatkan badan yang padat dan rapat karena ikatan-ikatan logam yang terbentuk oleh atom-atomnya.
Para ilmuwan tidak mampu menjawab pertanyaan mengapa elektron-elektron pada kulit elektron atom memiliki kecenderungan itu. Yang paling menarik, makhluk hidup menjadi ada karena kecende-rungan ini.


Langkah Berikutnya: Senyawa

Apakah Anda pernah bertanya-tanya berapa banyak senyawa yang dapat dibentuk dengan ikatan-ikatan ini?
Di laboratorium, senyawa jenis baru diproduksi setiap hari. Sekarang ini, hampir ada dua juta senyawa. Senyawa kimia paling sederhana dapat berukuran sekecil molekul hidrogen, sementara ada juga senyawa yang terbentuk dari jutaan atom. 27
Berapa paling banyak sebuah unsur membentuk senyawa berbeda? Jawaban dari pertanyaan ini sangat menarik, karena di satu sisi ada unsur-unsur tertentu yang tidak berinteraksi dengan unsur lainnya (gas-gas lembam/inert gasses), sementara di sisi lain ada atom karbon yang mampu membentuk 1.700.000 senyawa. Seperti yang dinyatakan di atas, jumlah total senyawa ada sekitar dua juta. 108 dari total 109 unsur membentuk 300.000 senyawa. Namun karbon, membentuk 1.700.000 senyawa sepenuhnya sendirian dengan cara sangat menakjubkan.


Bahan Penyusun Kehidupan: “Karbon”

Karbon adalah unsur paling penting untuk makhluk hidup, karena semua organisme hidup dibangun dari senyawa karbon. Halaman banyak sekalipun tidak akan cukup untuk menjelaskan sifat-sifat atom karbon, yang sangat penting untuk keberadaan kita. Lagipula ilmu kimia belum mampu menemukan semua sifatnya. Di sini kami akan menye-butkan hanya beberapa sifat karbon yang paling penting.
Struktur yang beraneka ragam seperti membran sel, tanduk rusa, batang kayu, lensa mata, dan bisa laba-laba disusun oleh senyawa karbon. Karbon, bergabung dengan hidrogen, oksigen, dan nitrogen dalam kuantitas dan susunan geometri yang berbeda-beda, menghasil-kan pelbagai jenis materi dengan pelbagai sifat baru. Jadi, apa yang menyebabkan karbon mampu membentuk hampir 1,7 juta senyawa?
Salah satu sifat terpenting karbon adalah kemampuannya untuk membentuk rantai dengan sangat mudah dengan cara membariskan atom-atom karbon. Rantai karbon terpendek dibuat dengan dua atom karbon. Meskipun belum diketahui pasti berapa banyak atom karbon yang membentuk rantai terpanjang, kita dapat berbicara tentang rantai dengan 70 mata rantai. Jika kita lihat bahwa atom yang dapat membentuk rantai terpanjang selain karbon adalah silikon yang membentuk enam sambungan, maka keluarbiasaan karbon dapat dimengerti lebih baik. 28
Mengapa karbon membentuk rantai dengan begitu banyak mata rantai adalah karena rantainya tidak linear. Rantai dapat bercabang, juga mampu membentuk poligon.
Dalam hal ini, bentuk rantai memainkan peranan penting. Dalam dua senyawa karbon, misalnya, jika atom-atom karbon yang berjumlah sama membentuk rantai-rantai yang berbeda, terbentuklah dua zat berbeda. Karakteristik atom karbon yang disebutkan di atas menghasilkan molekul-molekul yang penting untuk kehidupan.
Sebagian molekul senyawa karbon hanya mengandung beberapa atom, yang lain mengandung ribuan bahkan jutaan atom. Juga, tak ada elemen lain yang semampu karbon dalam membentuk molekul-molekul stabil dan tahan lama.
Mengutip David Burnie dalam bukunya, Life:
Karbon adalah unsur yang luar biasa. Tanpa kehadiran karbon dan sifat-sifat uniknya, tidak mungkin ada kehidupan di muka bumi.29
Seorang ahli kimia dari Inggris, Nevil Sidgwick, menulis dalam bukunya Unsur-Unsur Kimia dan Senyawanya, tentang pentingnya karbon bagi makhluk hidup:
Karbon adalah elemen yang unik di antara unsur-unsur dalam jumlah dan variasi senyawa yang bisa dibentuknya. Lebih dari seperempat juta telah ditemukan dan dijelaskan, tetapi ini tetap belum bisa menggam-barkan kemampuan karbon sepenuh-nya, mengingat karbon adalah dasar semua bentuk materi hidup.30
Kelas senyawa yang dibentuk dari karbon dan hidrogen saja disebut 'hidrokarbon'. Ini adalah keluarga besar senyawa yang mencakup gas alam, minyak cair, kerosin, dan minyak pelumas. Hidrokarbon eti-lena dan propilena menjadi basis industri petrokimia. Hidrokarbon se-perti benzena, toluena, dan terpentin adalah senyawa-senyawa yang sangat dikenal orang yang berurusan dengan cat. Naftalena yang me-lindungi pakaian kita dari ngengat adalah hidrokarbon lain. Hidro-karbon yang direaksikan dengan klorin atau fluorin membentu zat ana-estetik, zat kimia yang digunakan kuntuk memadamkan api, dan freon yang digunakan untuk pembekuan.
Seperti yang dikatakan Sidgwick diatas, akal manusia tidak cukup untuk mengerti sepenuhnya potensi atom yang memiliki hanya 6 proton, 6 netron dan 6 elektron ini. Tidak mungkin bahkan satu sifat saja dari atom yang sangat penting dalam kehidupan ini, untuk terbentuk secara tidak sengaja. Atom karbon, seperti yang lain, telah diciptakan oleh Allah sesuai benar untuk tubuh makhluk hidup, yang dikuasai Allah sampai ke atom terkecil.

“Kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang di bumi, dan adalah (pengetahuan) Allah maha meliputi segala sesuatu.” (QS. An-Nisaa', 4: 126) !


Ikatan Antarmolekul: Ikatan Lemah

Ikatan yang menjalin atom-atom dalam molekul lebih kuat daripada ikatan-ikatan lemah antar molekul ini. Ikatan ini dapat membantu pem-bentukan jutaan, bahkan miliaran jenis molekul.
Lalu, bagaimana molekul-molekul bergabung untuk membentuk materi?
Karena molekul-molekul menjadi stabil setelah pembentukan, mereka tidak lagi bertukar atom.
Jadi, apa yang membuat mereka tetap berikatan?
Dalam usaha untuk menjawab pertanyaan ini, para ahli kimia menghasilkan teori-teori berbeda. Penelitian menunjukkan bahwa molekul-molekul mampu bergabung dengan pelbagai cara tergantung pada sifat atom dalam komposisi mereka.
Ikatan ini sangat penting untuk ki-mia organik, yang merupakan kimia makhluk hidup, karena molekul ter-penting untuk kehidupan dibentuk berkat kemampuan mereka menjalin ikatan ini. Protein contohnya. Bentuk-bentuk tiga dimensi yang kompleks dari protein, yang merupakan bahan penyusun makhluk hidup, terbentuk berkat ikatan ini. Ini berarti bahwa ikatan kimia lemah antar molekul setidaknya sama pentingnya dengan ikatan kimia kuat antar atom demi pembentukan kehidupan. Tentu saja, kekuatan ikatan ini harus memp-unyai ukuran tertentu.
Kita lanjutkan dengan contoh protein. Molekul yang disebut asam amino bergabung membentuk protein, sebuah molekul yang jauh lebih besar. Atom-atom yang membentuk asam amino tergabung oleh ikatan kovalen. Ikatan lemah menyatukan asam amino-asam amino ini se-demikian sehingga membentuk pola tiga dimensi. Protein dapat ber-fungsi dalam organisme hidup hanya jika mereka memiliki pola tiga dimensi ini. Jadi, jika ikatan-ikatan ini tidak ada, baik protein maupun kehidupan tidak akan ada.
Ikatan “hidrogen”, sejenis ikatan lemah, memainkan peranan utama dalam pembentukan materi yang sangat penting untuk kehidupan kita. Contohnya, molekul-molekul yang membentuk air, sebagai dasar kehidupan, disatukan dengan ikatan hidrogen.


Molekul Ajaib: Air

Zat cair yang khusus dipilih untuk kehidupan — “air” — meliputi dua pertiga bagian permukaan bumi. Tubuh seluruh makhluk hidup di bumi dibentuk cairan khusus ini dengan perbandingan berkisar antara 50-95%. Dari bakteri yang hidup di sumber air panas dengan suhu mendekati titik didih air, sampai lumut pada aliran lelehan salju, kehidupan ada di segala tempat di mana ada air, tidak peduli pada suhu berapa pun. Bahkan dalam setetes embun di daun setelah hujan, beribu-ribu organisme berukuran mikroskopis lahir, berkembang biak, dan mati.
Bagaimana tampak bumi ini bila tidak ada air? Tentunya, di mana-mana hanya ada gurun. Laut tidak ada, dan sebagai gantinya menganga ngarai dan lubang mengerikan. Langit tampak tidak berawan dan akan berwarna aneh.
Sebetulnya, air yang merupakan dasar kehidupan di bumi sangat sulit terbentuk. Pertama, mari kita bayangkan, molekul-molekul hidro-gen dan oksigen, yang merupakan komponen air, kita masukkan ke dalam mangkok kaca. Lalu kita biarkan mereka dalam mangkok kaca untuk waktu sangat lama. Gas-gas ini belum tentu membentuk air walaupun mereka berada di dalam mangkok selama ratusan tahun. Kalaupun air bisa terbentuk, tak akan lebih dari setetes di dasar mangkok dan itu mungkin akan terjadi setelah beribu-ribu tahun.
Air terbentuk begitu lambat dalam kondisi ini karena faktor suhu. Pada suhu kamar, oksigen dan hidrogen bereaksi sangat lambat.
Oksigen dan hidrogen, dalam keadaan bebas, berbentuk molekul H2 dan O2. Untuk membentuk molekul air, mereka harus bertubrukan. Sebagai hasil dari tubrukan ini, ikatan-ikatan yang membentuk molekul hidrogen dan oksigen melemah, sehingga tidak ada rintangan lagi bagi atom-atom hidrogen dan oksigen untuk bergabung. Suhu meningkatkan energi yang kemudian meningkatkan kecepatan molekul-molekul ini, dan akhirnya memperbanyak jumlah tubrukan. Jadi, ini mempercepat reaksi. Namun, saat ini tidak ada suhu yang cukup tinggi untuk meng-hasilkan air di bumi. Panas yang dibutuhkan untuk membentuk air disediakan ketika bumi terbentuk, yang menghasilkan begitu banyak air sehingga memenuhi tiga perempat bagian permukaan bumi. Kini, air menguap dan naik ke atmosfer di mana air mendingin dan kembali ke bumi dalam bentuk hujan. Jadi, tidak ada peningkatan dalam kuantitas; hanya siklus yang tiada henti.


Sifat-Sifat Ajaib Air

Air mempunyai banyak sifat kimia yang istimewa. Setiap molekul air terbentuk dari penggabungan atom hidrogen dan oksigen. Yang menarik adalah bahwa kedua gas ini, yang satu bersifat membakar, yang lain bersifat mudah terbakar, bergabung untuk membentuk cairan, yaitu air.
Sekarang, mari kita lihat sepintas bagaimana air terbentuk secara kimia. Muatan listrik air adalah 0, berarti netral. Tetapi disebabkan ukuran atom oksigen dan hidrogen, komponen oksigen molekul air memiliki muatan yang sedikit negatif, dan komponen hidrogennya bermuatan sedikit positif. Ketika lebih dari satu molekul air bergabung, muatan-muatan positif dan negatif saling menarik untuk membentuk ikatan yang sangat khusus yang disebut “ikatan hidrogen”. Ikatan hidrogen adalah ikatan yang sangat lemah dan entah mengapa berumur pendek. Usia ikatan hidrogen ini kira-kira satu per seratus-milyar detik. Tetapi begitu satu ikatan pecah, ikatan yang lain terbentuk. Jadi, molekul-molekul air merekat kuat satu sama lain sambil mempertahankan bentuk cair karena mereka diikat dengan ikatan lemah.
Ikatan hidrogen juga memungkinkan air menahan perubahan tempe-ratur. Walaupun temperatur udara meningkat cepat, suhu air meningkat dengan lambat, dan begitu juga bila suhu udara tiba-tiba turun, maka suhu air akan turun dengan lambat. Dibutuhkan perubahan suhu yang besar untuk menyebabkan perubahan suhu dalam air. Energi termal air yang tinggi ini memiliki fungsi penting dalam hidup kita. Sebagai contoh, terdapat sejumlah besar air dalam tubuh kita. Bila air beradaptasi sesuai dengan perubahan suhu yang tiba-tiba di udara, kita akan menjadi demam atau beku tiba-tiba.
Air juga memerlukan energi termal yang tinggi untuk menguap. Kare-na air menggunakan energi termal cukup banyak saat menguap, suhunya menjadi turun. Sebagai contoh, kembali ke tubuh manusia, suhu tubuh normal manusia adalah 36oC, dan suhu tertinggi yang dapat ditolerir tubuh adalah 42o C. Interval 6o ini memang sangat kecil dan bahkan bekerja di bawah terik matahari selama berjam-jam dapat meningkatkan suhu badan setinggi itu. Tetapi, tubuh kita mengeluarkan banyak energi termal dengan berkeringat, yaitu menguapkan air di dalam tubuh, yang akhirnya menyebabkan suhu tubuh menjadi turun. Bila tubuh kita tidak memiliki mekanisme seperti itu, bekerja di bawah sinar matahari beberapa jam saja akan fatal akibatnya.
Ikatan hidrogen melengkapi air dengan sifat lain yang juga luar biasa, yaitu air lebih kental pada keadaan cair daripada keadaan bekunya. Padahal, sebagian besar zat di bumi lebih kental pada bentuk padat daripada bentuk cairnya.
Berlawanan dengan zat lain, air memuai ketika membeku. Ini karena ikatan hidrogen mencegah molekul-molekul air agar tidak berikatan terlalu kuat, akibatnya banyak ruang kosong di antara mereka. Ikatan hidrogen terurai ketika air berada dalam kondisi cair, yang menyebabkan atom-atom oksigen saling mendekat dan membentuk struktur yang lebih kental.
Hal ini juga yang menjadi penyebab es lebih ringan daripada air. Biasanya, bila Anda mencair-kan logam apa saja dan memasukkan logam padatnya ke dalam cairan itu, maka logam padat ini akan langsung tenggalam ke dasar cairan. Pada air, tidak seperti itu. Gunung es dengan berat puluhan ribu ton mengapung di atas air seperti pelampung. Jadi keuntungan apa yang diberikan oleh sifat-sifat air ini untuk kita?
Mari kita jawab pertanyaan ini dengan contoh sungai: Ketika cuaca sangat dingin, yang membeku bukan seluruh sungai namun hanya permukaannya saja. Air mencapai kondisi terberat pada suhu 4OC dan begitu air mencapai suhu ini, air langsung tenggelam ke dasar. Es ter-bentuk di atas air sebagai lapisan, di bawah lapisan ini air terus mengalir, dan karena 4OC adalah suhu di mana organisme hidup masih dapat bertahan, maka kehidupan dalam air tetap berlangsung.
Sifat-sifat unik yang telah Allah berikan kepada air membuat kehi-dupan bisa terwujud di atas bumi. Dalam Al Quran, Allah menyatakan pentingnya rahmat besar ini, yang diberikan-Nya kepada manusia:

“Dia-lah yang menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, seba-hagiannya menjadi minuman dan sebahagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggem-balakan ternakmu dan Dia menundukkan malam dan siang matahari dan bulan untukmu. Dan binatang-binatang itu ditundukkan (untuk-mu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahaminya.” (QS. An- Nahl, 16: 10-11) !

Sifat Air yang Menarik

Kita semua tahu bahwa air mendidih pada suhu 100O C dan membeku pada suhu 0OC. Sebetulnya, pada kondisi normal, air tidak mendidih pada suhu 100OC melainkan pada 180O C. Mengapa?
Dalam tabel periodik, sifat-sifat unsur dalam grup yang sama meningkat mulai dari unsur teringan hingga unsur terberat. Urutan ini paling tampak pada senyawa hidrogen. Senyawa elemen-elemen dari grup yang sama dengan oksigen pada tabel periodik disebut “hidrida”. Air bahkan disebut “oksigen hidrida”. Hidrida unsur-unsur lain dalam grup ini memiliki struktur molekul yang sama dengan air. Titik didih dari senyawa-senyawa ini semakin tinggi dimulai dari belerang (Sulfur) hingga unsur yang lebih berat lagi; namun, titik didih air justru bertolak belakang dengan pola ini. Air atau oksigen hidrida mendidih kurang 80OC dari yang semestinya. Situasi lain yang juga mengejutkan adalah titik beku air. Seharusnya, menurut urutan dalam sistem periodik, air membeku pada suhu 100 OC. Tetapi air melanggar aturan ini dan membeku pada suhu 0OC, 100OC lebih tinggi dari seharusnya. Hal ini membuat kita bertanya-tanya, mengapa tidak ada hidrida lain, melainkan hanya air (oksigen hidrida), yang melanggar aturan sistem periodik ini?
Hukum-hukum fisika, hukum-hukum kimia, dan lain-lainnya yang kita sebut aturan hanyalah usaha untuk menerangkan keseimbangan sempurna di alam semesta, dan detail penciptaan. Seluruh penelitian yang dilakukan di abad ke-20, lebih jelas menunjukkan bahwa semua keseimbangan fisik di alam semesta dirancang khusus untuk kehidupan manusia. Penilitian mengungkap bahwa semua hukum fisika, kimia dan biologi yang berlaku di alam semesta seperti halnya atmosfer, matahari, atom-atom, molekul-molekul, dan lain-lain, semuanya diatur seperti yang dibutuhkan dalam menyokong kehidupan manusia. Air, seperti elemen lain yang disebut di atas, cocok untuk kehidupan sampai pada taraf tidak tertandingi zat cair lain, dan sebagian besar bumi terisi air dalam jumlah yang memang tepat untuk kehidupan. Jelas bahwa semua itu tidak mungkin merupakan kebetulan dan bahwa ada aturan dan rancangan sempurna yang berlaku di alam semesta.
Sifat-sifat kimia dan fisika air yang mengejutkan ini membuktikan bahwa zat cair ini telah diciptakan khusus untuk kehidupan manusia. Allah memberikan kehidupan kepada manusia melalui air dan dengan-nya menumbuhkan segala sesuatu dari tanah yang dibutuhkan manusia agar tetap hidup. Allah menyeru manusia untuk memikirkan hal ini:

“Dan Dia-lah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Kami tum-buhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan, maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau, Ka-mi keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang korma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan deli-ma yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah, dan (perhatikan pulalah) kematangan-nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (ke-kuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al An’aam, 6: 99) !

Langit-Langit Pelindung: Ozon

Udara yang kita hirup, yaitu atmosfer paling rendah, komposisi utamanya adalah gas oksigen. Yang dimaksud gas oksigen adalah O2. Dengan kata lain molekul-molekul oksigen di atmosfer bawah masing-masing terdiri dari dua atom. Tetapi, molekul oksigen terkadang terbentuk dari tiga atom (O3). Dalam hal ini, molekul ini tidak disebut oksigen lagi, tetapi ozon. Karena kedua gas ini saling berbeda.
Satu hal yang perlu disebutkan di sini: Sementara oksigen terbentuk ketika dua atom bergabung, mengapa gas berbeda yang disebut ozon yang terbentuk ketika tiga atom oksigen bergabung? Bukankah sama-sama atom oksigen yang bergabung, apakah itu dua atau tiga atom dalam satu molekul? Lalu mengapa dua gas yang berbeda ini muncul? Sebelum menjawab pertanyaan ini, sebaiknya kita tinjau apa yang membedakan gas-gas ini.
Oksigen (O2) ditemukan pada atmosfer lebih rendah dan memberi kehidupan pada semua makhluk melalui pernapasan. Ozon (O3) adalah gas beracun dan berbau tidak sedap. Ozon ditemukan pada lapisan atmosfer tertinggi. Andaikan kita harus menghirup ozon alih-alih oksigen, tak ada manusia yang bertahan hidup.
Ozon berada di atmosfer teratas, karena di sana ozon berfungsi vital untuk kehidupan. Ia membentuk lapisan kira-kira 20 km di atas atmosfer yang menyelubungi bumi seperti sabuk. Ozon menyerap sinar-sinar ultraviolet yang dipancarkan matahari, mencegahnya mencapai bumi dengan intensitas penuh. Karena sinar ultraviolet mempunyai energi sangat besar, kontak langsung dengan bumi akan menyebabkan segala sesuatu di bumi terbakar, dan tidak memungkinkan kehidupan berkem-bang. Karena alasan ini, lapisan ozon menjadi tameng pelindung di at-mosfer.
Agar ada kehidupan di bumi, semua makhluk hidup harus dapat ber-nafas dan terlindungi dari radiasi sinar matahari yang berbahaya. Yang membentuk sistem ini adalah Allah, yang mengatur setiap atom, setiap molekul. Tanpa izin Allah, tak ada kekuatan yang dapat menyatu-kan atom-atom ini dengan proporsi berbeda-beda seperti molekul oksigen dan molekul ozon.


Molekul yang Kita Rasakan dan Cium

Indra perasa dan penciuman adalah persepsi yang membuat hidup manusia lebih indah. Kenikmatan yang dihasilkan indra-indra ini telah menarik minat orang sejak zaman dahulu, namun baru-baru ini saja ditemukan bahwa ini disebabkan oleh interaksi molekuler.
“Rasa dan bau adalah persepsi yang dibuat oleh berbagai molekul berbeda pada organ-organ indra kita. Singkatnya, bau makanan, minum-an, atau aneka buah dan bunga yang dapat kita lihat di sekeliling kita, semuanya terdiri dari molekul-molekul volatil (mudah menguap). Jadi, bagaimana hal ini terjadi?
Molekul-molekul volatil seperti aroma vanila, dan aroma bunga ma-war mencapai reseptor (penerima) yang berada pada rambut-rambut ge-tar di area hidung yang disebut epitelium dan berinteraksi dengan resep-tor-reseptor itu. Interaksi ini ditangkap sebagai bau di otak kita. Sejauh ini, ada tujuh jenis reseptor yang telah dikenali dalam lubang hidung kita, yang dibatasi oleh membran pencium sebesar 2-3 cm2. Tiap reseptor berhubungan dengan sejenis bau dasar. Sama halnya, ada 4 jenis reseptor kimia di bagian depan lidah kita. Reseptor-reseptor ini berhu-bungan dengan rasa asin, manis, asam, dan pahit. Otak kita menangkap molekul-molekul yang datang ke reseptor dari organ indra kita sebagai sinyal kimia.
Telah diketahui bagaimana rasa dan bau diterima dan bagaimana mereka terbentuk, namun para ilmuwan sejauh ini belum mencapai kesepakatan mengapa zat tertentu berbau tajam, sementara zat lain samar saja, dan mengapa ada zat yang lezat, dan ada yang tidak.
Pikirkanlah sebentar. Kita dapat tinggal di sebuah dunia tanpa rasa atau aroma apa pun. Karena kita tidak akan mengetahui konsep rasa dan aroma, bahkan tidak terpikirkan oleh kita untuk mengharapkan persepsi ini. Namun kejadiannya tidak begitu. Dari tanah cokelat berbau unik menghasilkan beratus-ratus jenis buah yang enak dan harum, sayur dan bunga ratusan warna, bentuk, dan aroma. Lalu, mengapa atom-atom ini, yang di satu sisi bergabung dengan cara luar biasa untuk membentuk zat, di sisi lain bergabung untuk menghasilkan bau dan rasa? Meskipun kita sering menganggap hal itu biasa dan tidak ingat betapa mereka itu rahmat yang besar, mereka adalah sumbangan bagi dunia kita sebagai hasil sebuah cita seni yang menakjubkan.
Untuk makhluk hidup lainnya, sebagian hanya makan rumput dan sebagian lain aneka bahan makanan. Tentunya, tidak ada yang berbau enak atau terasa lezat. Kalaupun enak, ini tidak berarti banyak bagi makhluk hidup itu karena mereka tidak memiliki kesadaran seperti kesadaran manusia. Kita juga bisa mengkonsumsi satu jenis nutrisi saja seperti mereka. Apakah Anda pernah memikirkan betapa biasa dan hambarnya hidup Anda jika Anda hanya bisa makan satu jenis makanan seumur hidup dan hanya minum air putih. Oleh karena itu, bau dan rasa, seperti rahmat yang lain, diberikan Allah, yang Maha Pemurah dan Pengasih, pada manusia secara cuma-cuma. Ketiadaan dua indra ini akan membuat hidup manusia sangat hambar. Sebagai rasa syukur atas semua rahmat ini, manusia seharusnya mencoba menjadi orang yang menye-nangkan Allah. Dan sebagai imbalan dari sikap ini, Allah menjanjikan kepadanya kehidupan abadi, yang berlimpah rahmat jauh lebih banyak dan sempurna daripada yang tampak di bumi yang merupakan contoh saja dari kenikmatan di kehidupan nanti. Namun, balasan untuk orang yang tidak bersyukur, ingkar, dan menjauhi Allah, adalah:

“Dan ingatlah juga, tatkala Tuhanmu memaklumkan ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepada-mu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih’.” (QS. Ibrahim, 14: 7) !


Bagaimana Kita Memandang Materi?

Yang kita diskusikan sejauh ini telah mengungkapkan bahwa apa yang kita sebut materi bukanlah satu entitas yang memiliki warna, bau, dan bentuk tertentu, seperti yang kita semula percayai. Yang kita bayang-kan sebagai materi, yaitu tubuh kita, kamar kita, rumah kita, dunia dan seluruh alam semesta, pada kenyataannya tidak lain adalah energi. Lalu, apa yang membuat segala sesuatu di sekitar kita dapat dilihat dan disentuh?
Alasan mengapa kita merasakan benda-benda di sekitar kita sebagai materi adalah tabrakan elektron-elektron di kulit-kulit orbit atom dengan foton, dan atom yang saling tarik dan tolak sesamanya.
Anda bahkan sebenarnya tidak memegang buku yang menurut Anda, Anda pegang sekarang… Sebenarnya, atom-atom tangan Anda tolak-menolak dengan atom-atom buku, dan Anda merasakan sensasi sentuhan tergantung intensitas gaya tolak ini. Seperti yang telah disebutkan ketika membahas struktur atom, mereka dapat saling mendekat sedekat diameter sebuah atom. Padahal, atom-atom yang mampu sedekat ini hanyalah atom-atom yang saling bereaksi. Jadi, kalau atom-atom dari zat yang sama saja tidak dapat bersentuhan, apalagi kita. Tidak mungkin kita menyentuh materi yang kita pegang, meremas atau mengangkatnya dengan tangan kita. Bahkan, bila kita dapat berada sedekat mungkin dengan benda di tangan kita, kita akan terlibat dalam reaksi kimia dengan objek tersebut. Dalam hal ini, sangat tidak mungkin bagi manusia atau makhluk hidup lain untuk bertahan hidup walapun hanya satu detik. Makhluk hidup akan langsung bereaksi dengan materi yang dia injak, duduki, sandari, dan akan berubah menjadi sesuatu yang lain.
Gambaran akhir yang muncul dalam situasi ini sangat menarik: kita hidup di dunia yang 99,95% terdiri dari kekosongan berisi atom-atom yang hampir seluruhnya merupakan energi.37 Sebenarnya kita tidak pernah menyentuh apa yang kita anggap “kita sentuh dan kita pegang”. Jadi, sejauh mana kita mengindra materi yang kita lihat, dengar atau cium? Apakah substansi-substansi ini benar-benar seperti apa yang kita lihat dan dengar? Sama sekali tidak. Hal ini sudah kita singgung pada saat kita membahas elektron dan molekul. Ingat, sungguh tidak mungkin kita melihat zat yang kita anggap ada dan kita lihat, karena fenomena yang kita sebut melihat sebenarnya terdiri dari image-image tertentu yang terbentuk di otak kita oleh foton-foton dari matahari, atau dari sumber cahaya lainnya, yang menabrak materi, dan materi ini lalu menyerap porsi tertentu dari cahaya yang datang, dan memancarkan sisanya. Yang dipancarkan kembali dari benda itulah yang sampai pada mata kita. Sehingga dapat dikatakan bahwa materi yang kita lihat hanyalah terdiri dari informasi-informasi yang dibawa oleh foton yang direfleksikan ke mata kita. Jadi, berapa banyak data tentang materi ini yang disampaikan pada kita melalui informasi ini? Kita tidak memiliki bukti bahwa bentuk asli materi yang ada di luar telah direfleksikan sepenuhnya kepada kita.

Picture Text

Atom sodium memberikan elektron terluarnya kepada atom klorin dan menjadi bermuatan positif. Karena menerima elektron, atom klorin menjadi bermuatan negatif. Keduanya membentuk ikatan ion melalui dua muatan berlawanan yang tarik-menarik ini. 24

Sebagian atom membentuk molekul baru dengan ikatan kovalen, berbagi elektron pada orbit terluar mereka.25

Ikatan antara atom-atom logam sangat berbeda dengan bentuk ikatan kimia lain — setiap atom logam menyumbangkan elektron terluarnya pada kolam umum. “Lautan elektron” ini menjelaskan sifat kunci logam — kemampuannya menghantarkan listrik.26

Materi mentah alam semesta dan tabel periodik: 92 unsur yang ditemukan bebas di alam dan 17 unsur yang dibuat di laboratorium atau dalam reaksi nuklir, disusun dalam sebuah tabel yang disebut “Tabel Periodik” menurut jumlah protonnya. Sekilas kita lihat, Tabel Periodik hanyalah kotak-kotak berisi satu atau dua huruf dengan angka-angka di sudut atas dan bawah. Namun yang paling menarik, tabel ini menampung elemen-elemen seluruh alam semesta termasuk udara yang kita hirup, di samping pula tubuh kita.


TIGA MOLEKUL YANG SAMA
MENGHASILKAN TIGA ZAT SANGAT BERBEDA.

Bahkan perbedaan jumlah atom antar molekul menyebabkan hasil yang sangat berbeda. Sebagai contoh, mari kita cermati dua molekul yang ditulis di bawah ini. Keduanya tampak mirip kecuali pada komponen karbon dan hidrogennya. Hasilnya adalah dua substansi yang sangat bertolak belakang:

C18H24O2 dan C19H28O2.

Dapatkah Anda menebak molekul-molekul apa ini? Kami beritahu saja Anda: yang pertama adalah estrogen yang kedua adalah testosteron. Yang pertama adalah hormon yang bertanggungjawab atas sifat-sifat kewanitaan, dan yang kedua adalah hormon yang bertanggung jawab atas sifat-sifat kelaki-lakian. Paling menarik di sini adalah, bahkan sedikit perbedaan dalam jumlah atom menyebabkan perbedaan seksual.
Sekarang mari kita lihat formula di bawah ini:

C6H12O2.

Bukankah molekul ini menyerupai molekul hormon estrogen dan testosteron? Jadi, molekul apa ini? Apakah hormon lain lagi? Biar kami jawab langsung: ini adalah molekul gula.
Dari contoh ketiga molekul yang tersusun dari unsur-unsur yang sama, terlihat jelas betapa beragamnya zat yang dihasilkan dari perbedaan jumlah atom. Di satu sisi, ada hormon untuk karakteristik seksual, sementara di lain sisi, ada gula, makanan dasar

Apa yang Terjadi Seandainya Atom-Atom yang Berdekatan Tiba-Tiba Bereaksi?
Baru saja dikatakan bahwa seluruh alam semesta dibentuk dari interaksi 109 unsur atom yang berbeda-beda. Di sini ada hal yang perlu disebutkan, yaitu bahwa kondisi yang sangat penting harus dipenuhi agar reaksi dimulai. Sebagai contoh, air tidak terbentuk kapanpun oksigen dan hidrogen bertemu, dan besi tidak segera berkarat begitu bersentuhan dengan udara. Kalau demikian, besi, yang merupakan logam keras dan mengkilat, dalam beberapa menit saja akan berubah menjadi besi-oksida, yang berupa bubuk halus. Tidak ada logam yang tersisa di bumi dan keteraturan di dunia akan sangat terganggu. Jika atom-atom yang kebetulan berdekatan dengan jarak tertentu bersatu segera tanpa harus memenuhi kondisi-kondisi tertentu, atom dari dua zat berbeda akan langsung berinteraksi. Dalam kasus ini, Anda bahkan tidak mungkin duduk di kursi, karena atom-atom yang membentuk kursi akan langsung bereaksi dengan atom-atom yang membentuk tubuh Anda, dan Anda akan menjadi manusia setengah kursi (!). Tentu saja dalam dunia seperti itu, tidak akan ada kehidupan. Bagaimana hal itu dihindari?
Sebagai contoh, molekul-molekul hidrogen dan oksigen bereaksi sangat lambat pada suhu kamar. Ini berarti air terbentuk sangat lambat pada suhu kamar. Tetapi bila suhu lingkungan meningkat, energi molekul juga meningkat dan reaksi dipercepat, sehingga air terbentuk dengan cepat pula. Jumlah minimum energi yang dibutuhkan molekul untuk bereaksi dengan yang lain disebut energi aktivasi. Misalnya, agar molekul hidrogen dan oksigen bereaksi satu sama lain untuk membentuk air, energi mereka haruslah lebih tinggi dari energi aktivasi.
Coba pikirkan. Jika suhu bumi sedikit lebih tinggi, atom-atom akan bereaksi terlalu cepat, yang berarti akan merusak keseimbangan di alam. Bila kebalikannya, suhu bumi lebih rendah, maka atom-atom akan bereaksi terlalu lambat, yang sekali lagi akan mengganggu keseimbangan di alam. Ini menjelaskan mengapa jarak bumi dari matahari sangat tepat untuk menyokong kehidupan di bumi. Tentu saja, keseimbangan rumit yang dibutuhkan untuk kehidupan tidak berakhir di sini. Kemiringan sumbu bumi, massanya, luas permukaannya, proporsi gas-gas dalam atmosfer, jarak antara bumi dan bulan, serta banyak faktor lain, harus tepat nilainya seperti sekarang ini sehingga makhluk hidup bisa bertahan. Ini menunjuk pada fakta bahwa semua faktor ini tidak dapat berkembang secara kebetulan dan semuanya diciptakan Allah, Pemilik kekuasaan tertinggi, yang memahami semua sifat makhluk.
Biasanya, peran ilmu pengetahuan selama proses ini hanyalah memberi nama hukum-hukum fisika yang teramati. Seperti dijelaskan di awal, dalam fenomena seperti itu, pertanyaan seperti “apa?”, “bagaimana?” dan “dengan cara bagaimana?”
menjadi tidak penting. Apa yang kita capai dengan semua pertanyaan ini hanyalah penjabaran dari hukum-hukum yang telah ada. Pertanyaan utama yang seharusnya diajukan adalah “mengapa?” dan “siapa yang menciptakan hukum-hukum ini?” Jawaban pertanyaan-pertanyaan ini tetap menjadi teka-teki bagi para ilmuwan yang menganut dogma-dogma materialis secara buta.
Di sini, di mana para materialis mencapai jalan buntu, gambarannya sangat jelas bagi orang-orang yang melihat kejadian di alam semesta dengan pikiran dan kesadarannya. Keseimbangan tanpa cacat di alam semesta, yang tidak bisa dijelaskan sebagai suatu kebetulan, telah diwujudkan menurut perencanaan dan kehendak yang agung, seperti yang dinyatakan dalam ayat, “Allah memperhitungkan segala sesuatu.” (Surat an-Nisa: 86), dan Dia menciptakan segala sesuatu menurut perhitungan, aturan, dan keseimbangan yang sangat teliti.

Intan, batu yang sangat berharga, adalah turunan karbon, yang di sisi lain, banyak ditemukan di alam sebagai grafit.

Protein harus memiliki konfigurasi tiga dimensi yang khusus untuk menjalankan peranan pentingnya dalam tubuh kita. Ikatan lemah antar molekul membentuk struktur ini.

“Apakah kamu tiada melihat bahwasanya Allah menurunkan air dari langit, lalu jadilah bumi itu hijau? Sesungguhnya Allah Mahahalus lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Hajj, 22: 63) !

Jika pembekuan air tidak dimulai dari permukaan ke dasar, sebagian besar laut akan membeku dalam setahun dan kehidupan di laut akan terancam.

Karena kerapatan air beku lebih kecil daripada bentuk cairnya, maka es terapung di air.

Molekul-molekul pada permukaan zat cair membentuk tegangan permukaan. Tegangan ini memberikan gaya kohesi antara molekul-molekul permukaan, yang cukup untuk mencegah kaki serangga air menembus permukaan. Tegangan permukaan air sangat penting untuk proses-proses fisiologis.31

“Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki untuk kamu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai. Dan Dia telah menundukkan pula bagimu matahari dan bulan yang terus-menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang. Dan dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Ibrahim, 14: 32-34) !

Bagaimana klorin menghancurkan ozon?
Klorin bereaksi dengan ozon, menghasilkan sebuah molekul oksigen, dan sebuah ion hipoklorit (OCl-) (1). Ion-ion ini bereaksi dengan atom oksigen (O2) (2) untuk membebaskan klorin (3), yang dapat bereaksi dengan ozon dan menghancurkan molekul ozon yang lain.32

PIPERIN. Piperin adalah komponen aktif merica putih dan hitam (Piper nigrum). Merica hitam diperoleh dengan membiarkan buah yang belum matang berfermentasi dan kemudian dikeringkan. Merica putih didapatkan dengan menghilangkan kulit dan daging dari buah matang, dan mengeringkan biji-bijinya.33

Para-HYDROXYPHENOL-2- BUTANONE ve IONONE
Campuran dari kedua molekul ini menghasilkan aroma yang sangat sedap. Butanon adalah molekul yang penghasil bau buah raspberrie yang sudah masak. Bau segar buah yang baru dipetik sebagian dihasilkan oleh Ionon, yang juga menghasilkan aroma jerami kering dan violet. Ionon adalah komponen pewangi minyak bunga violet.34

Furylmethanethiol. Molekul ini adalah salah satu molekul penghasil aroma kopi. Efek stimulasi dari kopi disebabkan oleh kafein. Warna biji kopi kering di samping ini disebabkan oleh reaksi pencokelatan yang terjadi ketika zat organik yang mengan-dung nitrogen dipanaskan. Di dalam biji sementara terperang-kap molekul-molekul penghasil rasa dan efek stimulasi.35

b-KERATIN
Sutra, nama umum dari b-Keratin, adalah cairan yang memadat yang dikeluarkan sejumlah serangga dan labah-labah, yang paling berharga dikeluarkan oleh ulat sutra, ulat dari ngengat sutra. Zat ini adalah sebuah polipeptida yang disusun sebagian besar dari glisin, alanin, dan sedikit asam amino lainnya. Molekul b-keratin tidak membentuk helix; melainkan mereka bertumpukan membentuk lembaran bergelombang rantai asam amino, di mana glisin muncul hanya pada satu sisi lembaran itu. Lembaran-lembaran itu kemudian saling bertumpuk. Struktur datar ini terasakan ketika Anda menyentuh permukaan lembut sutra. 36

Gambar di atas adalah gambar molekul berbau busuk, dan sebelah kanan adalah gambar molekul berbau harum. Seperti yang kita lihat, yang membedakan bau tidak sedap dengan aroma wangi adalah perbedaan kecil dalam mikrokosme yang tidak kasatmata.



Bab 4
ATOM-ATOM YANG MENJADI HIDUP


Sampai di sini, kita telah membahas atom dan bagaimana materi diciptakan dari yang sebelumnya tidak ada. Kita katakan bahwa atom adalah bahan penyusun semua benda baik hidup maupun mati. Perlu ditegaskan bahwa atom adalah bahan penyusun organisme hidup, di samping benda-benda mati. Karena atom adalah partikel-partikel yang tidak hidup, sangat menakjubkan bahwa atom merupakan bahan penyusun makhluk hidup. Ini juga merupakan masalah yang tidak pernah dapat dijelaskan oleh para pendukung teori evolusi.
Membayangkan atom-atom yang tidak hidup bergabung membentuk organisme hidup, sama tak mungkinnya dengan membayangkan batu-batu bergabung membentuk organisme hidup. Bayangkan sebongkah batu dan seekor kupu-kupu; yang satu benda mati, yang lainnya hidup. Tetapi apabila kita tinjau esensi mereka, kita akan melihat bahwa keduanya terbentuk oleh partikel-partikel subatomik yang sama.
Contoh berikut ini akan lebih menjelaskan kemustahilan benda mati berubah dengan sendirinya menjadi benda hidup: dapatkah aluminium terbang? Tidak. Bila kita gabungkan aluminium dengan plastik dan bahan bakar, dapatkah ia terbang? Tentu saja, belum bisa. Tetapi, jika kita gabungkan material-material ini dengan cara tertentu sehingga mem-bentuk sebuah pesawat, baru mereka dapat terbang. Jadi, apa yang membuat sebuah pesawat bisa terbang? Apakah sayapnya? Mesinnya? Pilotnya? Tak satu pun dari mereka dapat terbang sendiri. Sesungguhnya, pesawat terbang dibuat dengan rancangan tertentu melalui perakitan aneka bahan yang masing-masing tidak dapat terbang. Kemampuan untuk terbang bukan berasal dari aluminium, bukan juga dari plastik, atau bahan bakar. Spesifikasi bahan ini sangat penting, tetapi kemam-puan untuk terbang hanya bisa didapatkan setelah bahan-bahan ini di-gabungkan menurut suatu rancangan khusus. Begitu juga makhluk hi-dup. Sebuah sel hidup disusun dari atom-atom yang tidak hidup dengan rancangan khusus. Kemampuan sel hidup seperti pertumbuhan, repro-duksi dan lain-lainnya, adalah hasil dari rancangan sempurna, bukan merupakan sifat-sifat molekul. Rancangan tersebut adalah rancangan Allah dalam menciptakan yang hidup dari yang mati

“Sesungguhnya Allah menumbuhkkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup (Yang memiliki sifat-sifat) demikian ialah Allah, maka mengapa kamu masih berpaling?” (QS. Al An’aam, 6: 95) !

Hanya Allah yang Mahakuasa dan Mahabijaksana yang dapat meng-hidupkan substansi mati, dengan kata lain, menciptakan makhluk hidup. Sistem hidup mempunyai struktur yang sedemikian kompleks sehingga tak sepenuhnya dimengerti bagaimana mereka bekerja meskipun fasilitas teknologi tersedia saat ini.
Akan tetapi, ada kenyataan yang dipahami dengan bantuan ilmu pe-ngetahuan yang membuat kemajuan luar biasa bersamaan dengan teknologi yang semakin canggih di abad ke-20 ini. Makhluk hidup mempunyai struktur yang sangat-sangat kompleks. Ketika teori evolusi diajukan pada pertengahan abad ke-19, penelitian ilmiah yang dilakukan dengan mikroskop primitif telah menciptakan kesan bahwa sel hanyalah segumpal materi sederhana. Namun pada abad ke-20, observasi dan penelitian yang dilakukan dengan alat-alat canggih dan mikroskop elektron mengungkap bahwa sel, yang merupakan bahan penyusun benda-benda hidup, mempunyai struktur sangat kompleks yang hanya dapat dibentuk sebagai hasil rancangan sempurna. Yang paling penting, penelitian ini menunjukkan bahwa mustahil kehidupan bisa muncul begitu saja dari zat mati. Sumber kehidupan hanyalah kehidupan. Fakta ini telah dibuktikan secara eksperimental pula.38 Ini merupakan masalah yang tidak pernah dapat dipecahkan oleh para evolusionis. Oleh karena itu, alih-alih menunjukkan bukti-bukti ilmiah, ilmuwan evolusionis yang menemui jalan buntu, menceritakan dongeng yang tak lebih dari omong kosong. Mereka mengajukan pernyataan yang sama sekali tidak masuk akal dan tidak ilmiah bahwa materi mempunyai kesadaran, kemampuan, dan kemauan sendiri. Anehnya, mereka sendiri juga tidak mempercayai kisah tidak logis ini dan pada akhirnya terpaksa mengaku bahwa pertanyaan utama yang harus dijawab tidak dapat dijawab secara ilmiah:
Pernah ada sebuah masa sebelum kita hidup, ketika bumi masih kosong dan tak berpenghuni. Sekarang dunia kita dipenuhi dengan kehidupan. Bagai-mana ini terjadi? Bagaimana molekul organik berbasis karbon dibuat dalam ketiadaan kehidupan? Bagaimana makhluk hidup yang pertama muncul? Bagaimana kehidupan berevolusi sehingga terbentuk makhluk hidup sedemikian detail dan rumit seperti kita, yang dapat menggali misteri asal-usul kita sendiri?39
Misteri evolusi terbesar saat ini adalah bagaimana materi muncul dan ber-evolusi, mengapa bentuknya di alam semesta dan di bumi seperti sekarang ini? Dan mengapa ia mampu membentuk dirinya menjadi kumpulan molekul hidup yang kompleks?40
Seperti yang diakui para ilmuwan evolusio-nis di atas, tujuan utama teori evolusi adalah untuk menyangkal bahwa Allah menciptakan makhluk hidup. Meskipun kebenaran pencipta-an sangat jelas pada setiap sudut alam semesta dan tampak gamblang bahwa setiap detail adalah hasil desain yang terlalu sempurna untuk terjadi secara kebetulan, evolusionis menutup mata pada kenyataan ini dan terjebak dalam lingkaran intelektual tak putus.
Alih-alih percaya pada kebenaran, para ilimuwan evolusionis memilih membicarakan kemampuan benda mati, bagaimana mereka mengubah diri menjadi organisme hidup. Sambil menutup mata dari kebenaran, para ilmuwan ini tanpa sadar mempermalukan diri mereka sendiri. Sangat jelas, menyatakan bahwa atom mempunyai bakat dan menggunakan bakat ini untuk mengubah diri menjadi sistem hidup, tidak ada hubungannya dengan nalar.
Setelah membaca contoh yang akan kita kutip sekarang, Anda akan menentukan sendiri realistis atau tidak kisah-kisah ini. Berikut ini adalah skenario yang diajukan para evolusionis untuk menggambarkan peru-bahan atom-atom mati dan tidak berkesadaran menjadi organisme hidup, atau tepatnya, menjadi manusia dengan tingkat kesadaran dan kecerdas-an tinggi.
Setelah Big Bang, atom-atom, yang mengandung gaya-gaya yang tepat seimbang, entah bagaimana memunculkan dirinya. Sementara sebagian atom, yang memadai jumlahnya untuk membentuk seluruh alam semes-ta, membentuk bintang-bintang dan planet-planet, serta sebagian mem-bentuk bumi. Sebagian atom yang membentuk bumi, pada awalnya mem-bentuk daratan, dan kemudian, secara tiba-tiba memutuskan untuk mem-bentuk makhluk hidup! Atom-atom ini pertama-tama mengubah dirinya menjadi sel-sel dengan struktur yang sangat kompleks dan kemudian memproduksi duplikat sel yang mereka bentuk dengan membelah diri menjadi dua. Setelah itu mereka mulai berbicara dan mendengar. Kemu-dian, atom-atom ini berubah menjadi profesor-profesor yang melihat diri mereka sendiri melalui mikroskop elektron dan menyatakan bahwa me-reka muncul secara kebetulan. Sebagian atom bergabung untuk memben-tuk insinyur-insinyur sipil yang membangun jembatan dan gedung pen-cakar langit, sementara atom-atom lain bergabung untuk memproduksi satelit, pesawat terbang. Dan atom-atom lainnya lagi menjadi spesialis di bidang fisika, kimia, dan biologi. Atom-atom seperti karbon, magnesium, fosfor, potasium dan besi berkumpul untuk membentuk otak yang sempurna dengan kompleksitas luar biasa, dan masih mengandung rahasia yang belum terungkap. Otak ini mulai melihat benda-benda tiga dimensi dengan resolusi sempurna yang belum pernah dicapai teknologi. Sebagian atom membentuk pelawak dan mentertawakan lelucon yang dibuat pelawak. Lagi, sebagian atom menciptakan musik dan menikmati musik itu.
Cerita ini bisa kita perpanjang, tetapi mari kita hentikan sampai sini, dan melakukan eksperimen untuk menunjukkan bahwa cerita seperti itu tidak akan pernah terwujud. Biarkan para evolusionis memasukkan atom-atom sebanyak yang diperlukan unsur-unsur yang membentuk kehidupan ke dalam sebuah tong. Biarkan mereka menambahkan apa saja yang mereka anggap perlu ke dalam tong itu agar atom-atom ini bersatu untuk membentuk zat organik, dan biarkan mereka menunggu. Biarkan mereka menunggu selama 100 tahun, 1.000 tahun, dan bila perlu selama 100 juta tahun, dengan mengalihkan tugas penantian dari ayah kepada anaknya. Akankah suatu saat muncul seorang profesor dari tong ini? Tentu saja tidak. Berapa lama pun mereka menunggu, seorang professor tidak akan muncul dari tong ini. Bukan hanya professor, satu makhluk hidup pun tak akan keluar dari tong ini. Tidak ada burung, ikan, kupu-kupu, apel, gajah, mawar, stroberi, jeruk, bunga violet, pohon, semut, lebah madu, bahkan nyamuk, tidak akan pernah ada, karena sekalipun jutaan keping zat organik terkumpul, mereka tidak akan dengan spontan memiliki sifat-sifat makhluk hidup.
Sekarang, mari kita lihat apakah atom-atom yang tidak berkesadaran dapat secara spontan membentuk DNA, batu pertama kehidupan, dan protein.
DNA (Deoxyribonucleic Acid/Asam Deoksiribonukleat), yang terletak pada inti sel mengandung kode-kode yang membawa informasi dari semua organ dan karakteristik tubuh. Kode ini sedemikian kompleks sehingga para ilmuwan hanya dapat menerjemah-kannya secara terbatas baru pada tahun 1940-an. DNA, yang berisi semua informasi tentang makhluk hidup pemiliknya, juga dapat berkembang biak sendiri. Bagaimana molekul yang terbentuk melalui perakitan dari atom-atom dapat berisi informasi dan bagaimana ia memperbanyak jumlahnya dengan menduplikat diri sendiri, masih merupakan salah satu pertanyaan yang tidak terjawab.
Protein adalah bahan pembangun makhluk hidup dan mereka me-mainkan peran kunci dalam banyak fungsi penting organisme. Misalnya, hemoglobin mengirim oksigen ke seluruh tubuh kita, antibodi menjinak-kan mikroba yang memasuki tubuh kita, dan enzim membantu kita mencer-na makanan yang kita makan dan mengubahnya menjadi energi.
Rumus pada DNA kita memungkinkan pembentukan 50.000 macam protein. Jelas, protein sangat penting untuk kelangsungan makhluk hidup dan ketiadaan satu protein saja, mustahil makhluk hidup itu bisa hidup. Secara ilmiah mustahil bagi DNA dan protein, yang masing-masing merupakan molekul besar, untuk terbentuk begitu saja secara kebetulan.
DNA adalah serangkaian nukleotida yang tersusun dalam urutan terentu. Protein adalah serangkaian asam amino yang tersusun lagi-lagi dalam urutan tertentu. Sebelumnya, secara matematika tidak mungkin baik untuk molekul DNA maupun molekul protein, yang terdiri dari ribuan jenis, untuk memilih secara kebetulan urutan yang diperlukan untuk kehidupan. Perhitungan probabilitas menunjukkan bahwa molekul protein yang paling sederhana sekalipun berpeluang nol untuk dapat mencapai urutan yang benar. (Untuk informasi lebih detail, baca buku Keruntuhan Teori Evolusi oleh Harun Yahya). Di samping ketidakmungkinan matematis ini, juga ada hambatan kimiawi untuk pembentukan molekul ini secara kebetulan. Jika hubungan antara DNA dan protein merupakan fungsi waktu, peluang dan proses alami, maka harus ada semacam kecenderungan kimiawi pada DNA dan protein untuk bereaksi, seperti asam dan basa yang mempunyai kecenderungan kuat untuk bereaksi. Dalam hal ini, jika 'peluang' benar-benar berperan, asam-gula, asam aminefosforat, dan seluruh tuan rumah (host) dari reaksi-reaksi kimia alami lainnya akan terjadi di antara fragmen-fragmen DNA dan protein manapun, dan makhluk hidup yang kita lihat sekarang tidak akan terbentuk.
Apakah kecenderungan alami fragmen-fragmen DNA dan protein untuk bereaksi secara kimia ini lantas membuat waktu, peluang, dan hu-kum kimia pada akhirnya akan menghasilkan kehidupan dari campuran molekul-molekul ini? Tidak. Bahkan sebaliknya. Masalahnya adalah bahwa semua reaksi kimia alami ini adalah reaksi yang salah selama ini mengenai sistem kehidupan. Jika diserahkan pada waktu, peluang, dan kecenderungan kimiawi mereka sendiri, DNA dan protein akan bereaksi sedemikian rupa sehingga menghancurkan sistem kehidupan dan akan menghambat perkembangan kehidupan.41
Sudah jelas, sama sekali mustahil bagi DNA dan protein, yang sama sekali tidak dapat terbentuk secara acak, dibiarkan tak terkedali untuk membentuk kehidupan mengikuti formasi mereka sendiri. Jean Guitto, filsuf kontemporer, menegaskan ketidakmungkinan ini dalam bukunya yang berjudul Dieu et la Science (Tuhan dan Ilmu Pengetahuan), dengan menyatakan bahwa kehidupan tidak terbentuk secara kebetulan:
Mengikuti 'kebetulan' yang manakah atom-atom tertentu saling mendekat untuk membentuk molekul pertama dari asam amino? Sekali lagi, melalui kebetulan yang mana molekul-molekul ini bergabung untuk membentuk struktur kompleks yang disebut DNA? Saya mengajukan pertanyaan seder-hana ini seperti ahli biologi, Francois Jacob bertanya: Siapa yang mem-persiapkan rencana agar molekul DNA pertama memberikan pesan pertama yang memicu kelahiran sel hidup pertama?
Jika orang puas dengan asumsi yang melibatkan faktor kebetulan, perta-nyaan-pertanyaan ini — dan banyak lagi lainnya — tidak akan pernah terja-wab; Inilah sebabnya, selama beberapa tahun terakhir, para ahli biologi mulai mengubah pandangannya. Peneliti-peneliti ternama tidak puas dengan menceritakan kembali hukum Darwin tanpa berpikir, dari waktu ke waktu; mereka mengajukan teori baru yang mengejutkan. Teori-teori ini berda-sarkan pada gagasan bahwa ada Zat Pengatur yang jelas lebih superior daripada materi terlibat dalam proses ini. 42
Seperti yang dikatakan Jean Guitton, sains telah mencapai suatu titik, berkat penelitian dan penemuan-penemuan ilmiah di abad ke-20, sehingga secara ilmiah telah terbukti bahwa teori evolusi Darwin tidak berlaku. Ahli biologi Amerika, Michael Behe, menyampaikan hal ini dalam bukunya yang terkenal, Darwin's Black Box:
Sains telah mengalami kemajuan luar biasa dalam memahami bagaimana kimia kehidupan bekerja, tetapi keanggunan dan kerumitan sistem biologi pada tingkat molekul telah melumpuhkan usaha-usaha sains untuk menjelaskan asal usul manusia. Jangankan kemajuan, usaha untuk menjelaskan asal usul sistem biomolekular yang spesifik dan kompleks saja nyaris tidak ada. Banyak ilmuwan berpura-pura menyatakan bahwa penje-lasan sudah di tangan, atau akan ada cepat atau lambat, tetapi tidak ada du-kungan untuk pernyataan ini dalam literatur ilmiah profesional. Lagipula, ada alasan-alasan yang memaksa — ber-dasarkan struktur sistem itu sendiri — kita berpikir bahwa penjelasan Darwin untuk mekanisme kehidupan selamanya terbukti tidak masuk akal.43
Seperti halnya seluruh alam semesta di-ciptakan dari sesuatu yang tidak ada, begitu pula makhluk hidup. Tidak ada yang dapat muncul dari ketiadaan secara kebetulan, demikian pula, zat mati tidak dapat berga-bung secara kebetulan untuk membentuk makhluk hidup. Hanya Allah, pemilik kekuatan, kebijakan, dan ilmu pengetahuan tak terhingga, yang memiliki kekuatan untuk melakukan semua ini:

“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan la-ngit dan bumi dalam enam masa, lalu dia bersemayan di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bin-tang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, men-ciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al A’raaf, 7: 54) !

Picture Text

Dapatkah material— plastik, aluminium, dan baja di atas — terbang? Tidak. Mereka tidak dapat terbang sekalipun mereka ditempatkan bersama dalam suatu wadah. Pesawat dibuat dengan merakit banyak bahan yang masing-masing tidak mampu terbang, dengan rancangan khusus. Kemampuan untuk terbang bukan didapat dari aluminium, plastik, atau bahan bakar. Spesifikasi bahan ini sangat penting, tetapi kemampuan untuk terbang hanya bisa didapatkan setelah bahan-bahan ini digabungkan menurut suatu rancangan khusus. Begitu juga makhluk hidup. Sebuah sel hidup disusun dari atom-atom yang tidak hidup dengan rancangan khusus.

Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidup-kan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkannya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan? (QS. Al Baqarah, 2: 28) !

Jelas betapa tidak berartinya sketsa di atas. Semua orang kini tahu bahwa batu-batu atau kerikil di alam tidak berubah menjadi katak atau ikan. Tak diragukan lagi, mustahil kehidupan bisa terbentuk dari materi mati. Ini menyangkal teori evolusi yang menyatakan bahwa kehidupan muncul dari benda mati secara kebetulan.


KETIKA ATOM MEMPELAJARI ATOM

Menurut pernyataan evolusionistis, atom-atom yang secara kebetulan berubah menjadi profesor dan melihat diri sendiri dengan mikroskop elektron, menyatakan bahwa mereka terbentuk secara kebetulan. Tidak diragukan pernyataan demikian sangat tidak meyakinkan bahkan bagi anak kecil.

Molekul DNA yang mengandung informasi lengkap tentang sel-sel hidup dalam sistem pengkodean sempurna, memiliki struktur yang sangat kompleks. Struktur molekul tanpa cacat ini menggugurkan pernyataan evolusionis bahwa ia terbentuk secara kebetulan.

“Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah). Dan Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Kepunyaan-Nyalah kerajaan langit dan bumi. Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al Hadiid, 57: 1-2) !

Dan kepada Allah sajalah bersujud segala apa yang berada di langit dan semua makhluk yang melata di bumi dan (juga) para malaikat, sedang mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri. Mereka takut kepada Tuhan mereka yang berkuasa atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka). (QS. An-Nahl, 16: 49-50) !



Bab 5
KEKUATAN ATOM


Kita mengetahui bagaimana atom, bahan pembangun seluruh alam semesta dan segala sesuatu di dalamnya, baik hidup mau-pun mati, membentuk materi dengan cara luar biasa. Seperti yang telah kita kaji, partikel kecil ini mempunyai organisasi yang sempurna di dalamnya. Namun, aspek ajaib dari atom tidak berakhir di sana, atom juga menyimpan energi yang sangat dahsyat.
Kekuatan tersembunyi di dalam atom sedemikian hebat sehingga penemuannya memungkinkan manusia untuk membangun kanal besar antarsamudra, menggali menembus gunung, memproduksi iklim buat-an, dan menyelesaikan banyak proyek bermanfaat. Namun, sementara kekuatan tersembunyi di dalam atom berguna bagi kemanusiaan di satu sisi, ia mengandung bahaya sangat besar bagi kemanusiaan di sisi lain. Sedemikian dahsyat sehingga penyalahgunaan kekuatan ini, puluhan ribu orang kehilangan jiwanya dalam waktu yang relatif singkat — bebe-rapa detik saja — di Hiroshima dan Nagasaki di masa Perang Dunia ke-2. Beberapa tahun belakangan, sebuah kecelakaan yang terjadi di Pembangkit Tenaga Nuklir Chernobyl, Rusia menyebab-kan kematian atau terlukanya sejumlah besar manusia.
Sebelum memberikan informasi lebih detail tentang bencana yang disebabkan kekuatan atom di Hiroshima, Nagasaki dan Chernobyl, mari kita tinjau sifat kekuatan atom dan bagaimana kekuatan ini dilepaskan.


Kekuatan Tersembunyi di Dalam Inti

Pada bab berjudul “Episode Pembentukan Atom”, telah dikatakan bahwa gaya yang menjaga proton dan netron tetap bergabung di dalam inti atom adalah “gaya nuklir kuat”. Kekuatan dahsyat energi nuklir didapatkan dengan pelepasan sebagian kecil dari gaya ini di inti. Kadar energi ini bervariasi tergantung jenis unsurnya, karena jumlah proton dan netron dalam inti setiap unsur berbeda. Ketika inti berkembang, jumlah netron dan proton dan kadar gaya yang mengikat mereka meningkat. Sangat sulit untuk melepaskan gaya yang berperan menjaga kebersamaan proton dan netron di dalam inti besar. Ketika jarak antar partikel semakin jauh, mereka, seperti tali busur yang terentang, mencoba untuk berkumpul kembali dengan gaya yang lebih kuat.
Sebelum mencermati gaya ini lebih detail, mari kita berpikir sejenak. Bagaimana gaya sedemikian besar berada di tempat yang sedemikian kecil? Gaya ini baru ditemukan setelah bertahun-tahun penelitian yang dilakukan oleh ribuan orang. Jika tidak di-ganggu, gaya ini tidak akan membahayakan siapa pun, tetapi karena intervensi manusia, gaya ini kapan saja dapat membunuh jutaan manusia.
Dua proses teknis yang disebut “fisi” dan “fusi” melepaskan gaya dahsyat dalam inti atom ini, yang dapat membahayakan jiwa jutaan manusia. Meskipun reaksi ini semula tampaknya terjadi di dalam inti atom, sebenarnya semua komponen atom terlibat. Reaksi yang disebut fisi adalah reaksi nuklir di mana inti atom membelah menjadi fragmen, dan reaksi yang disebut fusi membawa dua inti bergabung dengan sebuah gaya yang kuat. Dalam kedua reaksi ini, energi dalam jumlah besar dilepaskan.


Fisi

Fisi adalah reaksi nuklir di mana inti atom, yang terikat oleh gaya terkuat di alam semesta, atau “Gaya Nuklir Kuat”, terbelah menjadi fragmen-fragmen. Bahan utama yang digunakan dalam percobaan fisi adalah “uranium” karena atom uranium adalah salah satu atom terberat. Dengan kata lain, terdapat banyak proton dan netron di dalam inti atomnya.
Dalam percobaan fisi, ilmuwan menembakkan sebuah netron pada inti uranium dengan kecepatan tinggi. Mereka menghadapi situasi yang sangat menarik. Setelah netron diserap inti uranium, inti uranium menjadi sangat tidak stabil. Inti atom tak stabil berarti ada perbedaan jumlah proton dan netron di dalam inti yang menyebabkan ketidak-seimbangan di dalam strukturnya. Karena itu, inti memulai pembelahan menjadi fragmen dan memancarkan sejumlah energi untuk meng-hilangkan ketidakseimbangan ini. Inti, di bawah pengaruh energi yang dilepaskan, mulai mengeluarkan komponen-komponen yang dimiliki-nya dengan kecepatan tinggi.
Mengingat hasil percobaan ini, netron diakselerasi dan uranium dibombardir dengan netron di dalam lingkungan khusus yang disebut “reaktor”. Namun, uranium dibombardir dengan netron menurut ukuran tertentu, tidak secara acak, karena setiap netron yang mem-bombardir atom uranium harus dengan cepat mengenai uranium dan pada titik yang diinginkan. Karena itu, percobaan ini dilakukan dengan mempertimbangkan segala kemungkinan. Jumlah uranium, jumlah ne-tron untuk menembak uranium, durasi, dan kecepatan tembak netron, harus dihitung dengan saksama.
Setelah semua perhitungan dilakukan dan lingkungan yang sesuai disiapkan, inti dibombardir dengan netron-netron sedemikian rupa se-hingga mereka menembus inti atom di dalam uranium. Dari gumpalan inti, satu inti saja yang terbelah menjadi dua sudah cukup. Dalam pem-belahan ini, rata-rata dua atau tiga netron dikirim keluar dengan kece-patan tinggi dan energi yang besar. Netron-netron yang dilepaskan memulai reaksi berantai dengan menabrak inti uranium lainnya dalam gumpalan itu. Setiap inti yang baru terbelah berperilaku seperti inti uranium pertama. Jadi, reaksi berantai pun dimulai. Sejumlah besar inti uranium terbelah menjadi fragmen sebagai hasil reaksi berantai ini, dan menyebabkan terlepasnya sejumlah besar energi.
Pembelahan inti seperti inilah yang menyebabkan bencana di Hiro-shima dan Nagasaki, dan merenggut nyawa puluhan ribu orang. Sejak momen pertama bom atom dijatuhkan di Hiroshima oleh Amerika Seri-kat dalam Perang Dunia II, tahun 1945, dan setelahnya, diperkirakan 100.000 orang mati. Satu bom lagi yang dijatuhkan Amerika di Nagasaki tiga hari setelah bencana di Hiroshima menyebabkan kematian 40.000 orang tepat pada saat peledakan. Kekuatan yang dilepaskan inti di sam-ping menyebabkan kematian banyak orang, juga menghancurkan area pemukiman yang luas, dan radiasinya menimbulkan banyak penyim-pangan genetik yang tidak bisa diperbaiki dan masalah psikologis di pemukiman yang tersisa, yang kelak akan mempengaruhi generasi berikutnya.
Jika bumi kita, seluruh atmosfer, semua benda hidup dan mati terma-suk kita, terdiri dari atom, apa yang mencegah atom-atom itu melakukan reaksi nuklir seperti yang terjadi di Hiroshima dan Nagasaki, yang dapat saja terjadi kapan saja dan di mana saja?
Netron diciptakan dengan cara seperti itu sehingga, ketika mereka bebas di alam — tanpa terikat pada sebuah inti — mereka rentan terha-dap dekomposisi/peluruhan yang disebut “disintegrasi beta”. Karena peluruhan ini, tidak ada netron yang berkeliaran bebas di alam. Karena itu, netron yang digunakan pada reaksi nuklir ini didapatkan melalui metode buatan.
Ini menjelaskan bahwa, Allah, Pencipta seluruh alam semesta, men-ciptakan segala sesuatu dengan ukuran tepat. Jika netron tidak luruh dalam kondisi bebas, bumi hanya akan menjadi bola langit tak berpeng-huni di mana reaksi berantai berjalan terus-menerus. Allah menciptakan atom lengkap dengan kekuatan dahsyat di dalamnya dan menjaga kekuatan ini terkendali secara menakjubkan.


Fusi

Fusi nuklir, kebalikan dari fisi, adalah proses penyatuan dua inti ringan menjadi inti yang lebih berat dan menggunakan energi pengikat yang dilepaskan. Namun, untuk mencapai hal ini secara terkendali sangat tidak mudah. Ini karena inti bermuatan listrik positif dan berto-lakan satu sama lain dengan kuat jika dipaksa bersatu. Karena itu, sebuah gaya yang cukup kuat diperlukan untuk mengatasi gaya repulsif di antara mereka agar fusi terjadi. Energi kinetik yang dibutuhkan ini setara dengan temperatur sekitar 20-30 juta derajat.44 Temperatur ini luar biasa tinggi sehingga tidak ada satu pun benda padat untuk menampung partikel-partikel yang akan terlibat dalam reaksi fusi ini tahan ter-hadapnya. Jadi, tidak ada satu mekanisme pun di dunia yang dapat merealisasikan fusi kecuali panas dari bom atom.
Reaksi fusi terjadi di matahari sepanjang waktu. Panas dan sinar yang datang dari matahari adalah hasil fusi antara hidrogen dan helium, dan energi dilepaskan sebagai ganti materi yang hilang selama perubahan ini. Setiap detik, matahari mengubah 564 juta ton hidrogen menjadi 560 juta ton helium. 4 juta ton sisa materi diubah menjadi energi. Kejadian luar biasa ini menghasilkan tenaga matahari yang sangat vital bagi kehidupan di planet kita, dan telah berjalan selama jutaan tahun tanpa jeda. Dalam benak kita mungkin akan timbul pertanyaan seperti ini: Jika setiap detik matahari kehilangan materinya sebanyak 4 juta ton, kapan matahari akan habis?
Matahari kehilangan 4 juta ton materi setiap detiknya, atau 240 juta ton per menit. Jika kita asumsikan bahwa matahari telah memproduksi energi dengan laju seperti ini selama 3 milyar tahun, maka matahari telah kehilangan massanya selama itu sebesar 400.000 juta kali juta ton, yang sama dengan seper 5000 total massa matahari sekarang. Jumlah ini seperti satu gram pasir yang hilang dari bongkahan batu seberat 5 kilogran dalam kurun 3 milyar tahun. Ini menjelaskan bahwa massa matahari sedemikian besar sehingga waktu yang sangat-sangat panjang akan terlewati sebelum matahari habis.
Abad ini, manusia hanya dapat menemukan komposisi matahari dan kejadian kejadian yang berlangsung di dalamnya. Sebelumnya, tidak ada yang pernah tahu tentang gejala seperti ledakan nuklir, fisi atau fusi. Tak seorang pun tahu bagaimana matahari menghasilkan energi. Tetapi, selagi manusia tak menyadari semua ini, matahari terus-menerus menjadi sumber energi bumi dan kehidupan, selama jutaan tahun dengan mekanisme menakjubkan ini.
Sekarang, yang benar-benar menarik adalah bahwa bumi kita telah diletakkan pada jarak sedemikian tepat dari matahari — sumber energi bermassa besar — sehingga tidak terpapar kekuatan matahari yang membakar dan merusak, sekaligus tidak kehilangan energi bermanfaat yang disediakan matahari. Demikian pula, matahari yang memiliki daya dan energi sebegitu besarnya, diciptakan pada jarak, dengan kekuatan dan ukuran, yang sempurna untuk seluruh kehi-dupan di bumi, dan terutama, manusia.
Massa raksasa dan reaksi-reaksi nuklir hebat yang terjadi di dalamnya terus melakukan aktivitas selama berjuta-juta tahun dalam keharmonisan sempurna dengan bumi dan peri-laku terkendali. Untuk memahami betapa hebat, terkendali, dan seimbangnya sistem ini, kita hanya perlu mengingat bahwa manusia tidak mampu mengendalikan sumber tenaga nuklir paling sederhana yang didirikannya sendiri. Tak ada ilmuwan, tak peralatan teknologi canggih, yang mampu mencegah kecelakaan nuklir yang terjadi di reaktor Chernobyl di Rusia pada tahun 1986. Dikatakan bahwa efek kecelakaan nuklir ini bertahan hingga 30-40 tahun. Walaupun ilmuwan telah menutup bagian reaktor yang terkontaminasi dengan beton sangat tebal untuk mencegah kerusakan lebih lanjut, belakangan dilaporkan bahwa ada kebocoran pada beton ini.
Jangankan ledakan nuklir, kebocoran nuklir saja sudah sangat berba-haya bagi kehidupan manusia, dan sains tidak berdaya terhadap ancam-an ini.
Di sini, kita berhadapan dengan kekuatan Allah yang mahaluas dan kedaulatan-Nya pada setiap partikel (atom) di alam semesta dan par-tikel-partikel subatomik di dalamnya (proton, netron,). Kekuatan Allah dan kedaulatan-Nya atas segala sesuatu yang diciptakan-Nya dinyata-kan dalam ayat berikut:

“Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Quran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukan-nya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Yunus, 10: 62) !


Efek Bom Atom: Hiroshima dan Nagasaki

Bom atom yang dijatuhkan pada tahun terakhir Perang Dunia ke-2 telah menunjukkan pada seluruh dunia kekuatan dahsyat yang tersim-pan dalam atom. Kedua bom itu menyebabkan ratusan ribu orang kehi-langan jiwa dan menyisakan kerusakan fisik seumur hidup pada orang-orang yang selamat.
Mari kita lihat kekuatan dahsyat dalam atom, yang menyebabkan ke-matian ratusan ribu orang dalam beberapa detik, yang dilepaskan detik per detik:

Pada Momen Ledakan
Mari kita asumsikan bom atom meledak pada ketinggian 2.000 m seperti yang terjadi di Hiroshima dan Nagasaki. Netron-netron yang membombardir uranium dan yang membelah atom pertama menjadi fragmen-fragmen, menghasilkan reaksi berantai di dalamnya seperti yang disebutkan sebelumnya. Dengan kata lain, netron-netron yang ter-lempar keluar dari inti pertama yang pecah menabrak inti lain dan memecahnya pula. Jadi, semua inti terfragmentasi dengan cepat dalam reaksi berantai, dan ledakan terjadi dalam waktu sangat singkat. Netron bergerak begitu cepat sehingga bom melepaskan total energi sebesar 1.000 milyar kilo kalori hanya dalam sepersejuta detik.
Bom segera berubah menjadi gas, dan temperatur gas ini meningkat menjadi beberapa juta derajat dan tekanan gas meningkat menjadi satu juta atmosfer.

Seperseribu Detik Setelah Ledakan
Diameter massa gas yang diledakkan meningkat dan pelbagai radiasi dipancarkan. Radiasi-radiasi ini membentuk “kilatan awal (initial flash)” ledakan. Kilatan ini dapat menyebabkan kebutaan total pada orang-orang yang berada dalam radius puluhan kilometer dari ledakan. Kilatan ini ratusan kali lebih kuat daripada yang dipancarkan dari permukaan matahari (per satuan permukaan). Waktu yang berselang setelah ledakan begitu pendeknya sehingga orang yang berada di dekat lokasi ledakan bahkan belum sempat menutup mata.
Tekanan akibat guncangan ini menyebabkan kerusakan berat di dalam bangunan. Menara-menara pemancar daya, jembatan-jembatan dan gedung-gedung tinggi yang dibangun dari baja-kaca juga rusak. Di sekitar ledakan, sekumpulan besar debu halus membumbung.

Dua Detik Setelah Ledakan
Kumpulan debu yang berkilat dan udara di sekitarnya membentuk bola api. Panas yang dipancarkan bola api ini, yang permukaannya masih sangat panas dan berpendar seperti matahari, bahkan cukup dahsyat untuk menyalakan zat-zat yang mudah terbakar di dalam lingkup daerah berdiameter 4-5 km. Radiasi bola api dapat menyebabkan kerusakan permanen pada indra penglihatan. Pada momen ini, gelombang kejut yang bergerak dengan kecepatan sangat tinggi meluas di sekitar bola api.

Enam Detik Setelah Ledakan
Pada saat ini, gelombang kejut menghantam bumi dan menyebabkan kerusakan mekanik pertama. Gelom-bang ini menciptakan tekanan udara yang sangat tinggi, yang intensitasnya baru menurun setelah jauh dari pusat ledakan. Bahkan sekitar 1,5 km dari titik ini, tekanan tambahan dua kali lebih kuat daripada tekanan atmosfer normal. Kemungkinan orang bertahan hidup pada tekanan ini adalah 1%.
Tiga Belas Detik Setelah Ledakan
Gelombang kejut menyebar sepanjang permu-kaan bumi dan diikuti ledakan yang terjadi karena reposisi udara oleh bola api. Ledakan ini menyebar sepanjang bumi pada kecepatan 300-400 km/jam.
Sementara itu, bola api telah mendingin dan volumenya menurun. Karena lebih ringan dari udara, bola api ini mulai naik. Gerakan ke atas menyebabkan arah angin di bumi berbalik dan menimbulkan angin kencang mulai bertiup ke arah pusat, walaupun sebelumnya bertiup keluar dari pusat ledakan.

Tiga Puluh Detik Setelah Ledakan
Setelah bola api naik, bentuknya yang bulat berubah seperti bentuk jamur.

Dua Menit Setelah Ledakan
Awan berbentuk jamur tadi kini telah mencapai ketinggian 12.000 m. Ini adalah batas terendah lapisan stratosfer. Angin yang bertiup di ketinggian ini menyebabkan awan gelap berbentuk jamur itu menyebar, dan komponennya yang sebagian besar debu radioaktif berhamburan ke dalam atmosfer. Karena debu radioaktif ini berisikan partikel-partikel yang sangat kecil, mereka dapat naik ke lapisan-lapisan atmosfer lebih atas. Sebelum kembali jatuh ke bumi, debu ini mungkin berhasil mengelilingi bumi beberapa kali terbawa angin pada lapisan atmosfer yang lebih tinggi. Jadi, debu radioaktif sisa ledakan ini mungkin telah tersebar di seluruh dunia.


Radiasi yang Dipancarkan Atom

Radiasi terdiri dari sinar gamma, netron, elektron dan partikel-partikel subatomik sejenis, yang bergerak dengan kecepatan tinggi, mencapai 200.000 km/detik. Partikel-partikel ini dapat dengan mudah menembus tubuh manusia dan merusak sel-sel pembentuk tubuh. Kerusakan ini dapat menyebabkan kanker fatal atau bila terjadi pada sel-sel reproduksi, dapat mengakibatkan gangguan genetika yang memengaruhi generasi berikutnya. Jadi, partikel radioaktif yang menembus tubuh manusia berakibat sangat serius.
Radiasi yang dilepaskan dalam ledakan atom mempengaruhi makhluk hidup baik secara langsung maupun melalui produk-produk peluruhan radioaktif yang timbul dalam ledakan.
Ketika satu partikel atau sinar ini mengenai materi dengan kece-patan tinggi, dengan kuat ia menabrak atom atau molekul yang meng-halanginya. Tubrukan ini dapat menyebabkan kerusakan struktur sel. Sel menjadi mati, atau kalaupun pulih, ia bisa tumbuh tanpa terkendali — yaitu kanker — mungkin setelah berminggu-minggu, berbulan-bulan , atau bertahun-tahun kemudian.
Radiasi sangat kuat di daerah dengan radius 500 m dari pusat ledakan. Mereka yang berhasil selamat dari faktor fatal telah kehilangan hampir semua sel-sel darah putih, luka-luka muncul di atas kulit, dan mereka semua meninggal karena pendarahan dalam waktu singkat, sekitar beberapa hari sampai 2-3 minggu kemudian. Efek radiasi bagi orang-orang yang berada lebih jauh dari lokasi ledakan bervariasi. Mereka yang terkena sinar merusak yang dipancarkan bola api dari jarak 13, 16, dan 22 km, berturut-turut menderita luka bakar tingkat pertama, kedua, dan ketiga. Masalah pencernaan dan pendarahan paling sedikit terjadi, na-mun penyakit nyata yang muncul belakangan adalah: rambut rontok, kulit terbakar, anemia, kemandulan, keguguran, melahirkan bayi cacat atau salah bentuk. Dalam kasus ini, kematian sangat mungkin terjadi dalam periode 10 hari hingga 3 bulan. Bahkan bertahun-tahun kemudian, kerusakan mata, leukimia, dan kanker radiasi bisa berkembang. Satu bahaya terbesar dari ledakan bom hidrogen (bom nuklir lain dengan kekuatan dahsyat yang disebabkan fusi inti bermacam-macam isotop hidrogen dalam membentuk inti helium) adalah tembusnya debu radio-aktif ke dalam tubuh, melalui pernafasan, pencernaan, dan kulit. Debu ini menyebabkan masalah-masalah yang disebutkan di atas tergantung dan kadar kontaminasinya.
Semua ini disebabkan oleh atom yang bahkan tidak dapat kita lihat dengan mata kita. Atom-atom dapat membentuk hidup seperti mereka dapat menghancurkannya. Sifat-sifat atom ini jelas menunjukkan kepada kita betapa tak berdayanya kita dan betapa besar kekuatan Allah.

“Dan orang-orang yang kafir berkata: “Hari berbangkit itu tidak akan datang kepada kami,” katakanlah, “Pasti datang, demi Tuhanku yang mengetahui yang gaib, sesungguhnya kiamat itu pasti akan datang kepadamu. Tidak ada tersembunyi daripadanya seberat zarrah pun yang ada di langit dan yang ada di bumi dan tidak ada (pula) yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan tersebut dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). “(QS. Saba’, 34: 3) !

Picture Text

Fisi adalah sebuah reaksi pemisahan inti atom menjadi fragmen-fragmen. Seperti terlihat pada gambar berikut, atom uranium 235 yang ditabrakan dengan sebuah netron menjadi terpisah dan membentuk atom kripton 92 dan barium 142. Dampak dari tabrakan ini yaitu dilepaskannya sinar gamma dalam bentuk energi

Fusi nuklir, kebalikan dari fisi, adalah proses penyatuan dua inti ringan menjadi inti yang lebih berat dan menggunakan energi pengikat yang dilepaskan. Inti di bintang berfusi ketika mereka bertabrakan. Inti baru kemudian terbentuk, dan neutrino, positron, netron dan proton serta partikel subatomik lainnya dilepaskan sebagai energi. Sumber energi yang besar dari bintang-bintang adalah fusi nuklir ini.

Ratusan ribu orang meninggal dalam beberapa detik saja akibat pelepasan kekuatan dahsyat yang tersembunyi dalam inti atom.

Tiga macam reaksi fusi yang tampak pada diagram menghasilkan pelepasan energi dan partikel.

Kecelakaan nuklir yang terjadi di reaktor Chernobyl, Rusia pada tahun 1986 mengakibatkan dampak permanen pada manusia dan semua makhluk hidup. Ilmuwan menyatakan efek ini akan bertahan 30-40 tahun lagi. Langkah-langkah untuk mencegah kebocoran nuklir tidak banyak menolong. Sebuah studi sedang dilakukan untuk menghilangkan dampak radiasi yang berbahaya.

Radiasi bisa menimbulkan kerusakan sangat serius, dengan membentuk ion positif ketika mengenai atom dan menyingkirkan elektron-elektron di kulit terluarnya. Elektron membentuk ion negatif dengan berikatan pada atom netral lain.

Kehidupan hancur total setelah bom dijatuhkan di Hiroshima, dan hanya puing-puing yang tersisa.

Debu radiasi menyebar sangat luas akibat angin kencang yang terbentuk setelah ledakan, dan meninggalkan gambaran seakan segalanya diselimuti lapisan abu.

“Dan orang-orang yang kafir berkata: “Hari berbangkit itu tidak akan datang kepada kami,” katakanlah, “Pasti datang, demi Tuhanku yang mengetahui yang gaib, sesungguhnya kiamat itu pasti akan datang kepadamu. Tidak ada tersembunyi daripadanya seberat zarrah pun yang ada di langit dan yang ada di bumi dan tidak ada (pula) yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan tersebut dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). “(QS. Saba’, 34: 3) !



KESIMPULAN


Dengan tubuh tersusun atas atom-atom, Anda menghirup atom di udara, memakan atom dalam makanan dan meminum atom dalam air. Yang Anda lihat tidak lain adalah tabrakan elektron atom di mata Anda dengan foton. Dan bagaimana yang Anda rasakan dengan sentuhan? Sensasi itu dibentuk oleh atom-atom kulit Anda yang menolak atom-atom objek.
Memang, dewasa ini hampir setiap orang tahu bahwa tubuhnya, alam semesta, dunia, pendeknya, segala sesuatu, terdiri atas atom. Tetapi, barangkali sebagian besar orang sejauh ini tidak pernah memikirkan sistem macam apa yang dimiliki entitas yang kita sebut atom itu. Atau kalaupun mereka berpikir, mereka tidak merasakan kebutuhan untuk menyelidikinya, karena mereka selalu menganggap itu tugas ahli fisika saja.
Akan tetapi, manusia terkait dalam sistem yang sempurna ini sepanjang hidupnya. Sistem ini sedemikian rupa sehingga setiap atom dari trilyunan atom yang membentuk kursi yang kita duduki memiliki susunan yang jika diuraikan perlu satu buku tersendiri. Diperlukan banyak halaman untuk menyampaikan informasi, sistem dan kekuatan sebuah atom saja. Dengan kemajuan teknologi dan peningkatan ilmu pengetahuan kita mengenai alam semesta, buku ini akan semakin tebal.
Lalu, bagaimana susunan ini terbentuk? Tidak mungkin partikel-partikel yang tersebar setelah Big Bang membentuk atom dengan keputusan tiba-tiba, dan kemudian lingkungan kondusif terbentuk secara kebetulan, dan atom-atom ini lalu berubah menjadi materi. Jelas mustahil menjelaskan sistem seperti ini sebagai suatu kebetulan. Segala sesuatu yang Anda lihat di sekitar Anda, dan bahkan udara yang tidak dapat Anda lihat terdiri dari atom-atom, dan terdapat lalulintas yang sangat kompleks di antara atom-atom ini.
Jadi, siapa yang dapat mengatur lalulintas atom-atom? Andakah? Bila Anda mengira bahwa tubuh Anda terdiri dari atom-atom saja, maka atom mana yang mengatur apa? Apakah atom-atom otak Anda, yang tidak berbeda dengan atom-atom lain, mengontrol atom lainnya? Bila kita menganggap atom-atom di kepala adalah pengatur, maka kita harus bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini:
l Bila semua atom yang membentuk otak adalah pengatur, bagai-mana dan berdasarkan apa mereka mengambil keputusan? Bagaimana trilyunan atom otak bekerja sama?
l Mengapa tidak ada satu pun atom dari trilyunan atom ini yang menentang keputusan yang diambil?
l Bagaimana atom-atom ini berkomunikasi satu sama lain?
Mengingat pertanyaan-pertanyaan di atas, jelas sebuah deduksi yang sangat tidak logis untuk mengatakan bahwa trilyunan atom yang membentuk otak seluruhnya adalah pengatur.
Jadi, bukankah tepat bila kita berpikir bahwa hanya satu dari trilyun-an atom ini yang menjadi pengatur dan yang lain adalah pengikutnya? Bila kita percaya bahwa satu atom menjadi pengatur maka pertanyaan yang akan muncul adalah:
l Atom mana yang menjadi pengatur? Siapa yang memilih atom ini?
l Di bagian otak mana atom ini berada?
l Apa perbedaan atom ini dengan atom lainnya?
l Mengapa atom lain mematuhi atom ini tanpa syarat?
Sebelum menjawab pertanyaan ini, ada satu hal lagi yang perlu di-nyatakan: satu atom pengatur tersebut juga terbuat dari partikel-partikel lain. Mengapa dan dengan motif apa partikel-partikel ini bergabung membentuk atom pengatur? Siapa yang mengontrol partikel-partikel ini? Karena ada kehendak lain yang mengarahkan partikel-partikel ini, layakkah mempertahankan keyakinan tentang atom tunggal di otak yang menjadi pengatur?

Sampai di sini, tak terelakkan lagi bahwa pernyataan itu tidak berlaku. Bagaimana atom yang tak terhitung jumlahnya di alam semesta meneruskan eksistensinya dengan penuh keharmonisan, padahal orang, binatang, tumbuhan, tanah, udara, air, benda, planet, ruang angkasa, dan lain-lainnya terbuat dari atom? Atom mana yang dapat menjadi pengatur, padahal atom itu sendiri terbuat dari banyak subpartikel? Menyatakan pendapat seperti itu atau menganggap segala sesuatu terjadi begitu saja, dan mengingkari keberadaan Allah yang menciptakan seluruh dunia, hanyalah “mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya.“ (QS. An-Naml , 27: 14).

Coba pikirkan: manusia, yang terbuat dari susunan atom dengan aneka kombinasi, dilahirkan, diberi makan dengan atom-atom, dan tumbuh besar dengan atom-atom. Kemudian dia membaca buku-buku yang terbuat dari atom dalam sebuah gedung yang terbuat dari atom pula. Kemudian, dia menerima ijazah yang terdiri dari atom-atom yang menyatakan “Sarjana Teknik Nuklir”. Namun, dia masih bisa maju dan menyampaikan pidato seperti ini: “ Atom-atom ini bergabung dengan spontan, dan sis-tem yang begitu hebat di dalamnya terbentuk secara kebetulan.” Jika memang demikian, dari mana dia mendapatkan kesadaran, ke-inginan dan kecerdasan untuk memberikan pidato ini?
Dalam hampir setiap halaman buku ini, ki-ta berulang-ulang melihat bahwa sangat tidak mungkin bagi atom yang membangun benda-benda hidup atau mati di alam semesta untuk terbentuk secara kebetulan. Apa yang akan kita katakan kepada mereka, yang sudah mendengar penjelasan ini, namun tetap berpikir bahwa fenomena ini menjadi ada secara “kebetulam” atau terbentuk sampai seperti sekarang ini karena mekanisme “coba-coba”, tidak akan berbeda dengan apa yang dikatakan oleh Nabi Ibrahim (Alaihis Salam) kepada orang-orang yang ingkar:

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan, ‘Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan,’ orang itu ber-kata: ‘Saya dapat menghidupkan dan mematikan’ Ibrahim berkata ‘Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbit-kanlah dia dari barat,”’lalu heran terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al Baqarah, 2: 258) !

“Maka bagi Allah-lah segala puji, Tuhan langit dan Tuhan bumi, Tuhan semesta alam
Dan bagi-Nyalah keagungan di langit dan di bumi, Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS. Al Jaatsiyah, 45: 36-37)



"Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui
selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami;
sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui
lagi Mahabijaksana."
(QS. Al Baqarah, 2: 32) !